Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Empat Model Interaksi dari Sirah Nabawiyyah

Avatar photo
389
×

Empat Model Interaksi dari Sirah Nabawiyyah

Share this article
Empat Model Interaksi dari Sirah Nabawiyyah
Empat Model Interaksi dari Sirah Nabawiyyah

(Resume muhadharah Syekh Ali Jumah yang berjudul: التأصيل العلمي للنماذج الأربعة للتعايش )

Sirah Rasulullah Saw semestinya dilihat sebagai satu kesatuan ; tidak terpisah-pisah dan tidak diambil bagian akhirnya saja (آخر الأمرين) karena setiap fase yang Nabi Saw lalui bisa menjadi model bagi umat Islam sepanjang sejarah dalam menghadapi berbagai kondisi dan situasi.

Model Pertama: Fase Mekah

Pada fase ini umat Islam dalam keadaan tertindas (المستضعفون). Karena itu Rasulullah Saw tidak melakukan apapun upaya konfrontasi. Bahkan, beliau shalat di sekitar Ka’bah padahal ada lebih kurang 360 patung dan berhala tersebar di sana. Boleh jadi ketika Nabi Saw sujud, di depannya ada patung atau berhala. Tapi hal itu tidak menjadi masalah karena yang disembahnya adalah Allah Swt meskipun secara lahir arahnya ke patung.

Ketika Ammar mengadu bahwa ia terpaksa menyebut Nabi Saw dengan label mudzammam (tercela) karena dipaksa oleh kafir Quraisy, Nabi Saw menenangkannya: “Kalau mereka kembali memaksamu maka katakan saja hal itu.” Selama hatinya tenang dengan keimanan.

Fase ini bisa menjadi model bagi kaum muslimin yang hidup di berbagai Negara dalam keadaan tertindas seperti muslimin di Rusia, China, Myanmar dan sebagainya.

Model Kedua: Habasyah

Ketika siksaan Quraisy semakin menjadi-jadi terhadap kaum muslimin, Nabi Saw mengizinkan para sahabat untuk hijrah ke Habasyah. Habasyah adalah negara yang menghargai Islam meskipun ia bukan negara Islam. Raja Najasyi menerima dengan lapang dada kedatangan kaum muslimin yang dipimpin oleh Ja’far bin Abu Thalib ra.

Saat itu terjadi perebutan kekuasaan antara Najasyi dan sepupunya. Ja’far menawarkan diri untuk membantu Najasyi yang telah menerima mereka dengan baik. Tapi Najasyi menolak. Ia tak mau ada pasukan ‘asing’ yang bergabung dalam pasukannya. Atau ia tak ingin membebani kaum muslimin yang datang ke negaranya sebagai tamu.

Akhirnya Najasyi memenangkan peperangan melawan sepupunya. Kaum muslimin ikut bergembira dengan kemenangan itu meskipun peperangan terjadi antara Nasrani melawan Nasrani. Setelah itu Najasyi menerima keinginan Ja’far untuk bergabung dalam pasukannya.

Model ini bisa menjadi rujukan bagi kaum muslimin yang hidup di negara yang bukan Islam tapi menerima kehadiran Islam dan bahkan memberikan fasilitas kepada kaum muslimin. Tak ada larangan seorang muslim bergabung dalam militer negara itu seperti yang dicontohkan Ja’far ra. Tak ada larangan ia bergembira dengan kemenangan yang diperoleh negara itu melawan musuh-musuhnya kecuali jika perang itu terhadap kaum muslimin.

Model Ketiga : Fase Pertama Madinah

Ketika Rasulullah Saw hijrah ke Madinah, beliau mendapati masyarakat yang sangat heterogen. Ada Yahudi, Nasrani, Musyrikin, Munafikin, Muslim dan lain-lain. Disini Nabi Saw membuat apa yang disebut sebagai Watsiqah (Piagam) Madinah.

Model ini bisa menjadi rujukan bagi muslim yang hidup di negara yang majemuk seperti Mesir, Malaysia dan lain-lain. Model ini bisa disebut sebagai Nasionalisme (دولة وطنية).

Model Keempat: Fase Kedua Madinah

Setelah Yahudi diusir dari Madinah karena pengkhianatan mereka sendiri dan yang tersisa hanyalah muslimin maka diterapkan syariat secara paripurna. Masyarakat shalat lima waktu di masjid. Toko dan kedai ditinggal aman. Tak ada yang mencuri. Model ini yang berlaku di Arab Saudi saat ini.

Dalam sesi dialog, salah seorang peserta dari Malaysia bertanya, “Bagaimana cara menyatukan umat Islam saat ini?”

Syekh Ali menjawab, “Umat Islam itu bersatu. Kiblat kita sama. Nabi kita sama. Kitab kita sama. Bulan puasa kita sama. Perjalanan haji sama.

Tak perlu ada paradigma ‘upaya menyatukan umat Islam’. Adapun yang terjadi saat ini adalah perbedaan pendapat yang tak keluar dari bingkai Islam bagaimanapun tajamnya.

Imam Abul Hasan al-Asy’ari menulis sebuah kitab berjudul: مقالات الإسلاميين واختلاف المصلين . Artinya shalat menyatukan kita meskipun ada perbedaan dalam furu’-furu’-nya.

Kita sebagai ahlus sunnah misalnya. Antara kita dengan Syi’ah terdapat perbedaan yang sangat mencolok. Tapi walau demikian, mereka tetap min ahli al-qiblah.”

والله تعالى أعلم وأحكم

Kontributor

  • Yendri Junaidi

    Bernama lengkap Yendri Junaidi, Lc., MA. Pernah mengenyam pendidikan di Perguruan Thawalib Padang Panjang, kemudian meraih sarjana dan magister di Universitas Al-Azhar Mesir. Sekarang aktif sebagai Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Diniyyah Puteri Padang Panjang.