Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Qasidah Perpisahan Sayyidah Aminah untuk Rasulullah Saw

Avatar photo
386
×

Qasidah Perpisahan Sayyidah Aminah untuk Rasulullah Saw

Share this article
Qasidah Perpisahan Sayyidah Aminah untuk Rasulullah Saw
Qasidah Perpisahan Sayyidah Aminah untuk Rasulullah Saw

Nabi Muhammad Saw dilahirkan dalam keadaan yatim. Ayah beliau, Abdullah, telah meninggal dunia saat beliau masih berada dalam kandungan. Dalam Maulid Barzanji disebutkan bahwa Abdullah wafat di Madinah ketika Rasulullah berusia dua bulan dalam kandungan ibunya.

Ketika Rasulullah mulai beranjak dewasa, Sayyidah Aminah mengajak beliau beserta Ummu Aiman berziarah ke Madinah untuk mengunjungi makam Abdullah dan keluarga beliau dari keturunan Bani an-Najjar. Namun, dalam perjalanan pulang menuju Makkah, Sayidah Aminah jatuh sakit dan akhirnya wafat. Beliau dimakamkan di perkampungan al-Abwa’

Sesaat sebelum wafat, Sayyidah Aminah memandang putra tercintanya dan membacakan sebuah Qasidah untuk beliau. Qasidah tersebut dicatat oleh Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam al-Hawi Li al-Fatawi juz 2 hlm 269 sebagai berikut:

بَارَكَ فِيْكَ اللهُ مِنْ غُلَامِ … يَا ابْنَ الَّذِي مِنْ حَوْمَةِ الحِمَامِ

نَجَا بِعَوْنِ الْمَلِكِ الْمِنْعَامِ … فَوُدِى غَدَاةَ الضَّرْبِ بِالسِّهَامِ

بِمِائَةٍ مِنْ إِبِلٍ سَوَامِ … إِنْ صَحَّ مَا أَبْصَرْتُ فِي الْمَنَامِ

فَأَنْتَ مَبْعُوْثٌ إِلَى الْأَنَامِ … مِنْ عِنْدِ ذِي الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ

تُبْعَثُ فِي الْحِلِّ وَفِي الْإِحْرَامِ … تُبْعَثُ بِالتَّحْقِيْقِ وَالْإِسْلَامِ

دِيْنِ أَبِيْكَ الْبَرِّ إِبْرَاهَامِ … فَاللهُ أَنْهَاكَ عَنِ الْأَصْنَامِ

Semoga Allah memberkahimu sebagai anak laki-laki … Wahai putra orang yang telah selamat dari kematian

Ia selamat sebab pertolongan Sang Raja yang banyak memberi nikmat …  Ia telah ditebus dari pukulan pedang

Dengan seratus unta yang gemuk … Jika benar apa yang kulihat dalam mimpiku itu

Maka engkau adalah seseorang yang diutus kepada seluruh makhluk … Dari yang Maha Agung dan Maha Mulia (Allah)

Engkau diutus tentang halal dan haram. (tafsiran ke dua) Engkau diutus di tanah halal dan ditanah haram … Engkau diutus dengan kebenaran dan Islam

Agama nenek moyangmu yang benar, yaitu (Nabi) Ibrahim … Maka Allah melarangmu menyembah berhala-berhala.

Makna Qasidah

Sekilas makna Qasidah diatas menerangkan bahwa ayahanda Rasulullah Saw, Abdullah, merupakan anak laki-laki yang hampir dijadikan kurban oleh ayahnya, setelah kisah Nabi Ismail as. Nabi Ismail hampir dikurbankan oleh ayahnya, Nabi Ibrahim as, atas perintah Allah Swt., sedangkan Abdullah hampir dikurbankan karena nazar sang ayah, Abdul Mutthalib.

Diceritakan bahwa Abdul Muthalib bernazar: apabila berhasil menggali sumur zamzam dengan mudah dan memiliki sepuluh anak, maka ia akan menyembelih salah satu dari mereka sebagai kurban. Ketika Allah Swt. mengaruniakan sepuluh anak, Abdul Mutthalib pun merasa wajib menepati nazarnya. Ia kemudian melakukan undian untuk memilih salah satu putranya.

Proses pengundian pun berlangsung, dan nama yang keluar adalah Abdullah, putra bungsu dari sepuluh bersaudara. Dengan teguh hati, Abdul Mutthalib bersiap melaksanakan nazar tersebut. Namun, masyarakat Makkah menolak tindakan itu karena Abdullah dikenal sebagai pemuda yang dikagumi dan disayangi oleh masyarakat Makkah.

Masyarakat menyarankan agar Abdul Muthalib mencari jalan keluar. Ia pun mendatangi Khaibar (orang pintar) untuk meminta solusi terbaik atas nazarnya. Sang Khaibar menyarankan agar pengundian diulang dengan menambahkan sepuluh ekor unta pada setiap undian, dan terus menambahkannya setiap kali nama Abdullah kembali terpilih. Namun, dalam sepuluh kali undian berturut-turut, nama Abdullah terus muncul hingga jumlah unta yang diundi mencapai 100 ekor. Barulah pada undian berikutnya, nama unta yang keluar, bukan Abdullah. Maka Abdul Muthalib pun menyembelih 100 ekor unta tersebut sebagai penebus nazarnya.

Dalam konteks ini, terdapat sebuah riwayat bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Aku adalah putra dua manusia yang nyaris disembelih”. Dua manusia itu adalah Nabi Ismail yang nyaris disembelih oleh Nabi Ibrahim dan Abdullah yang nyaris disembelih oleh Abdul Muthalib.

Wallahu A’lam

Kontributor

  • Ahmad Darwis

    Ahmad Darwis, berasal dari Pulau Kalimantan, Pontianak, saat ini nyantri di Ma’had Aly Situbondo