Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Laba’ dan ASI

Avatar photo
379
×

Laba’ dan ASI

Share this article
Laba’ dan ASI
Laba’ dan ASI
Salah satu hak dasar setiap anak adalah mendapatkan perawatan yang layak agar dapat tumbuh-kembang dengan baik, diantaranya dengan memberinya ASI yang berkualitas dari ibu kandung. Firman Allah Swt. dalam QS. Al Baqarah/2: 233:

والوالدات يرضعن أولادهن حولين كاملين لمن أراد أن يتم الرضاعة

“Ibu-ibu menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.”
Ibn Ḥazm atas ayat ini berpedapat, “Yang wajib bagi perempuan merdeka dan amat—baik ia dalam perlindungan suami, dalam kepemilikan sayyid, maupun terbebas dari dua hal itu; baik anak yang lahir dapat dinasabkan kepada lelaki yang membuahinya maupun tidak—adalah menyusui anaknya, baik ia menyukainya atau tidak, walaupun dia adalah putri seorang khalifah.” [ Al Muḥallā, jilid 10, hal. 165.]

Mazhab Hanafi menyampaikan bahwa ibu wajib memberi ASI kepada anaknya sebagai kewajiban agama, namun jika ia tidak melaksanakannya maka hakim tidak boleh memaksanya. Ini yang disebut dalam fikih Hanafi sebagai “wājibun dīnan lā ḥukman.” Meski begitu, jika anak tidak menemukan pengganti dari ASI ibunya, maka statusnya berubah menjadi “wājibun ḥukman selain wājibun dīnan.” [Ibn al Hammām, Syarḥ Fatḥ al Qadīr ‘alā al Hidāyah, jilid 4, hal. 412; Ibn ‘Ābidīn al Ḥanafiyy, Radd al Muḥtār, jilid 2, hal. 422]

Mazhab Maliki mengatakan bahwa ibu wajib menyusui anaknya dan ia harus dipaksa jika tidak melaksakannya, kecuali perempuan dengan status sosial tinggi yang secara sosial dipandang tidak layak untuk menyusui. Dalam hal ini, suami wajib mencarikan penggantinya kecuali jika anak tidak mau menyusui selain ASI ibunya, maka ia wajib menyusuinya. [Abū Sa’īd al Barāża’iyy, At Tahżīb fī Ikhtiṣar al Mudawwanah, juz 2, hal. 452; Nūruddin ‘Alī bin Khalaf, Syarḥ Kifāyah aṭ Ṭālib ar Rabbāniyy, jilid 2, hal. 128.

Perempuan yang seperti ini tampaknya sudah tidak ada lagi. Konstruksi sosial sekarang rasanya tidak menyediakan lagi status di mana seorang perempuan tidak pantas menyusui.

Mazhab Syafi’i mengatakan bahwa bayi punya hak untuk medapatkan ASI, akan tetapi kewajiban memberinya ASI dibebankan kepada ayah. Ibu tidak wajib memberinya ASI, dan jika ini terjadi maka ayah wajib mencarikan penggantinya. Jika pengganti dirasa sulit, maka ibu wajib memberinya ASI karena ini adalah hak anak yang harus dipenuhi. Namun demikian, dalam fikih Syafi’iyah ada penjelasan mengenai “laba’”. Laba’ adalah ASI yang keluar untuk kali pertama setelah kelahiran. Ia keluar hanya beberasa saat, sebagian menyebut hingga tiga hari, sebuah pendapat lain menyebut hingga tujuh hari, dan lainnya lagi menyerahkannya kepada ahlinya. Ibu wajib memberinya laba’ karena secara umum tanpanya bayi sulit bertahan hidup. [Al Bājūriyy, Ḥāsyiyah al Bājūriyy ‘alā Fatḥ al Qarīb, jilid 3, hal. 636—637; Al Khaṭīb asy Syarbīniyy, Al Iqnā’ fī Ḥalli Alfāẓi Abī Syujā’, jilid 2, hal. 482.

Laba’ dikenal dengan nama kolostrum, yaitu ASI pertama yang keluar sejak hari pertama hingga sekitar hari ke-3 (kadang sampai hari ke-5) setelah persalinan. Ciri-cirinya, ia berwarna kuning keemasan atau agak bening, teksturnya kental dan lengket. Jumlahnya sedikit, tapi sangat cukup untuk bayi baru lahir. Lambung bayi baru lahir masih sangat kecil (± sebesar kelereng), sehingga kolostrum sudah sesuai dengan kebutuhannya. Kolostrum tidak boleh dibuang, selain karena nilai pentingnya bagi bayi, juga karena semakin sering bayi disusui sejak dini (IMD) maka semakin cepat ASI berikutnya (ASI transisi lalu ASI matur) keluar.

