Judul buku ini terinspirasi dari foto petugas bersih-bersih yang ditugaskan mengepel di pelataran Ka’bah, pada saat semua muslim di seluruh dunia tidak dapat melaksanakan ibadah haji maupun umrah di tanah suci, bahkan penduduk serta Pangeran Kerajaan Arab Saudi juga dilarang ke Baitullah (Rumah Allah) karena pandemi Covid-19.

Beredar di media sosial, foto rumah ibadah umat agama lain pun sepi. Di Vatikan dan di Tembok Ratapan. Tidak hanya umat Islam, umat agama lain juga mengalami hal yang sama.

Hikmah yang didapat dari foto media massa tersebut, mengingatkan penulisnya, Habib Ja’far Al-Hadar pada salah satu kutipan sufi fenomenal asal Persia, Jalaluddin Rumi. Ia berkata “Aku mencari Tuhan di kuil, gereja, dan masjid. Tapi aku menemukan-Nya di hatiku”.

Maka, menurut Habib Ja’far sejatinya Tuhan itu ada di hati kita. Ketika seseorang diliputi oleh ketaatan dan cinta atas-Nya, maka ke mana pun ia menghadap, niscaya dia melihat-Nya. Masjid bisa dihancurkan, Ka’bah bisa sunyi, namun hati manusia yang beriman bakal abadi dalam ketaatan dan kecintaan pada-Nya.

Hijrah

Buku ini memaparkan bagaimana belakangan ini fenomena hijrah menjadi sangat populer di kalangan muslim Indonesia. Tetapi, terkadang hijrah yang dilakukan oleh sebagian orang hanya bersifat hukum saja, padahal cakupannya tidak hanya dimensi-dimensi ritual saja.

Misalnya, mereka melakukan hijrah dari yang tidak menutup aurat menjadi menutup aurat, atau tidak shalat berjamaah menjadi shalat berjamaah di masjid. Tentu itu bagus, tidak salah. Tapi, hijrah cuma dipahami sebatas itu saja. Menurut penulisnya, Habib Ja’far, itu problematik. Sebab, mempersempit makna hijrah.

Sedangkan dalam Islam, hijrah itu doktrin yang sangat esensial dan maknanya sangat mendalam, sehingga dapat mencakup seluruh aspek kehidupan di dunia. Hakikat makna dari hijrah sebagaimana yang terdapat dalam surat At-Thalaq (65) ayat 11, adalah “berpindah” dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. Sebab Allah memberi perintah kepada Nabi Muhammad saw agar membawa umat manusia dari kegelapan menuju cahaya, sehingga tidak hanya dimensi hukum saja, melainkan juga dimensi-dimensi lagi yang mencakup segala dimensi kehidupan umat manusia.

Habib Ja’far menegaskan bahwa hijrah seharusnya tidak hanya meliputi aspek hukum (fikih) saja, tapi berbagai aspek keislaman lainnya. (hal 22)

Sampaikanlah Kebenaran walau Lucu

Selain itu, buku ini juga memaparkan bagaimana tokoh-tokoh masa klasik Islam, menyampaikan kebenaran sambil dibalut dengan komedi. Seperti Nasaruddin Khoja, Abu Nawas atau bahlul yang dikenal dengan karakter yang sama, bahkan sahabat Nabi pun ada yang suka bercanda namanya Nuaiman.

Mereka merupakan tokoh yang sering melontarkan candaan atau komedi dalam Islam. Sesungguhnya bercanda diperbolehkan, lebih-lebih lagi apabila canda dijadikan media untuk berdakwah atau bahkan mengkritik.

Misalnya, Bahlul mempunyai kelakar yang berisi kritik mengenai serban. Pada suatu hari ia berjalan di pasar dengan memakai serban. Masyarakat yang ada di pasar pun datang padanya bertanya tentang berbagai hal soal agama.

Bahlul menjawab pertanyaan mereka dengan kalimat singkat, “Saya tidak tahu!”

Alhasil seorang di pasar mengkritiknya, “Kamu ini memakai serban tapi tidak bisa jawab soal-soal agama yang menjadi pertanyaan kami!”

Kemudian ia melepas serbannya, setelah itu ia pakaikan ke orang itu, lalu Bahlul bertanya balik, “Sekarang coba jawab sendiri pertanyaanmu tadi dan pertanyaan-pertanyaan orang-orang.”

Tentu orang itu menjawab, “Ya saya tak tahu lah!”

Kemudian Bahlul menasihati, “Ya sudah, ilmu itu di dalam kepala, bukan di serban yang dililit di luar kepala.”

Artinya, seseorang dapat menipu dengan tampilan seolah ustadz, padahal yang paling penting ialah ilmu bukan penampilan. (hal 155)

Menurut saya, buku Tuhan Ada di Hatimu ini bisa menjadi salah satu rekomendasi bagi pembaca yang ingin mencari buku bacaan yang bertemakan Islam untuk generasi milenial namun tetap berpedoman pada Al-Qur’an dan sunnah serta kitab-kitab klasik. Buku ini juga layak dibaca oleh kalangan yang masih awam dalam mempelajari Islam. Sebab, bahasa yang disampaikan sangat sederhana sehingga dapat dipahami dengan mudah sekali.