Di dalam kitab al-Adab al-Mufrad, bab Bai’ al-Khâdim minal-A’râb, hlm. 68, No. 162, Imam al-Bukhari rahimahullahu ta’âlâ meriwayatkan:

عَنْ عَمْرَةَ، أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا دَبَّرَتْ أَمَةً لَهَا، فَاشْتَكَتْ عَائِشَةُ، فَسَأَلَ بَنُو أَخِيهَا طَبِيبًا مِنَ الزُّطِّ، فَقَالَ: إِنَّكُمْ تُخْبِرُونِي عَنِ امْرَأَةٍ مَسْحُورَةٍ، سَحَرَتْهَا أَمَةٌ لَهَا، فَأُخْبِرَتْ عَائِشَةُ، قَالَتْ: سَحَرْتِينِي؟ فَقَالَتْ: نَعَمْ، فَقَالَتْ: وَلِمَ؟ لَا تَنْجَيْنَ أَبَدًا، ثُمَّ قَالَتْ: بِيعُوهَا مِنْ شَرِّ الْعَرَبِ مَلَكَةً.

Dari ‘Amrah, seorang tabi’in perempuan, ia menyampaikan bahwa Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anhâ pernah menyampaikan kepada seorang budak perempuannya, bahwa ia akan merdeka jika beliau (Sayyidah Aisyah r.a.) meninggal dunia. Setelah beberapa waktu berjalan beliau jatuh sakit.

Para sepupu beliau pun menanyakan kondisi beliau kepada seorang tabib dari Sudan.

Tabib itu menjawab, “Kalian memberitahu saya tentang seorang wanita yang telah disihir atau diguna-guna. Ia telah diguna-guna ataudisihir oleh budak perempuannya sendiri.”

Ketika informasi tersebut disampaikan kepada Sayyidah Aisyah r.a., beliau segera melakukan tabayyun kepada budak perempuanya tersebut.

“Apa betul benar kamu telah menyihirku?” tanya Sayyidah Aisyah ra.

“Iya.” jawab sang budak singkat.

“Kenapa kau lakukan itu?! Kamu selamanya tidak akan pernah selamat,” bentak Aisyah r.a. dengan nada marah.

Kemudian beliau berkata kepada orang-orang, “Jual budak ini kepada orang Arab yang sikapnya sangat buruk terhadap para budaknya.”

Dari kisah di atas ada beberapa yang dapat disimpulkan, antara lain:

- Tidak bisa dipungkiri bahwa ada sebagian orang yang Allah beri kemampuan untuk mengetahui perkara-perkara yang supranatural.

- Tabayyun yang dilakukan Sayyidah Aisyah r.a. menjadi teladan bagi siapa saja yang mendengar informasi-informasi seperti di atas.

Sayangnya, banyak orang yang langsung percaya saat mendengar informasi seperti di atas dari orang yang dianggap “pintar”. Padahal belum tentu benar, apalagi jika dari sumber-sumber yang sulit dibuktikan kredibilitasnya, seperti jin. Dampaknya, tidak sedikit anggota sebuah keluarga saling bermusuhan dan saling dendam dengan alasan yang tidak jelas. Parahnya lagi, dendam dan permusuhkan tersebut kadang diturunkan ke anak cucu.

Karena ketidaksabaran budak tersebut, akhirnya Sayyidah r.a. mengurungkan keinginannya untuk memerdakakannya. Ini adalah satu contoh bahwa sikap tidak sabar dan tergesa-gesa seringkali merugikan diri sendiri.

Ini sejalan dengan sebuah kaidah yang disebutkan Imam Suyuthi (w. 911 H) di dalam al-Asybâh wan-Nazhâir-nya:

مَن اسْتَعْجَلَ شَيْئاً قَبْلَ أَوَانِهِ عُقِبَ بِحِرْمَانِهِ

“Barang siapa menyegerakan sesuatu sebelum waktunya, maka ia dijatuhi sanksi dengan tidak mendapatkan sesuatu tersebut.”

Wallahu a’lam bish-shawâb.