Kolostrum mengandung antibodi (IgA) tinggi sehingga mampu melindungi bayi dari infeksi. Kolostrum juga membantu pematangan usus bayi, membantu bayi mengeluarkan mekonium (feses pertama), dan berfungsi mengurangi risiko diare, infeksi, dan alergi. [Silahkan dicek kembali melalui sumber-sumber yang terpercaya.]

Dengan merujuk kepada penjelasan di atas, IMD, yakni Inisiasi Menyusui Dini, menjadi penting. Bahkan dengan merujuk penjelasan-penjelasan fikih di atas, hukum IMD adalah wajib, karena ia adalah sarana untuk memberi bayi laba’ atau kolostrum dan ASI pada fase selanjutnya. Ayah dan ibu wajib bekerjasama dalam pemenuhan hak anak ini.

Mazhab Hambali memiliki kemiripan dengan mazhab Syafiiyyah, bahwa kewajiban memberi ASI kepada anak dibebankan kepada ayah. Ibu tidak wajib memberinya ASI kecuali anak kesulitan menemukan ASI lain. Namun begitu, di tengah-tengah mazhab Hambali juga terdapat pendapat yang mengatakan kewajiban ibu memberi ASI selama ia masih dalam ikatan nikah dengan suaminya. [Manṣūr bin Yūnus al Buhūtiyy, Syarḥ Muntaha al Irādāt, jilid 3, hal. 243; ‘Alāuddīn al Mardāwiyy, al Inṣāf fī Ma’rifat ar Rājiḥ min al Khilāf, jilid 9, hal. 300.

Dari penjelasan di atas, tampaknya yang paling kuat adalah keharusan ayah dan ibu untuk berusaha memberikan ASI kepada anak-anaknya. Kerjasama antara keduanya sangat membantu kualitas hormon ibu. Semoga kita semua dimudahkan oleh Allah Swt. dalam menjalankan amanah sebagai orang tua terhadap putra-putrinya. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin ..
Wallahu a’lam.

النصوص:
المحلى: مَسْأَلَةٌ: وَالْوَاجِبُ عَلَى كُلِّ وَالِدَةٍ—حُرَّةً كَانَتْ أَوْ أَمَةً، فِي عِصْمَةِ زَوْجٍ أَوْ فِي مِلْكِ سَيِّدٍ، أَوْ كَانَتْ خُلُوًّا مِنْهُمَا، ‌لَحِقَ ‌وَلَدُهَا بِاَلَّذِي تَوَلَّدَ مِنْ مَائِهِ أَوْ لَمْ يَلْحَقْ—أَنْ تُرْضِعَ وَلَدَهَا, أَحَبَّتْ أَمْ كَرِهَتْ، وَلَوْ أَنَّهَا بِنْتُ الْخَلِيفَةِ. وَتُجْبَرُ عَلَى ذَلِكَ إلَّا أَنْ تَكُونَ مُطَلَّقَةً، فَإِنْ كَانَتْ مُطَلَّقَةً لَمْ تُجْبَرْ عَلَى إرْضَاعِ وَلَدِهَا مِنْ الَّذِي طَلَّقَهَا إلَّا أَنْ تَشَاءَ هِيَ ذَلِكَ، فَلَهَا ذَلِكَ، أَحَبَّ أَبُوهُ أَمْ كَرِهَ، أَحَبَّ الَّذِي تَزَوَّجَهَا بَعْدَهُ أَمْ كَرِهَ. فَإِنْ تَعَاسَرَتْ هِيَ وَأَبُو الرَّضِيعِ أُمِرَ الْوَالِدُ بِأَنْ يَسْتَرْضِعَ لِوَلَدِهِ امْرَأَةً أُخْرَى وَلَا بُدَّ، إلَّا أَنْ لَا يَقْبَلَ الْوَلَدُ غَيْرَ ثَدْيِهَا، فَتُجْبَرُ حِينَئِذٍ، أَحَبَّتْ أَمْ كَرِهَتْ، أَحَبَّ زَوْجُهَا إنْ كَانَ لَهَا أَمْ كَرِه.

