Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Masjid Malika Safiya: Mimpi Abadi Sang Harem Sultan

Avatar photo
1123
×

Masjid Malika Safiya: Mimpi Abadi Sang Harem Sultan

Share this article

Masjid Malika Safiya Kairo adalah masjid yang dibangun dengan gaya Turki Utsmani ketiga di Mesir, setelah masjid Sulaiman Pasha di Citadel, dan masjid Sinan Pasha di Bulaq.

Malika Safiya adalah salah satu harem yang berkuasa pada itu yang nantinya menjadi istri Sultan Murad III, berasal dari kota Kanal yang dikenal dengan julukan The Queen of Adriatik, Venisia.

Arsitektur bagian tangga pintu masuk Masjid Malika Safiya menarik para peneliti Barat

Pagi itu, musim gugur di Kairo mulai menghangat, sehangat pikiranku semalam tentang sebuah dunia yang indah di tepian selat Bosporus sana. Suq sayyarot Kairo, atau pasar mobil terlihat ramai, dijejali oleh ratusan mobil yang siap menawarkan harga miring kepada calon pembeli, jika beruntung.

Bola matahari di petala langit pun tidak lagi menghembuskan hawa panas yang menggila seperti beberapa minggu sebelumnya. Angin yang berhembus dari kawasan Masbaq, Saqr el Quraisy, Tub el Ramli, dan daerah-daerah tandus di belakang Distrik 10th membawakan angin segar dan menyejukkan, sesejuk ingatanku sore kemarin tentang wajah-wajah sensual gadis Venisia.

Burung merpati sesekali beterbangan di atap-atap apartemen, mengeluarkan suara kepakan sayap yang membuat musim gugur menjadi semarak dan segar, sesegar memoriku tentang jari-jari lentik yang dimiliki oleh perempuan asal Ukrania itu, atau bibir ranum yang dimiliki gadis asal Albania sana. Dari kawasan Gamie, Distrik 10th, Kairo, aku berjalan bersama kawanku menuju dunia lain, dunia yang membuatku tak bisa tidur, dunia yang dipenuhi keindahan, kenikmatan, sekaligus diselubungi propaganda, hasutan, dan kebencian. surga dunia para sultan itu dikenal dengan nama Hareem.

Baca juga: Katedral Notre-Dame; Bagaimana Peradaban Barat Mencurinya dari Timur

Di bus, ingatanku masih saja melayang-layang tentang dunia itu, sesekali melintas pepatah yang mengatakan, “Di belakang laki-laki yang hebat terdapat seorang wanita yang hebat, tapi di belakang laki-laki yang lemah terdapat banyak wanita yang hebat.”

Pepatah itu langsung menghempaskanku ke dunia lain, yaitu dunia kenikmatan dan surga para Sultan masa Turki Utsmani, dunia yang tersembunyi dari publik, suci, tertutup dan merupakan forbidden area. Selain mencari keturunan melalui pernikahan legal, Para Sultan masa Utsmaniyah juga  gemar memiliki banyak selir, tradisi ini juga sebelumnya didapati di benua Asia, seperti di China, Korea, Jepang dan Jawa. Perempuan yang masuk harem biasanya berasal atau didapati dari pasar budak masa itu, ada juga yang merelakan dirinya masuk harem, siapa tahu nasibnya beruntung dan bisa menjadi istri favorit Sultan.

Awalnya, gadis-gadis yang menjadi selir itu hanya akan menjadi sarana reproduksi, tapi lama-kelamanaan peran mereka akan semakin besar, terutama jika mereka beruntung dan bisa menghasilkan keturunan bagi “sultan”nya, lalu diangkat menjadi selir favorit. Nanti jika nasib memihaknya, anak yang dilahirkannya (laki-laki) akan diangkat menjadi putra mahkota Sultan, hal ini akan melejitkan posisinya yang tadinya selir, menjadi perempuan paling bergengsi dalam semesta kerajaan Usmaniyah, yaitu Valide Sultan, atau Ibu Sultan.

Sekitar dua abad kurang, dari abad 16 sampai awal 18 M , kerajaan Turki Utsmani dikuasai oleh beberapa perempuan yang memegang tali kendali negara, baik itu perpolitikan, ekonomi, ataupun pemegang kebijakan dan keputusan. Masa-masa ini dikenal dalam sejarah dengan nama Kadinlar Sultanati (Era Sultan Perempuan). Sultan masa-masa ini hanya menjadi boneka belaka, sementara ibu mereka (yang dulunya hanya selir) adalah pemegang kendali negara dan pengampu kekuasaan.

Para harem ini tidak semuanya pandai mengatur negara, bahkan mereka membawa benih kehancuran yang nantinya akan menenggelamkan kerajaan raksasa itu, aku jadi ingat kata-kata Sultan Usmani Terkenal, Sulaiman el Qonuni, ia pernah berkata,

”Jika kamu menghendaki kerusakan sebuah kerajaan, maka jadikanlah perempuan sebagai pemegang kendalinya.”

