Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Manusia dan Interaksi Sosial: Sebuah Keharusan

Avatar photo
940
×

Manusia dan Interaksi Sosial: Sebuah Keharusan

Share this article
Manusia dan Interaksi Sosial: Sebuah Keharusan
Manusia dan Interaksi Sosial: Sebuah Keharusan

Manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Sebagai individu, setiap manusia memiliki karakter yang unik, yang membedakan antara satu dengan yang lainnya. Ia juga dilengkapi dengan pikiran, kehendak, hasrat, dan perasaan yang dapat diekspresikan sesuai dengan keinginannya. Di sisi lain, manusia juga merupakan makhluk sosial, yang berarti ia tidak bisa hidup sendiri. Ia membutuhkan manusia lain atau sebuah kelompok dimana ia bisa bertahan hidup.

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat menjalani hidupnya sendirian. Ia membutuhkan kebersamaan dan interaksi dengan orang lain dalam berbagai aspek kehidupan. Bahkan dalam memenuhi kebutuhannya, manusia seringkali memerlukan bantuan dari orang lain. Semua itu dilakukan dalam rangka saling memberi dan mengambil manfaat. Sebagai contoh, orang kaya tidak dapat bertahan hidup tanpa adanya orang miskin yang bekerja sebagai pembantu, pegawai, sopir, dst. Begitu pula, orang miskin tidak dapat bertahan hidup tanpa adanya orang kaya yang mempekerjakan dan memberinya upah. Hal ini menunjukan bahwa hubungan saling ketergantungan berlaku bagi semua orang, tanpa memandang kedudukan, nasab, bahkan juga kekayaan.

Kehidupan sosial seperti ini sudah terjadi sejak manusia dilahirkan. Bahkan, saat proses lahir pun membutuhkan manusia lain untuk meminta bantuan kepadanya. Ini juga menunjukan bahwa keterkaitan antar manusia dalam kehidupan sosial telah menjadi bagian yang tak terpisahkan sejak awal kehidupan. Hal ini dijelaskan dengan jelas oleh Imam Ibnu Khaldun dalam karyanya, Muqaddimah Ibnu Khaldun, di mana ia mengemukakan betapa pentingnya hubungan sosial dalam membentuk peradaban dan perkembangan individu. Beliau mengatakan:

إنّ الاجتماع الانساني ضروري. ويعبِّر الحكماء عن هذا بقولهم: الانسان مدنيٌّ بالطبع. أي: لابدّ من الاجتماع الذي هو المدنيّة في اصطلاحهم وهو معنى العمران.

وبيانه أنّ سبحانه خلق الانسان وركّبه على صورة لايصحّ حياتها وبقاؤها إلاّ بالغذاء, وهداه إلى التماسه بفطرته, وبما ركّب فيه من القدرة على تحصيله, إلاّ قدرة الواحد من البشر قاصرة عن تحصيل حاجته من ذالك الغذاء, غير موفية له بمدة حياته منه. ولوفرضّنا منه اقلّ ما يُمكن فرضه وهو قوت يوم من الحنطة مثلا, فلا يحصل الاّ بعلاج كثير من الطحن والعجن والطبخ

Artinya: “Hubungan sosial manusia adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Para filosof menjelaskan bahwa manusia itu memiliki tabiat Madani (sipil atau sosial). Maksudnya, manusia secara alami membutuhkan hubungan sosial, yang menurut istilah mereka disebut Al-Madani (kesipilan atau kependudukan). Ini sama dengan makna Al-Umran (peradaban)

Penjelasannya adalah bahwa, Allah Swt menciptakan manusia dan menyusunnya dalam suatu watak yang tidak dapat bertahan hidup kecuali dengan makan. Di samping itu, Allah juga membingbingnya untuk mencari makanan dengan fitrah yang ditanamkan dalam dirinya, dan dengan kemampuan yang diberikan untuk memproduksi makanan tersebut. Namun, apabila hanya manusia sendirian dengan kemampuannya yang sangat terbatas, ia tidak akan bisa memproduksi makanan dengan efektif dan efisien, dan tidak cukup untuk mencapai kebutuhannya. Misalnya, ia ingin memperoleh paling sedikit dari makanannya, yaitu satu kali makan dalam sehari (satu qut), maka ia tidak bisa menghasilkannya kecuali dengan melibatkan banyak orang dan proses yang panjang, seperti menggiling, memasak, dst.”

Dalam kehidupan manusia, proses untuk memperoleh kebutuhan dasar saja, seperti pangan, memerluka keterlibatan banyak individu dengan berbagai keahlian. Sebagai misal, dalam produksi padi, dibutuhkan petani yang menanam padi, memanennya, serta mengeluarkan biji dari kulitnya (mengatam). Proses-proses ini mustahil diselesaikan oleh satu orang saja, karena setiap tahap memerlukan keterampilan dan tenaga yang berbeda. Oleh karena itu, untuk bertahan hidup, banyak kemampuan dari banyak orang perlu saling kerja sama.

Lagi-lagi, ini menunjukan bahwa betapa pentingnya hubungan sosial antar individu dalam masyarakat. Dengan adanya hubungan sosial, berbagai kebutuhan manusia, seperti pangan dll, dapat lebih mudah terpenuhi. Tanpa hubungan sosial, kebutuhan tersebut akan sulit tercapai, dan kehidupan manusia tidak akan berjalan dengan sempurna. Jadi, hubungan sosial merupakan sesuatu yang urgen dalam kehidupan.

Manusia sebagai makhluk sosial memang pada dasarnya membutuhkan orang lain dalam kehidupannya, terutama ketika menghadapi pekerjaan yang sulit dan rumit. Bantuan orang lain terasa seperti hadiah yang mempermudah kita. Namun, penting untuk diingat bahwa kita tidak seharusnya selalu bergantung pada bantuan orang lain. Terkadang, kita perlu melakukan sendiri agar dapat menjadi lebih mandiri dan mengambangkan kemampuan pribadi.

Hubungan sosial hanya sebatas penyempurna dalam kehidupan, dan memudahkan kita untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Kita tidak boleh terlalu bergantung pada bantuan orang lain. Bukankah hal ini sangat nyata ketika kita mengharapkan bantuan dan kebaikan orang lain, namun, justru kita mendapatkan sebaliknya? Bahkan juga mendapatkan kekecewaan ketika orang yang diharapkan tidak ada dalam kehidupan kita. Semakin banyak kita bergantung pada orang lain, semakin sulit untuk menjadi pribadi yang mandiri dan semakin besar pula peluang kekecewaan yang akan kita terima. Oleh karena itu, jadikanlah hubungan sosial sebagai penyempurna kehidupan, bukan sebagai tempat kebergantungan.

الناس داء ودواء الناس تركهم # وفى الجفاء لهم قطع الاُخوّت

فسالم الناس تسلم من غوائلهم

Artinya: “Manusia adalah penyakit, dan obatnya adalah meninggalkan mereka… Tetapi, memusuhi mereka berarti memutuskan hubungan saudara…

Berdamailah dengan mereka agar engkau selamat dari musibahnya.”

Syai’ir Hilal bin Ala di dalam kitab Bidayatul al-Hidayah, al-Ghazali

Kontributor

  • Ahmad Darwis

    Ahmad Darwis, berasal dari Pulau Kalimantan, Pontianak, saat ini nyantri di Ma’had Aly Situbondo