Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Gus Ulil Ngaji Al-Iqtishad Fi Al-I’tiqad: Konsekuensi Jika Mengkafirkan Kelompok

Avatar photo
251
×

Gus Ulil Ngaji Al-Iqtishad Fi Al-I’tiqad: Konsekuensi Jika Mengkafirkan Kelompok

Share this article
Sebaiknya, jika ada jalan untuk tidak mengkafirkan, maka carilah jalan sebaik mungkin.
Sebaiknya, jika ada jalan untuk tidak mengkafirkan, maka carilah jalan sebaik mungkin.

Sudah pasti bahwa mengkafirkan seseorang atau kelompok tertentu tidak boleh. Jika mengatakan, “Sesungguhnya golongan ini kafir?” Tentu saja istilah ini harus diperjelas agar tidak menimbulkan kontroversi.

Itu artinya, kata Gus Ulil, jika kita sudah mengatakan bahwa kelompok si A, misalnya, kafir, maka secara tidak langsung, pertama, kita mengabarkan bahwa mereka di akhirat kelak akan mendapatkan siksa, darahnya halal untuk dialirkan, serta yang membunuh tidak bisa diberikan sanksi (qisas).

Tak hanya darahnya halal, ia juga tidak bisa menikahi orang-orang Muslim dan tidak mempunyai perlindungan apa pun bagi mereka, kecuali kafir dhimmi (tidak memerangi orang Islam).

Kedua, mengabarkan bahwa mereka mempunyai itikad yang salah dan perkataan bohong. Pertanyaannya adalah bagaimana cara mengetahui itikad yang salah? Jawabannya bisa dinalar dengan akal.

Misalnya, pandangan ketuhanan dan lainnya. Namun, apakah akidah tertentu bisa menyebabkan seseorang menjadi kafir atau tidak, itu bukanlah wilayah akal. Jelasnya, wilayah akal hanya terbatas pada analisis.

Dengan kata lain, bisa saja agama mengatakan bahwa orang yang berakidah keliru masuk surga, abadi, harta dan darahnya dilindungi. Bisa aja Tuhan membuat hukum yang berbeda dari hukum biasanya, seperti agama yang bisa membawa ajaran bahwa yang kafir masuk surga dan sebaliknya. Jelasnya, masalah kafir dan tidak itu hanyalah urusan Tuhan.

Kata Gus Ulil, kita tidak bisa mengatakan bahwa si A beragama ini, maka kafir dan akan masuk neraka. Karena si B selalu berkelakuan baik dan beragama, dia akan masuk surga. Artinya, kita hanya bisa mengatakan bahwa si A beragama ini dan kafir, maka harus ada dalil agamanya.

Namun demikian, agama tidak akan pernah mengatakan bahwa kebohongan adalah kebenaran dan kebodohan dianggap kepintaran. Ini adalah akidah Asy’ariyah. Anda boleh saja tidak setuju seperti orang-orang Muktazilah.

Muktazilah mengatakan tidak mungkin orang yang suka berbohong, apalagi kafir, akan masuk surga. Berbeda dengan Asy’ariyah, persoalan orang berbohong dan berbuat kejahatan semuanya terserah kepada Tuhan. Apakah mereka mau dihukum atau tidak?

Dengan kata lain, kata Gus Ulil, orang yang selalu berbuat baik tidak mengharuskan Tuhan untuk memberi ganjaran kepadanya. Sebagaimana orang jahat juga tidak mengharuskan Tuhan untuk memberikan siksaan di akhirat kelak. Sebab hukuman dan balasan itu bagi Tuhan, sifatnya sesuai dengan kehendak-Nya.

Kenapa Asy’ariyah mengatakan seperti ini? Karena Tuhan maha berkehendak mutlak (iradah mutlak). Jangan Anda bayangkan Tuhan bertindak seperti mesin mekanik yang tidak memiliki ruang untuk pilihan. Misalnya, jika 1+1, maka jawabannya 2 dan seterusnya. Jika demikian lalu di mana letak iradah Tuhan?

Inilah yang disebut dengan akidah voluntarisme, kata Gus Ulil.  Salah satu pandangan teologis menekankan bahwa kehendak Tuhan adalah faktor utama dan tertinggi yang mendominasi akal manusia dalam menentukan apa yang baik, buruk, wajib, atau terlarang.

Pertayaannya adalah apakah orang yang mengikuti akidah tertentu dianggap kafir atau tidak? Dengan mengucapkan kalimat sahadat, apakah seorang anak kecil disebut Muslim atau kafir? Maka yang bisa memutuskan hanya agama, bukan akal. Ucapan sahadat yang diucapkan anak kecil ini adalah kebenaran dan pendapat bahwa ucapan itu diucapkan hanya demi melindungi darah dan hartanya.

Demikian juga, wilayah agama menghukumi merdeka atau budak. Tentunya, jika dikatakan sebagai budak, maka ia tidak bisa menjadi saksi dalam putusan hukum dan wali nikah. Jika seorang majikan membunuh budaknya, maka majikannya tidak bisa dihukumi dengan hukum qisas. Ini berbeda dengan orang merdeka yang membunuh orang merdeka.

Syahdan. Bagaimana jika ada yang menganggap ajaran Nabi adalah suatu kebohongan? Kata Gus Ulil, jika ada orang yang seperti ini, maka levelnya sudah kafir, dan kafir ini bertingkat-tingkat.

Pertama, orang-orang Yahudi, Nasrani, Majusi, dan para penyembah berhala-berhala, serta selain mereka, maka mereka semua adalah kafir yang dijelaskan secara jelas kepada umat lewat Al-Qur’an.

Kedua, kelompok barahimah. Adalah orang-orang yang tidak percaya adanya Nabi serta orang ateis yang mengingkari penciptaan. Kelompok ini lebih kafir daripada tingkatan pertama. Termasuk level ini adalah kelompok Dahriyah, yaitu kelompok yang tidak percaya kepada Nabi serta Tuhan yang mengutus Nabi. sebagai hasilnya, kelompok ini mengingkari kenabian Nabi Muhammad SAW. secara khusus.

Ketiga, kelompok yang mempercayai kenabian. Jadi, ada Tuhan yang mengutus Nabi serta membenarkan ajarannya, namun mereka lemah dalam menerima kebenaran karena dianggap sebagai kebenaran simbolik (perlambang).

Mereka adalah kelompok filsuf (filsafat). Bagi mereka, ajaran Nabi benar karena mengajarkan keteraturan, akan tetapi isi ajarannya dianggap bohong (karena metafora, tidak empiris. Misalnya, tentang kebangkitan setelah mati). Wallahu a’lam bisshawab.

 

Kontributor

  • Salman Akif Faylasuf

    Sempat nyantri di PP Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo. Sekarang nyantri di PP Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.