Bahkan kata-kata yang diucapkan Sultan pembuat 200 lebih qonun (undang-undang) itu akhirnya memakan sendiri kata-katanya. Semasa hidupnya, tragedi yang dilakukan oleh haremnya sendiri membawa peristiwa berdarah yang terkenal dalam sejarah. Mustafa, putra mahkota Sulaiman dari istri sahnya, Mahidevran (Gul Bahar), harus berakhir mengenaskan dengan terbunuh oleh propaganda yang dilakukan selir pavorit Sulaiman, Roxelana. Roxelana (Hurrem Sultan) akhirnya menjadikan anaknya, Selim “si pemabuk” menjadi Sultan pengganti Sulaiman. Kepemimpinan Selim ini carut marut, dia menyerang Siprus hanya untuk menguasai pasokan wine di sana. Nantinya, pasukan Utsmani kalah telak pada pertempuran Lepanto, pertempuran yang dimenangkan oleh Liga Suci (Spanyol, Venesia, Takhta Suci, dll) yang kembali merebut Siprus dari tangan Selim tukang mabuk itu.

Sambil tersenyum geli mengingat sejarah tersebut, tak terasa langkah kami sudah semakin mendekati tujuan kami jum’at ini, yaitu Masjid yang namanya mengabadikan salah satu harem yang berkuasa pada itu, yaitu Safiya, harem yang nantinya menjadi istri Sultan Murad III, berasal dari kota Kanal yang dikenal dengan julukan The Queen of Adriatik, Venisia.

Sebelum datang ke Istanbul, Safiya adalah seorang putri dari seorang terhormat, lahir tahun 1550 M dari seorang ayah yang juga hakim penting di pulau Corfu, Safiya juga merupakan kerabat dekat dari Giorgio Baffo, seorang penyair dan senator Venesia terkenal. Suatu hari, Safiya yang waku itu berumur 14 tahun tengah berlayar dengan sebuah perahu bersama teman-teman seumurnya hendak menuju kediaman ayahnya, tiba-tiba ia dicegat oleh bajak laut, Safiya akhirnya dijadikan budak oleh mereka dan dijual di pasar Istanbul, Turki. Safiya dibeli oleh suruhan Sultan Murad III dan tertarik kepadanya, Ia pun menikahi gadis pemeluk kristen katolik tersebut.

Baca juga: Pandemi di Balik Megahnya Masjid Sultan Hasan

Sejarawan menuliskan tentang Safiya bukan hanya karena kecantikannya yang khas Venisia, juga bukan hanya karena kecerdikannya, tapi juga karena kelicikan dan kekejamannya. Ketika menjadi harem, Safiya mendapatkan kedudukan tinggi karena kecantikan dan sosoknya yang menyenangkan . Ketika Safiya melahirkan Muhamad, ia akhirnya menjadi istri remi Sultan Murad III dan dijuluki Sultona Shafiya, atau Ibu Sultan. Safiya harus bersaing dengan dua harem pesaingnya, yaitu Nur Banu yang keturunan Yahudi, dan Asma, adiknya Sultan.

Kelicikan Safiya terlihat ketika ia menyuruh anaknya, Muhamad untuk pergi ke ruang singgasana guna menerima duka sakaratul maut ayahnya. Tapi, ketika memasuki ruangan, Muhamamd tidak mendapti siapa-siapa di sana, ke-18 saudaranya tidak satupun hadir. Ia pun bertanya kepada ibunya, ibunya menjawab mereka sudah pergi lebih dulu ke kuburan guna menyambut jasad ayahnya. Tapi itu hanya muslihat, malam harinya Safiya beserta pesuruhnya membunuh semua anak-anak Sultan Murad yang berjumlah 18 orang itu, supaya singgasana hanya diberikan kepada anaknya saja. Safiya mengirim ke-18 mayat itu ke kuburan supaya dikebumikan lebih dahulu sebelum jasad Sultan Murad tiba ke sana.

Muhamad III hanya menjadi boneka, yang sebenarnya memangku urusan negara adalah ibunya, bahkan ketika anaknya meninggal, Safiya berusaha menguasai cucunya, Ahmad III. Tapi Ahmad sudah tahu kelicikan neneknya ini, ia akhirnya mengasingkan perempuan cantik tapi licik itu ke istana yang dibuatkan khusus untuknya di dekat selat Bosporus. Istanbul akhirnya bisa terlepas dari genggaman tangan Safiya yang penuh darah itu, meninggalkan luka dan aib bagi kerajaan islam yang namanya mengaum di seantero dunia kala itu.

Ketika Safiya dipecat, ia ingin mencari sarana untuk melanggengkan namanya, ia ingin namanya kembali dikenang. Akhirnya ia memerintahkan budaknya yang bernama Utsman Agha bin Abdullah untuk membangun masjid untuknya bukan di Istanbul, tapi di Kairo, Mesir. Agha yang dulunya menjadi budak kasim itu, pergi ke kairo dan membangun Masjid untuk Safiye pada tahun 1610. Namun, Utsman Agha meninggal sebelum masjid selesai dibangun. Safiya memerintahkan Abdul Raziq Agha bin Abdul Halim, untuk menyempurnakan pembangunan masjid. Sekarang, ada papan yang akan memberi tahu pengunjung masjid ini, bahwa yang membangunnya adalah perempuan bernama Safiya, di bawah pengawasan Ismail Agha.

