Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Baiat Aqabah Dua: Taktik Politis Loyalitas Umat Islam

Avatar photo
426
×

Baiat Aqabah Dua: Taktik Politis Loyalitas Umat Islam

Share this article
Masjid Baiat atau Masjid Aqabah di Mekkah yang lokasinya menjadi tempat Baiat Aqabah.(Skyscrapercity)
Masjid Baiat atau Masjid Aqabah di Mekkah yang lokasinya menjadi tempat Baiat Aqabah.(Skyscrapercity)

Islam adalah agama yang besar dan perkembangannya sangat pesat, tidak lepas dari perjuangan Rasulullah Saw. Dakwah yang diajarkannya tidak hanya mengandalkan kebijakan, tetapi menyampaikan dakwah dengan kecerdasan. Hal itu terlihat dalam menyampaikan dakwahnya saat musim haji

Tahun ke-11 kenabian, Rasulullah Saw memberikan tawaran ke berbagai suku untuk membela dan melindunginya, sebagaimana yang ia lakukan setiap tahunnya. Ketika Rasulullah Saw berada di Aqabah, ia bertemu dengan sekelompok orang dari Suku Khazraj yang dikehendaki kebaikan oleh Allah dengan masuk Islam.

Syekh Said Ramadhan al-Buthi dalam kitab Sirah-nya menyebutkan, ketika Rasulullah Saw berbicara dan mengajak mereka masuk Islam, mereka saling berpandangan, lalu berkata: “Ketahuilah, demi Allah, inilah nabi yang kerap disebutkan kaum Yahudi untuk mengacam kita. Jangan sampai kita didahului oleh mereka dalam mengikutinya.”

Mereka yang terdiri dari enam orang menyambut ajakan Rasulullah Saw untuk masuk Islam dan berkata:

“Kaum kami adalah kaum yang kerap kali bermusuhan dan berbuat buruk satu sama lain. Semoga Allah mempersatukan mereka melalui dirimu. Kami akan menemui mereka dan mengajaknya untuk mengikutimu. Kami juga akan memberikan tawaran kepadanya agama yang telah kami terima. Jika Allah mempersatukan mereka di bawah kepemimpinanmu. Maka tidak ada seorang pun yang lebih perkasa daripada Engkau!”

Kemudian mereka pulang dan berjanji kepada Rasulullah Saw untuk bertemu pada musim haji berikutnya. (Muhammad Said Ramadhan al-Buthi, Fiqhus Siratin Nabawiyah, [Bairut, Darul Fikr: 2013], halaman 130-131).

Sosok Muqri’ Al-Madinah (Juru Qira’ah Kota Madinah)

Pada musim haji berikutnya Rasulullah Saw mengutus Mush’ab bin Umair al-Abdari ke Madinah untuk ikut bersama dua belas laki-laki yang datang menemuinya di Aqabah. Ia adalah sahabat Rasulullah Saw yang ditugaskan untuk membacakan Al-Qur’an kepada mereka, mengajarinya tentang Islam, dan membantunya memahami agama. Bahkan, mereka juga diajarkan cara berdakwah sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Karena tugasnya, ia dijuluki Muqri’ Al-Madinah (juru qira’ah Kota Madinah). Inilah Baiat Aqabah pertama.

Mush’ab bin Umair al-Abdari adalah salah satu duta Islam yang mampu mengislamkan beberapa perkampungan yang ada di Yastrib karena kesejukan dakwahnya, kecuali di perkampungan Bani Umayyah bin Zaid, Khatmah, dan Wa’il, karena di lingkungan mereka ada seorang penyair ulung yang sangat berpengaruh, yaitu Qais bin al-Aslat.

Pada musim haji berikutnya tahun ke-13 kenabian atau pada bulan Juni 622 M, Mush’ab bersama serombongan besar kaum Muslim Madinah kembali ke Mekkah. Mereka berjumlah 70 orang laki-laki dan dua orang perempuan, yaitu Nusaibah binti Ka’ab dan ‘Asma binti ‘Amr bin ‘Adiy. Ia berangkat ke Mekkah menyusup di tengah jama’ah haji kaum musyrik. Terbukti keberhasilan dakwah Mush’ab pada baiat sebelumnya hanya diikuti enam penduduk Yastrib.

