Suatu waktu Malik bin Dinar berjalan di gang-gang kota Baghdad. Tiba-tiba, dia berpapasan dengan seorang selir (jariyah) seorang bangsawan yang sangat cantik menawan; mengendarai kuda terbaik dengan membawa serta pelayannya. 

“Wahai Jariyah, apakah tuanmu mau menjualmu?” Malik bin Dinar mengejarnya.

“Kamu bilang apa, kakek tua?!” jawab jariyah dengan nada merendahkan. 

Apakah tuanmu mau menjualmu?” Malik bin Dinar mengulangi.

Seandainya iya, apa orang sepertimu sanggup membeli?!” Sergah jariyah.

“Iya, bahkan yang lebih baik darimu.” Jawab Malik bin Dinar dengan sombongnya.

Jariyah hanya tertawa lebar sembari meminta pelayannya agar membawa Malik bin Dinar ke rumah tuannya. Sesampai di pintu rumah, si Jariyah bercerita pada tuannya tentang kejadian tadi. Karena penasaran, Malik bin Dinar diminta menghadap kepada sang tuan. Saat melihat Malik bin Dinar sang tuan merasa segan.

Apa maumu?” kata tuan memberanikan diri.

Jual jariyahmu padaku!” pinta Malik bin Dinar.

Apa kamu mampu membelinya? Harganya dua keping emas,” kata si tuan membuka tawaran.

Dengan cacat yang begitu banyak?!” jawab Malik bin Dinar dengan maksud menurunkan harganya.

Semua yang ada dalam ruangan itu tertawa.

“Apa cacat jariyah saya?” tanya sang tuan.

Malik bin Dinar menjawab “Jika dia tidak memakai parfum maka akan menimbulkan aroma tidak sedap, jika tidak menggosok gigi dengan siwak bau mulutnya akan tajam, jika tidak menyisir rambut maka akan terlihat berantakan, jika umurnya panjang maka akan segera keriput menua; dia mengalami menstruasi, air kencing yang pesing, kotoran, dan semua kesumpekan. Bisa jadi dia tidak menyukaimu kecuali karena mengharap keuntungan buat dirinya. Tak menepati janji dan tak pernah benar-benar mencintaimu. Begitu yang dia lakukan saat diwarisi anak cucumu.”

“Saya,” kata Malik bin Dinar membuat si tuan semakin penasaran “bisa memberimu jariyah yang jauh lebih baik dari dia; jariyah yang aromanya lebih harum dari misk dan kafur, zafron; lebih berkilau dari permata dan cahaya; ludahnya saja bisa membuat air laut menjadi tawar; seandainya dia mengajak bicara mayat maka akan bangun dari kematiannya; jika lengannya dibuka maka matahari akan menjadi gerhana dan gelap; jika dia muncul dalam kegelapan maka akan menjadi penerang; jika dia menampakkan diri dengan perhiasannya maka seluruh jagat raya akan menjadi indah.” 

Si tuan semakin penasaran mendengar ucapan Malik bin Dinar.

Lalu Malik bin Dinar melanjutkan, “Dia hidup di taman penuh dengan misk, zafron; di antara bukit-bukit batu mulia yaqut dan marjan, hidup dalam kemah kenikmatan dan meminum air tasnim (surgawi); tak pernah mengingkari janji dan cintanya tak pernah berpaling ke lain hati. Mana menurutmu yang layak dibeli?”

Sang tuan menjawab,Jariyah yang telah kamu deskripsikan.”

“Harganya murah dan mudah didapatkan,” kata Malik bin Dinar.

“Berapa harganya?” kejar si tuan.

“Sedikit pengorbanan (di dunia) untuk mendapat balasan terbaik (di akhirat): cukup dua rakat di tengah malam yang kamu ikhlaskan hanya demi Tuhanmu, meletakkan makananmu untuk mengingat dan disedekahkan pada orang yang kelaparan demi memerangi syahwatmu dan mendahulukan Tuhanmu, menyingkirkan rintangan dari jalan umum, baik berupa batu atau kotoran; memutus diri dari bekal dan hidup cukup dengan menyingkirkan kesenangan hidup di dunia melalui jalan qanaah.” Malik bin Dinar menawarkan.

“Dengan demikian, kamu akan menuju akhirat dengan damai, dan kamu akan dijamu di sisi Tuhanmu dengan abadi.” Malik bin Dinar menjamin.

Si tuan kemudian menoleh ke arah jariyahnya, “apa kamu sudah mendengarnya, wahai jariyah!”

“Iya,” jawab si jariyah.

“Maka, kamu sejak saat ini merdeka (dari status jariyah=budak). Ambil semua yang kamu inginkan sebagai sedekah dari saya.” ujar si tuan pada jariyah cantiknya.

“Dan kalian, wahai para pembantu dan pelayanku, juga bisa mendapatkan apa yang kalian inginkan di rumah ini. Silahkan diambil sebagai sedekah dariku.” Si tuan memperkuat keputusannya.

Si tuan kemudian mengambil baju paling kasar seraya pamit.

Si jariyah menyusul dengan mengganti bajunya juga,Celaka, tak ada kehidupan tanpa tuan. Saya ikut!”

Keduanya meninggalkan kehidupan glamor dan hedon menuju jalan kesufian berkat dakwah Malik bin Dinar. 

Malik bin Dinar adalah seorang ulama sufi dari kalangan tabi’in, perawi hadis yang terpercaya. Memiliki nama lengkap: Abu Yahya Malik bin Dinar. Dilahirkan di Kufah dan belajar pada sahabat Anas bin Malik, dan pembesar tabi’in seperti al-Hasan al-Bashri dan Said bin Jubair. Malik bin Dinar merupakan teladan terbesar kezuhudan. Namanya abadi dalam karya-karya kaum sufi.