فتح القدير شرح الهداية: (قوله وليس على الأم أن ترضعه) يعني في الحكم إذا امتنعت وإن كانت ‌الزوجية ‌قائمة .. (قوله وهذا الذي ذكرنا بيان الحكم) أي عدم الجبر بيان الحكم قضاء، بمعنى أنها إذا امتنعت لا يجبرها القاضي عليه، وهو واجب عليها ديانة .. ولا يجبرها القاضي عليه إذا امتنعت. اهـ

رد المحتار: وَالْإِرْضَاعُ وَاجِبٌ عَلَيْهَا دِيَانَةً كَمَا فِي الْفَتْحِ، أَيْ عِنْدَ ‌عَدَمِ ‌تَعَيُّنِهَا، وَإِلَّا وَجَبَ قَضَاءً أَيْضًا كَمَا مَرَّ.

التهذيب في اختصار المدونة: وتجبر ‌ذات ‌الزوج ‌على إرضاع ولدها بلا أجر، إلا أن تكون ممن لا ترضع لشرفها فذلك على الزوج وإن كان لها لبن. ولو مرضت التي مثلها ترضع، أو انقطع درها فالرضاع على الزوج.
شرح كفاية الطالب الرباني: (والمرأة ترضع) أي يجب عليها أن ترضع (ولدها) إذا كانت (في العصمة) أي عصمة أبيه، أو كانت مطلقة طلاقا رجعيا وهي في العدة. وليس لها أجر في نظير ذلك لأن عرف المسلمين على توالي الأعصار في سائر الأمصار جار على أن ‌الأمهات ‌يرضعن أولادهن من غير طلب أجرة على ذلك. ولا حد لأقله على الصحيح، وأكثره حولان بنص القرآن (إلا أن يكون مثلها لا ترضع) لعلو قدرها فإنه لا يلزمها إرضاع ولدها إلا أن لا يقبل الصبي غيرها، فإنه يلزمها إرضاعه كان الأب مليا أو معدما، أو يقبل غيرها إلا أن الأب فقير أو ميت والولد فقير.

حاشية الباجوري: ويجب على الأم إرضاع ولدها اللبأ، بالهمز والقصر، وهو اللبن النازل أول الولادة، لأن الولد لا يعيش بدونه غالبا أو لا يقوى ولا تشتد بنيته إلا به، ومدته ثلاثة أيام وقيل سبعة وقيل يرجع في قدره إلى أهل الخبرة. ثم بعد إرضاع اللبأ إن لم يوجد إلا الأم أو الأجنبية وجب عليها الإرضاع إبقاء للولد، وإن وجدت الأم والأجنبية لم تجبر واحدة منهما على إرضاعه حتى الأم وإن كانت في نكاح أبيه لقوله تعالى (وإن تعاسرتم فسترضع له أخرى) وإن رغبت في إرضاعه فليس للأب منعها لأنها عليه أشفق ولبنها أصلح.

شرح منتهى الإرادات: (ويلزم حرة) إرضاع ولدها (مع خوف تلفه) بأن لم يقبل ثدي غيرها ونحوه حفظا عن الهلاك، كما لو لم يوجد غيرها، ولها أجرة مثلها. فإن لم يخف لم تجبر، دنية كانت أو شريفة، في حباله أو مطلقة، لقوله تعالى {وإن تعاسرتم فسترضع له أخرى}.

الإنصاف في معرفة الراجح من الخلاف: قال في الاختيارات: وإرضاع الطفل واجب على الأم بشرط أن تكون مع الزوج، ولا تستحق أجرة المثل زيادة على نفقتها وكسوتها، وهو اختيار القاضي في المجرد. وتكون النفقة عليها واجبة بشيئين، حتى لو سقط الوجوب بأحدهما ثبت بالآخر، كما لو نشزت وأرضعت ولدها فلها النفقة للإرضاع لا للزوجية.

Foto: Saat ngaji di Batang, Kamis malam Jumat lalu. Alhamdulillah bisa gendong bayi baru lahir. Semoga anak yang saleh dan berbakti kepada orang tuanya.

Kontributor

  • Abdul Ghofur Maimoen

    Nama lengkapnya Dr. KH. Abdul Ghofur Maimoen, Lc., MA. Setelah menyelesaikan studi doktoral di Universitas Al-Azhar Mesir, kini beliau menjadi pengasuh PP. Al-Anwar 3 Sarang-Rembang, Rektor Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Anwar, Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), dan Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor.