Ateisme kontemporer tidak lahir dari ruang hampa. Ia merupakan simpul dari sejarah panjang kritik terhadap agama, tetapi sekaligus merupakan produk khas yang disemai melalui konfigurasi sosial, epistemik, dan kultur modernitas. Karena itu, membacanya hanya sebagai kelanjutan ateisme klasik atau sebagai versi baru dari penolakan terhadap Tuhan adalah reduksi yang tidak tepat. Yang lebih tepat adalah ia dilihat sebagai pergeseran cara mengetahui, cara mempercayai, dan cara membangun makna, di mana Tuhan tidak lagi ditolak semata-mata sebagai proposisi metafisis, melainkan disingkirkan sebagai horizon epistemik dan simbolik.
New Atheism muncul dalam konteks ini. Ia bukan sekadar ateisme yang lebih radikal dan fundamental, tetapi sebuah reorientasi gaya berargumen dan cara memosisikan rasionalitas. Tokoh-tokohnya seperti Richard Dawkins, Sam Harris, Christopher Hitchens, dan Daniel Dennett tidak sekedar membangun argumen filosofis baru tentang ketidakadaan Tuhan, melainkan melakukan delegitimasi total terhadap agama sebagai sumber pengetahuan, etika, dan makna. Dawkins dalam The God Delusion misalnya, tidak sedang berdialog dengan teologi atau filsafat agama secara serius, tetapi menempatkan agama sebagai cognitive error yang bertahan karena kebodohan, indoktrinasi, dan ilusi psikologis (Dawkins, The God Delusion, 2006, 31–38). Di sini, ateisme tidak lagi beroperasi pada level ontologi atau epistemologi reflektif, melainkan pada level retorika moral dan psikologi massa.
Secara genealogis, hal tersebut menandai pergeseran penting. Ateisme klasik misalnya, bahkan yang radikal sekalipun seperti Feuerbach atau Nietzsche, masih bergulat dan berkonfrontasi perihal Tuhan sebagai problem serius. Feuerbach menafsirkan Tuhan sebagai proyeksi esensi manusia yang teralienasi, meski demikian ia menganggap Tuhan sebagai konsep yang sangat kuat dan menentukan kesadaran manusia (Feuerbach, The Essence of Christianity, 1841, 1–14). Nietzsche saat deklarasi akan kematian Tuhan bukan sekedar selebrasi, melainkan sebagai tragedi metafisis yang membuka jurang nihilisme (Nietzsche, The Gay Science, 1882, 125). Nah keberaddan New Atheism justru memotong persinggungan ini. Tuhan direduksi menjadi bad hypothesis, agama menjadi social pathology, dan iman menjadi kegagalan berpikir.
Di titik inilah problem epistemologis New Atheism menjadi terang. Ia mengklaim berdiri di atas sains dan rasionalitas, tetapi secara diam-diam mengabsolutkan sains sebagai satu-satunya bentuk pengetahuan yang sah. Sam Harris, misalnya, berargumen bahwa sains dapat dan harus menentukan nilai moral, seolah-olah fakta empiris cukup untuk melahirkan norma (Harris, The Moral Landscape, 2010, 1–5). Padahal, sejak David Hume, filsafat telah menunjukkan bahwa tidak ada jalan logis yang sah dari is menuju ought. Yang terjadi di sini bukan kemenangan rasionalitas, melainkan perluasan otoritas sains ke wilayah normatif tanpa justifikasi filosofis yang memadai.
Kritik ini tidak datang dari kalangan teistik semata. Banyak filsuf ateis sendiri menilai New Atheism sebagai konklusi dangkal dan anti-intelektual. Michael Ruse menyebut Dawkins dengan “ignorant of philosophy and theology” dan menilai militansi ateisme justru merusak diskursus rasional (Ruse, dikutip dalam Schilling, God in an Age of Atheism, 1914, 214–218). Tim Crane secara eksplisit membedakan antara ateisme sebagai posisi metafisis dan antiteisme sebagai sikap ideologis, dan menilai New Atheism lebih dekat pada yang kedua (Crane, The Meaning of Belief, 2017, 98–105).
Namun kekuatan New Atheism justru bukan pada kedalaman argumennya, melainkan pada kesesuaiannya dengan ekosistem media modern. Di era media sosial, logika atensi lebih menentukan daripada koherensi argumen. Algoritma tidak menyukai nuansa, tetapi menyukai konflik. Dalam konteks ini, ateisme mengalami mutasi dari posisi intelektual menjadi gaya performatif. Argumen berubah menjadi ejekan, kritik menjadi meme, dan rasionalitas menjadi identitas. Ateisme tidak lagi ditanyakan “benar atau salah”, tetapi “siapa kita dan siapa mereka”.
Di ruang digital Indonesia, fenomena ini tampak sangat jelas. Ateisme jarang hadir sebagai refleksi filosofis yang matang, tetapi sebagai fragmen slogan. Kutipan Dawkins, Hitchens, atau Carl Sagan beredar tanpa konteks epistemologisnya. Sains direduksi menjadi mantra “cukup dengan sains”, seolah-olah sains adalah metafisika terselubung yang mampu menjawab seluruh pertanyaan manusia. Padahal, filsafat sains sendiri dengan jujur mengakui keterbatasan metodologis sains dalam menjawab pertanyaan tentang makna, nilai, dan tujuan (Oppy, Atheism: The Basics, 2019, 67–74).