Kedatangan mereka tidak hanya untuk haji, melainkan ingin bertemu Rasulullah Saw dan melakukan baiat. Singkat cerita, mereka bertemu dengan Rasulullah Saw dalam keadaan sembunyi-sembunyi. Mereka dibacakan Al-Qur’an oleh Rasulullah Saw, kemudian Rasulullah bersabda, “Aku membaiat kalian untuk membelaku, seperti kalian membela istri-istri dan anak-anak kalian.” Peristiwa ini kemudian dinamakan sebagai Baiat Aqabah Kedua atau Baiat Aqabah Kubra.(Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Rahiqul Makhtum [Riyadh: Muntada ats-Tsaqafah, 2013], halaman 133-141).

Alasan Adanya Baiat (Aqabah)

Pada zaman Rasulullah Saw, setiap orang yang masuk Islam harus berpihak kepada Islam dan mengikuti seruan-seruannya. Karena, merupakan kewajiban baginya dan bukti bahwa ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Hal ini tentu menjadi pertanyaan, mengapa orang yang masuk Islam harus dibaiat padahal ia jelas-jelas sudah Islam, beriman, dan melakukan syahadat?

Jawabannya adalah, karena ingin membentuk sebuah kekuatan, kesetiaan, membangun loyalitas, dan melakukan sumpah setia bahwa umat Islam harus taat kepada Rasulullah Saw dengan patuh terhadap perintahnya. Mengapa Rasulullah Saw melakukan baiat? Karena, pada awal-awal Islam, umat Muslim masih dalam fase pembentukan kekuatan dan untuk membentuk basis kekuatan yang kuat. Oleh sebab itu, dengan adanya baiat akan menjadi sumpah setia bahwa mereka siap mengorbankan segalanya untuk memperjuangkan agama Islam. 

Nusaibah binti Ka’ab adalah sahabat Rasulullah Saw yang berasal dari kaum Anshar dan memiliki gelar Ummu Imarah. Ia menyatakan masuk Islam pada saat Baiat Aqabah Kedua bersama suaminya, Zaid bin Ashim, dan dua orang putranya, Habib dan Abdullah sebelum Rasulullah Saw hijrah ke Madinah. Ia dikenal sebagai sahabat perempuan yang loyal dalam memperjuangkan Islam, bahkan ia rela mempertarukan nyawanya untuk melindungi Rasulullah. 

Hari Sabtu, setelah tujuh malam di bulan Syawwal berlalu atau selang 32 bulan setelah hijrah, Rasulullah Saw keluar bersama seribu pasukan untuk memenuhi tantangan orang-orang kafir Quraisy yang mengajak Islam untuk berperang lagi. Di antara sahabat yang ikut keluar, yaitu Nusaibah bersama suaminya dan dua orang putranya. Peristiwa ini dikenal dengan Perang Uhud.

Selain Perang Uhud, Nusaibah bersama suaminya dan dua orang putranya juga ikut dalam peristiwa Hudaibiyah, Perang Khaibar, Perang Hunain, dan Perang Yamamah. Nusaibah tidak hanya membagikan air minum kepada bala tentara Islam dan mengobati yang terluka. Tapi, ia juga memanggul senjata untuk menyambut serangan lawan.

Beberapa tahun setelah Perang Yamamah atau pada masa kekhalifaan Sayyidina Umar bin Khattab pada tahun ke-13 H, Nusaibah meninggal dunia. Ia menjadi teladan bagi umat Islam, bahwa tugas perempuan tidak melulu di belakang. Namun, perempuan juga bisa tampil ke depan dan bahkan ikut memanggul senjata bersama dengan pasukan Muslim memerangi musuh-musuh Islam. (Abdurrahman Umairah, Wanita-Wanita dalam Al-Qur’an, [Pustaka Al-Kautsar: 2020], halaman 351-372).

Baiat yang dilakukan pada masa Rasulullah Saw dan Khalifah memiliki kesamaan yaitu untuk membentuk loyalitas. Namun, juga memiliki perbedaan, karena pada masa Rasulullah umat Islam masih terbilang sedikit. Tetapi, pada masa khalifah umat Islam sudah tersebar luas.

Pada masa khalifah, baiat lebih ke ranah politik. Karena, termasuk dalam pengangkatan seorang pemimpin, makanya dilakukan baiat sumpah setia untuk nurut pada satu khalifah, agar umat Islam tidak terpecah belah.

Kontributor

  • Danial M

    Alumni Pondok Pesantren Hj. Haniah, Maros. Mahasantri Ma’had Aly Sa’idussidiqiyah, Jakarta.