Memasuki masjid ini, aku bersama kawanku langsung diserang memori-memori tentang harim, nuansa forbidden area masa harem seakan aku rasakan dari setiap sudut masjid yang warnanya sudah pucat ini. Keindahan dunia terlarang itu serasa aku rasakan di setiap dinding masjid yang penuh debu dan tua ini, menghempaskanku ke masa-masa ketika Turki Utsmani diperintah dan dikuasai bukan oleh laki-laki berkumis sangar atau berjenggot tebal, tapi oleh perempuan bermata biru, berparas bidadari, dan memiliki jari-jari lentik menggairahkan.

Masjid ini adalah masjid yang dibangun dengan gaya Turki Utsmani ketiga di Mesir, setelah masjid Sulaiman Pasha di Citadel, dan masjid Sinan Pasha di Bulaq.

Masjid yang memiliki corak khas Usmani ini dibangun 4 meter dari permukaan tanah, untuk memasuki ketiga pintu masjid ini, harus menaiki titian tangga berbahan batu sejumlah 16 lapis titian.  Masjid ini dibagi dua bagian, ada bagian yang disebut harem, dan sisanya disebut masjid atau tempat sholat. Di bagian harem ini, terdapat halaman terbuka yang tidak terlalu luas, shahn ini mengingatkanku kepada bentuk-bentuk masjid dan khanqah milik Dinasti Mamluk. Shahn dikeliling empat ruwaq kecil, bertiangkan batu dan marmer, ruwaq tersebut tertutup oleh kubah-kubah kecil bercorak khas Usmani yang menyerupai masjid Muhammad Ali. Gaya kubah semacam ini mengikuti kubah yang ada di Masjid Ahmad III di Istanbul. Bagian masjid yang terletak di bagian timur, berbentuk ruangan segi empat, didalamnya terdapat enam tiang terbuat dari granit, di atasnya terdapat kubah besar, kubah ini terbilang jarang didapati di masjid lain, karena tingginya yang mencapai 17 meter.

Yang unik dan menarik perhatian adalah mimbar masjid ini, murni terbuat dari marmer putih mengkilat, sangat elegan. di tambah di atas mihrab diselipi pecahan batu iznik asal Turki, memancarkan kemewahan dan kekayaan. warnanya biru mencolok, membuat kesegaran sendiri di ruwaq yang terbilang kurang cahaya ini.

mimbar masjid terbuat dari marmer putih mengkilat

Bagian muka masjid ini tidak terlihat banyak taburan ornamen, bentuknya sederhana tanpa banyak didapati ukiran-ukiran rumit sebagaimana yang marak ditemui di masjid Mamluk. Di atas masjid, terdapat menara yang lumayan tinggi, menara itu sangat sederhana, berciri khas Usmani dengan memakai model menara lonjong tak bercorak rumit, ujungnya menyerupai pensil, model menara ini banyak didapati di hampir semua masjid peninggalan Turki Usmani, seperti masjid Agha Silahdar.

Mengenang cerita Safiya ini membuatku teringat cerita Sittil Muluk, kakak perempuan dari Khalifah Dinasti Syi’ah Fatimiyah ke-6, al-Hakim bi Amrillah. Ketika al-Hakim menderita penyakit nyentrik, ia ingin mengubah tradisi kekhalifahan Fatimiyah, dia mewasiatkan putra mahkota bukan kepada anaknya, tapi kepada keponakannya yang bernama Abdul Rahim Ilyas. Hal ini membuat rumah Fatimiyah goncang, dan mungkin bisa hancur karena perpecahan, jika saja bukan karena jasa Sittil Muluk. Ia bersama komplotannya menangkap Abdul Rahim Ilyas dan membunuhnya tanpa ampun ketika al-Hakim menyepi. Akhirnya dinasti Fatimiyah tidak jadi mewariskan kekuasaan kepada keponakan al-Hakim itu, melainkan kembali lagi kepada anaknya yang waktu itu berumur 16 tahun dan dijuluki al-Dzahir li I’zazillah.

Sambil meninggalkan Masjid Malika Safiya, aku tak hentinya merasa heran, bagaimana bisa perempuan-perempuan itu begitu memiliki super power dan bisa menguasai kerajaan yang besar sekaligus. Tapi mungkin nasib mereka tidak mujur, perlahan kekuasaan yang mereka pegang malah membawa kerajaan menuju kehancuran. Sebagaimana yang terjadi di Turki Utsmani kala itu.

Kata-kata ini kembali terngiang:

“Di belakang laki-laki yang hebat terdapat seorang wanita yang hebat, tapi di belakang laki-laki yang lemah terdapat banyak wanita yang hebat.”

Kontributor

  • Ade Gumilar

    Alumni Mahasiswa Al-Azhar Mesir. Melanjutkan S2 di Universitas Indonesia konsentrasi Kajian Timur Tengah. Sekarang menjadi dosen sejarah peradaban Islam IAIN Syekh Gunung Djati Cirebon