Dalam bentuk ini, ateisme tidak lagi terutama berfungsi sebagai kritik terhadap Tuhan, tetapi sebagai kritik terhadap otoritas simbolik agama. Ia menjadi bahasa resistensi terhadap kemunafikan moral, politisasi agama, dan kekerasan simbolik yang dilakukan atas nama Tuhan. Di sini, ateisme bersinggungan erat dengan pengalaman sosial. Banyak individu tidak menolak Tuhan karena argumen metafisis, tetapi karena luka eksistensial dan pengalaman ketidakadilan yang dilegitimasi oleh agama. Kajian sosiologis menunjukkan bahwa disafliasi religius sering kali lebih dipicu oleh faktor moral dan institusional daripada intelektual murni (Bush, Atheism, Nonreligion, and Society, 2018, 40–45).
Namun ateisme kontemporer tidak berhenti pada militansi rasionalitas. Ia juga melahirkan paradoks baru, yakni spiritualitas tanpa Tuhan. Fenomena ini terlihat jelas dalam karya André Comte-Sponville, Sam Harris, dan bahkan Dawkins sendiri. Comte-Sponville secara eksplisit berbicara tentang “spiritualitas imanensi”, sebuah pengalaman kedalaman, keheningan, dan keterhubungan yang tidak membutuhkan Tuhan personal (Comte-Sponville, L’esprit de l’athéisme, 2006, 3–10). Di sisi lain, Sam Harris mempraktikkan meditasi Buddhis dan menulis tentang pengalaman transenden tanpa transendensi teistik (Harris, Waking Up, 2014, 15–22).
Secara epistemologis, ini menarik. Ateisme yang semula mengklaim netralitas metafisis justru mengadopsi bahasa, struktur pengalaman, dan fungsi psikologis yang sebelumnya diasosiasikan dengan agama. Eric Steinhart dengan tajam menunjukkan bahwa Dawkins membangun apa yang ia sebut sebagai spiritual atheism, di mana sains berfungsi sebagai ultimate framework yang menjawab pertanyaan fakta, nilai, dan ultimasi sekaligus (Steinhart, Believing in Dawkins, 2020, 23–30). Dengan kata lain, ateisme tidak menghapus kebutuhan akan makna, tetapi mengalihkan sumbernya.
Di sinilah fenomena seperti Law of Attraction menemukan tempatnya. Ia sering dipresentasikan sebagai “spiritualitas netral”, tidak beragama, berbasis energi semesta, dan kompatibel dengan sains populer. Namun secara genealogis, ia adalah bentuk dari metafisika terselubung yang memadukan psikologi motivasi, positivisme naif, dan kosmologi pseudo-ilmiah. Secara epistemologis, Law of Attraction mengklaim kausalitas mental atas realitas tanpa mekanisme yang dapat diuji, tetapi juga tanpa komitmen teologis yang jelas. Ia menolak Tuhan personal, tetapi diam-diam menggantikannya dengan semesta yang bersifat normatif dan responsif terhadap kehendak manusia.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ateisme kontemporer tidak selalu bergerak ke arah rasionalisasi murni, tetapi sering kali menuju mistifikasi baru. Ketika Tuhan disingkirkan, makna tidak menghilang, tetapi mencari medium lain. Dalam konteks budaya populer, makna itu hadir dalam bentuk narasi motivasional, energi kosmik, dan janji keberhasilan personal. Ateisme di sini tidak lagi anti-metafisika, melainkan metafisika tanpa tanggung jawab epistemik.
Dengan demikian, ateisme kontemporer perlu dibaca bukan hanya sebagai posisi intelektual, tetapi sebagai gejala peradaban. Ia adalah respons terhadap krisis otoritas, fragmentasi makna, dan kegelisahan eksistensial manusia modern. New Atheism, budaya ejekan di media sosial, spiritualitas tanpa Tuhan, hingga Law of Attraction adalah ekspresi berbeda dari satu problem yang sama. Bagaimanakah manusia modern hidup dengan makna setelah Tuhan tidak lagi menjadi pusat simbolik yang disepakati?
Tulisan seri ini tidak bertujuan untuk menutup perdebatan, apalagi memenangkannya secara retoris. Tujuannya adalah membuka peta persoalan secara jujur, agar kritik terhadap ateisme tidak berhenti pada slogan, dan pembelaan terhadap iman tidak jatuh pada simplifikasi. Sebab hanya dengan pembacaan genealogis dan epistemologis yang serius, kita dapat memahami bahwa ateisme kontemporer bukan sekadar musuh iman, tetapi cermin dari krisis makna yang juga menuntut refleksi mendalam dari tradisi keagamaan itu sendiri. Wallāh a‘lam bi ḥaqīqat al-ḥāl.
Oleh: Ahmad Ilham Zamzami







Please login to comment