Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Teologi Asy‘ari, Auguste Comte, dan Polemik Sebuah Mushola

Avatar photo
917
×

Teologi Asy‘ari, Auguste Comte, dan Polemik Sebuah Mushola

Share this article
Teologi Asy‘ari, Auguste Comte, dan Polemik Sebuah Mushola
Teologi Asy‘ari, Auguste Comte, dan Polemik Sebuah Mushola

Robohnya Mushola Al-Hidayah di sebuah kompleks pondok pesantren baru-baru ini mengguncang publik. Bangunan yang mestinya menjadi ruang ibadah dan ketenangan justru ambruk, menyisakan duka sekaligus tanda tanya. Di tengah situasi itu, pengasuh pesantren memberi klarifikasi singkat: ‘Ini takdir Allah.’ Pernyataan tersebut bukannya menenangkan, melainkan memantik perdebatan. Mengapa setiap musibah harus selalu dikembalikan pada takdir? Bukankah manusia diberi ruang ikhtiar untuk merencanakan, menjaga, dan memastikan keselamatan dirinya? Dan bagaimana mungkin rumah ibadah yang digunakan ratusan jamaah bisa berdiri tanpa perencanaan matang serta pengawasan memadai?

Dalam perspektif teologi Sunni-Asy‘ari, pernyataan tentang “takdir Allah” sesungguhnya punya fondasi yang kuat. Ahlus Sunnah memandang bahwa segala sesuatu, baik yang kita sukai maupun yang kita benci, terjadi atas kehendak-Nya. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menegaskan, “Tidak ada yang bergerak atau diam di alam semesta, baik di atas maupun di bawah, kecuali dengan qadha’, qadar, hikmah, dan kehendak-Nya.”

Namun, hal itu tidak berarti manusia sama sekali tidak punya peran. Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari menegaskan adanya konsep kasb (ikhtiar atau perolehan), yaitu bahwa segala perbuatan manusia pada hakikatnya diciptakan oleh Allah, tetapi manusia memiliki pilihan untuk “mengakuisisi” perbuatan itu dan bertanggung jawab atasnya. Dengan kata lain, musibah seperti robohnya sebuah mushola memang tidak terlepas dari izin Allah, tetapi kelalaian dalam perencanaan atau pengawasan adalah bagian dari ikhtiar manusia yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Takdir, dalam kacamata Asy‘ari, bisa dianalogikan seperti seorang petani yang menanam padi. Hujan, panas, dan kesuburan tanah adalah kuasa Allah. Tetapi bila petani tidak mengolah sawah, tidak menyiangi hama, atau salah memilih benih, maka panen bisa gagal. Gagal panen tetap berada dalam lingkup takdir Allah, tetapi kelalaian manusia menjadi sebab yang tidak bisa diabaikan. Imam Ibnu Atha’illah al-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan, “Kesungguhanmu pada apa yang telah dijamin untukmu (rezeki) dan kelalaianmu pada apa yang dituntut darimu (kewajiban) adalah bukti dari padamnya mata hatimu.” Begitu pula dalam membangun rumah ibadah: kekuatan bangunan memang bergantung pada takdir Allah, namun kesungguhan dalam perencanaan dan pengawasan adalah bagian dari ikhtiar yang dituntut.

Karena itu, pandangan Asy‘ariyah menempatkan takdir dan ikhtiar tidak dalam posisi saling meniadakan, melainkan saling melengkapi. Pasrah pada takdir tidak boleh menjadi dalih untuk menutup mata dari kewajiban berikhtiar. Justru, ikhtiar adalah bagian dari kepatuhan kepada Allah, sebab sunnatullah berjalan melalui hukum sebab-akibat yang juga ditetapkan-Nya. Sebagaimana dikatakan oleh Sayyidina Umar bin Khattab RA saat menolak masuk ke daerah wabah, “Kita lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain.” Pernyataan ini merangkum dengan sempurna bahwa berikhtiar menghindari bahaya juga merupakan bagian dari menjalankan takdir itu sendiri.

Di titik inilah menarik bila narasi teologis Asy‘ariyah ditempatkan berdampingan dengan kerangka filosofis modern. Jika teologi Islam menegaskan adanya keseimbangan antara kehendak Tuhan dan ikhtiar manusia, maka Auguste Comte, filsuf asal Prancis, mencoba menjelaskan perjalanan cara berpikir masyarakat melalui tiga tahap: teologis, metafisis, dan positif (logis). Bedanya, Comte tidak berbicara dalam kerangka iman, melainkan dalam kerangka perkembangan nalar manusia dari kepercayaan penuh pada Tuhan menuju penjelasan yang rasional dan ilmiah.

Auguste Comte pernah menggambarkan perjalanan perkembangan masyarakat melalui tiga tahap: teologis, metafisis, dan positif (logis). Pada tahap pertama, teologis, cara pandang manusia masih sangat bergantung pada agama. Segala hal dijelaskan lewat intervensi ilahi: keburukan dianggap sebagai takdir yang tak bisa dihindari, sementara keberhasilan dipandang sebagai karunia Tuhan semata. Seiring waktu, manusia memasuki tahap kedua, metafisis. Di sini, mereka mulai menggunakan nalar dan filsafat untuk mencari jawaban. Penyakit, misalnya, tak lagi semata dilihat sebagai cobaan takdir, tetapi dipahami sebagai akibat gaya hidup atau adanya virus. Perjalanan itu akhirnya mengantar pada tahap positif atau logis. Pada fase ini, manusia beralih pada pendekatan ilmiah. Pertanyaan yang diajukan bukan hanya “mengapa ini terjadi,” melainkan juga “bagaimana prosesnya” dan “apa solusinya.”

Kasus robohnya mushola itu, bila semata dijawab dengan “takdir Allah,” menunjukkan warisan pola pikir teologis. Namun netizen langsung melompat pada ranah logis: “Seharusnya ada pengawasan konstruksi.” Pola berpikir ini melewati ruang filosofis yang mestinya memberi jeda untuk merenung, menggali sebab-sebab, serta menumbuhkan empati.

Di titik inilah, kritik Comte menjadi relevan: ketika satu tahap transisi terputus, peradaban bisa berkembang secara teknis, tetapi kehilangan etika. Masyarakat mungkin berhasil membangun mushola yang kokoh menahan badai, tetapi dengan moralitas yang rapuh.

Padahal, ranah filosofis memberi ruang untuk melihat secara holistik: bukan sekadar siapa yang salah, tetapi bagaimana permasalahan bermula hingga berakhir. Ruang ini bukan hanya memverifikasi fakta, melainkan juga memvalidasi aspek psikis dan moral.

Rasa duka seharusnya tidak dibalas dengan amarah semata. Kritik tetap perlu, tetapi harus dibarengi empati. Alih-alih memperbesar luka dengan cacian, mari menumbuhkan kepedulian dan refleksi bersama agar musibah menjadi pelajaran, bukan sekadar bahan hujatan.

Kontributor

  • Tanwirun Nadzir

    Tanwirun Nadzir Lulusan Aqidah Filsafat UIN Jakarta. Mimpi jadi akademisi tapi jadi guru.