Syekh Muhammad Thahir bin Asyur dalam kitab Syifa Al-Qalbi Al-Jarih bi Syarah Burdah Al-Madih menuliskan  sebagai berikut:

Salah satu kisah keberkahan Qasidah Burdah, seperti apa yang diceritakan oleh Ibnu Fadhlillah dalam kitabnya Masalik Al-Abshar. Diceritakan suatu kisah oleh beberapa orang yang terpercaya:

Ada seorang penulis dari Mesir yang sangat terobsesi dengan Qasidah Burdah. Dia begitu meyakini kemanfaatannya. Dia memiliki seorang teman beragama Nasrani yang sering menertawakan obsesi dan keyakinan dia atas Qasidah Burdah.

Suatu ketika, anak penulis itu terkena musibah, matanya menjadi buta. Dia dibawa oleh seorang pemuda ke rumah ayahnya, tepat saat dia bersama teman Nasraninya.

"Tolong bawa anak saya ke dokter mata supaya dia mengobatinya," Pinta penulis itu kepada pemuda.

Mendengar itu, teman Nasraninya menimpali, “Kamu tidak perlu membawanya ke dokter mata, bukankah kamu menyangka bahwa Qasidah Burdah dapat memberikan kesembuhan?”

Penulis tersebut menjawab, “Iya! Demi Allah, aku tidak akan mengobati anakku kecuali dengan Burdah.”

Singkat cerita, penulis itu meletakkan Qasidah Burdah di atas mata anaknya. Belum lewat dua hari, mata si anak kembali pulih sebagaimana mestinya.

Melihat kejadian itu, teman yang beragama Nasrani itu berkata, “Tidak ada keraguan setelah melihat langsung.” Dia pun masuk Islam, dan beragama dengan baik.

Dalam Syarah Al-Anthaki: salah seorang Syekh memiliki kebiasaan memberikan wasiat murid-muridnya untuk membaca Burdah. Beliau berkata, “Burdah salah satu perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah, sudah banyak orang yang beruntung dengan membacanya. Dengan membaca Burdah, orang yang ketakutan akan merasa aman, kegelisahan akan hilang, masalah akan mudah terselesaikan, dan tempat yang dibacakan Burdah akan senantiasa dihujani kasih sayang Tuhan dan keberkahannya.”