Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Masa Kecil Syaikh Hasan Syafi’i

Avatar photo
400
×

Masa Kecil Syaikh Hasan Syafi’i

Share this article
Masa Kecil Syaikh Hasan Syafi'i
Masa Kecil Syaikh Hasan Syafi'i
Beliau lahir pada tahun 1930 M, di Provinsi Bani Suef tepatnya di markaz Beba, awal daerah mesir selatan berjarak kurang lebih dua jam dari provinsi Kairo. Beliau lahir dan tumbuh dari keluarga yang sangat religius, akademis, ketat dan cinta ilmu.

Sang ayah bernama Syaikh Mahmud Abdul Lathif, merupakan salah satu kyai yang zuhud dan pengajar di daerahnya sekaligus jebolan al azhar dengan kurikulum lama, beliaulah orang pertama yang mengenalkan serta membuatnya cinta kepada al azhar dan ulamanya, juga menjadi idola dan guru pertama saat itu. Ayah yang selalu peduli dengan perkembangan anak baik dalam sisi agama juga keilmuan lainnya. Bahkan ketika syaikh hasan sudah masuk ke ma’had al azhar ia tak ditinggal sendirian begitu saja.

Sebelum belajar ilmu kaidah nahwu syaikh hasan lebih dulu belajar dan praktek membaca a-i-u kepada sang ayah. Diketahui bahwa sang ayah merupakan pecinta sastra. Setiap hari berlangganan koran cetak al Ahram juga pembaca aktif sastra khususnya majalah sastra Arrisalah rintisan sastrawan besar Mesir Ahmad Hasan al Zayyat dll.

Syaikh Hasan menceritakan bahwa dahulu media harian tak hanya membahas berita terkini dan topik politik saja di didalamnya, akan tetapi juga menghadirkan karya sastra dari beberapa tokoh sastrawan terkenal Mesir saat itu seperti Ali Abdul Jaarim, Muhammad al Asmar dll. Kebiasan Syeikh Hasan setelah membaca adalah menyetorkan bacaanya ke ayahnya setiap hari secara sempurna. Praktik langsung serta bimbingan sang ayah inilah yang membuatnya mahir dalam sastra sejak usianya sepuluh tahun.

Sejak saat itu sang ayah semakin giat membantu dan memantau perkembangan sang anak sampai memasuki jenjang sekolah menengah di al Azhar dalam semua ilmu, khususnya ilmu nahwu.
Setiap kali bertemu, selalu bertanya kepadanya,
“sudah sampai mana belajarnya ?”
” Apa hukumnya ini dan itu ?”
” Bagaimana cara membacanya ?.”

Hingga suatu saat beliau bertemu seseorang yang bernama Syaikh Yasin al Jindi, salah satu ulama di Kairo yang juga kawan lama ayahnya. Syaikh Yasin bertanya kepadanya :
“Siapa namamu ?”
“Namaku Hasan”. Jawab Syeikh Hasan.
“Dari mana asalmu ?” Kembali Syeikh Yasin bertanya.
“Dari daerah Beba Bani Suef.”
“Apakah kenal dengan Syaikh Mahmud Abdullathif ? “
Syaikh Hasan menjawab : “Dia adalah ayahku.”

Setelah mendengar jawabannya, syaikh yasin terlihat sangat gembira, lalu mendoakannya dan berpesan kepadanya agar rajin dalam belajar seperti halnya ayahmu.

Kontributor

  • Ade Rizal Kuncoro

    Dari Madiun Jawa Timur. Alumni PP Hamalatul Qur'an Jogoroto Jombang. Sekarang menjadi mahasiswa Universitas al-Azhar Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadits.