Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan: Menyatukan Spiritualitas dan Rasionalitas

Avatar photo
294
×

Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan: Menyatukan Spiritualitas dan Rasionalitas

Share this article
Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan: Menyatukan Spiritualitas dan Rasionalitas
Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan: Menyatukan Spiritualitas dan Rasionalitas

Ketika berbicara Al-Qur’an sebagai wahyu yang terakhir diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW., maka kita sebagai umat Islam meyakini kesempurnaan dari kitab Al-Qur’an itu sendiri. Al-Qur’an menjelaskan jati dirinya sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, sekaligus pembeda antara kebenaran dan kebatilan.

Demikian juga ketika kita membaca ayat pertama yang diturunkan oleh Allah SWT. yang berbunyi:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ۝١ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ ۝٢ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ ۝٣ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ۝٤

Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia. yang mengajar (manusia) dengan pena.” (QS. Al-Alaq [1-4]: 96).

Tanpa disadari, kita temukan di sini membaca dua kali kata iqra’. Membaca artinya meneliti, menghayati serta mencari tahu isi dan kandungan daripada Al-Qur’an merupakan ayat-ayat yang di dalamnya terdapat isyarat ilmu pengetahuan.

Memang Al-Qur’an bukanlah kitab ilmu pengetahuan. Karena ilmu pengetahuan selalu didasari oleh teori-teori (nazariat) dan eksperimen-eksperimen (at-tajarub al-ilmiyah). Teori dan eksperimen ini terus dan menerus berkembang sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan.

Itu sebabnya, kalau dikatakan Al-Qur’an adalah kitab ilmu pengetahuan, maka berarti Al-Qur’an senantiasa berubah mengikuti perkembangan zaman. Karena itu, Al-Qur’an tidaklah hadis, melainkan Al-Qur’an qadim. “Kalamun qadimun la yumallu samauhu, Kalamullah al-azali, An-nafsi al-azali”. Itulah Al-Qur’an.

Sekali lagi, yang benar, Al-Qur’an adalah sebagai sumber ilmu pengetahuan. Artinya, ilmu pengetahuan apapun sejak dulu sampai sekarang dan akan datang dengan segala perkembangannya, isyarat ilmiahnya bisa ditemukan di dalam Al-Qur’an.

Memang jumlah ayatnya terbatas, hanya 6.236 ayat. Huruf-hurufnya pun terbatas. Menurut Syekh Nawawi Al-bantani, hurufnya hanya berjumlah 315.980 huruf. Ketika huruf itu bertemu dengan yang lainnya, maka sering kita sebut dengan kosa kata. Kosa kata Al-Qur’an hanya berjumlah 77.934 kosa kata, serta terdiri dari 114 surat dan 30 juz.

Karena itu, jika kita lihat jumlah dan bilangan yang disebutkan di sini, dengan banyaknya umat manusia di muka bumi ini, sejak dari manusia pertama diciptakan sampai dengan manusia yang terakhir nanti, banyak sekali problema-problematika kehidupan.

Apakah misalnya yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan ataukah berkaitan dengan hal-hal yang lainnya? Maka, sebagai umat Islam, diyakini, bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat isyarat untuk menyelesaikan problematika kehidupan itu.

Sering kita membaca ayat 38 dari surah Al-An’am. Allah SWT. berfirman,

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا طٰۤىِٕرٍ يَّطِيْرُ بِجَنَاحَيْهِ اِلَّآ اُمَمٌ اَمْثَالُكُمْۗ مَا فَرَّطْنَا فِى الْكِتٰبِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ يُحْشَرُوْنَ ۝٣٨

Artinya: “Tidak ada seekor hewan pun (yang berada) di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam kitab, kemudian kepada Tuhannya mereka dikumpulkan.” (QS. Al-An’am [6]: 38).

Para ulama mengatakan yang dimaksud dengan sesuatu itu adalah menyangkut hal kecil, besar, dahulu, sekarang, dan akan datang semuanya ada di dalam Al-Qur’an.

Tanpa disadari, ini adalah isyarat-isyarat yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang akan memberikan kepada kita kemampuan secara rasional. Rasionalitas umat manusia, apapun yang muncul, maka itu adalah bagian daripada ilmu Allah SWT.

Al-Qur’an sumber ilmu pengetahuan

Syahdan. Ilmu pengetahuan yang dari dulu sampai sekarang terus berkembang. Apapun jenis ilmu pengetahuannya, maka isyaratnya kita temukan di dalam Al-Qur’an.

Ada yang bertanya, “Apakah ilmu laser juga bisa kita temukan di dalam Al-Qur’an?” Jawabnya, “iya”. Allah SWT. hanya memberi isyarat ilmu laser dengan segala perkembangannya dengan satu kata saja yaitu, “Nurun ala nur”. Itulah ilmu laser dengan segala perkembangannya.

Di dalam Al-Qur’an juga sering kita sebut dengan susuan. Adanya ikatan daripada persaudaraan itu karena susuan yang disebut dengan rada’ah. Rada’ah adalah persusuan karena susuan. Dan susu itu pada dasarnya adalah putih warnanya. Tetapi sebetulnya susu ibu itu adalah darah. Karena darah itulah yang menghubungkan.

Tak berhenti di sini, Al-Qur’an terus menantang berbagai disiplin ilmu yang muncul dan berkembang sekarang ini. Bahwa di dalamnya ada isyarat-isyarat tentang ilmu pengetahuan itu.

Imam Syafi’i ketika menuliskan buku “Ar-Risalah” di dalam fakrah-nya yang ke-55 memberikan isyarat tentang itu. Katanya, “Falaisat tanzilu manzilah biahadin min ahli dinillah illa wafi kitabillah asabilu alal huda fiha”, bahwa semua peristiwa yang muncul dan menjadi problema ketika kehidupan manusia, solusinya, isyarat dan jalan keluarnya dipastikan ada di dalam Al-Qur’an.

Pentingnya ilmu pengetahuan

Ilmu disebut di dalam Al-Qur’an sebanyak 584 kali. Jumlah yang sangat luar biasa serta menunjukkan betapa pentingnya ilmu pengetahuan. Karena dengan ilmu pengetahuan, maka manusia bisa mengerti dan mengetahui siapa yang memberikan ilmu pengetahuan itu.

Tak mengherankan jika orang yang menuntut ilmu pengetahuan diberi jaminan, apabila dia sudah mengetahui suatu disiplin ilmu pengetahuan, kemudian mengajarkan apa yang telah dia dapatkan kepada orang lain.

Di dalam sebuah hadits dijelaskan, “Siapa yang pernah mengajarkan ilmu pengetahuan dari apa yang dia dapatkan, maka Allah SWT. akan memberikan warisan menghadiahkan kepadanya ilmu yang tidak dia ketahui.”

Dengan mengajarkan ilmu, maka ilmu itu akan terus berkembang, selain orang yang mempunyai ilmu pengetahuan juga mendapatkan posisi yang sangat terhormat di sisi Allah SWT. Ayat 11 surah Al-Mujadilah yang sering kita baca berbunyi:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ ۝١١

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah [58] 11).

Orang yang mempunyai ilmu pengetahuan adalah orang yang berada pada posisi setelah para nabi. Setelah para nabi adalah para ulama. Barulah setelah itu disebutkan yang mulia yaitu penghafal Al-Qur’an.

Di dalam hadis Nabi dikatakan, “Sesungguhnya hamba Allah yang paling mulia di muka bumi ini setelah para nabi-nabi adalah ulama dan setelah itu barulah penghafal Al-Qur’anul Karim.”

Lalu apa yang ia dapatkan? Apa yang diperoleh oleh mereka-mereka yang disebutkan di dalam hadits ini? Nabi di dalam hadits ini menyebutkan ada tiga perkara yang diperoleh oleh tiga kelompok manusia ini.

Pertama, mereka akan meninggalkan dunia yang fana ini. Ketika pergi dari dunia, Allah SWT. akan menyamakannya dengan para nabi-nabi. Para ulama mengatakan inilah jaminan husnul khatimah kepada para nabi, para ulama dan penghfal Al-Qur’an.

Kedua, ketika kelak dia nanti dibangkitkan, maka kebangkitannya sudah bersama para nabi-nabi. Ketiga, ketika menyeberangi jembatan siratal mustaqim, mereka juga bersama para nabi-nabi. Tentu saja, ini sebagai isyarat bahwa mereka akan mendapatkan keselamatan di dalam penyeberangan itu.

Ini sebagaimana dijelaskan di dalam hadits Nabi, “Di samping mereka juga mendapatkan pahalanya para nabi-nabi, maka ilmu pengetahuan di samping mendidik kita untuk mengembangkan rasionalitas kita, di situ juga ada pesan spiritualitas yang tidak bisa kita tinggalkan.” Wallahu a’lam bisshawab.

Kontributor

  • Salman Akif Faylasuf

    Sempat nyantri di PP Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo. Sekarang nyantri di PP Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.