Ilmu ekonomi Islam kerap dipahami sebatas praktik perbankan syariah, zakat, atau pembiayaan berbasis syariah. Padahal, di balik itu semua, masih ada pekerjaan besar yang belum tuntas: menghadirkan kerangka filosofis yang kokoh. Tanpa membicarakan aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi, ekonomi Islam akan selalu tampak serupa dengan ekonomi konvensional, hanya diberi label agama.
Saya teringat sebuah karya klasik dari Umer Chapra yang menunjukkan betapa pentingnya fondasi filosofis ini. Meskipun ditulis puluhan tahun lalu, gagasannya tetap relevan hingga hari ini. Ia menegaskan bahwa ekonomi Islam bukan sekadar kumpulan instrumen keuangan atau regulasi bisnis, melainkan sebuah ilmu yang harus berdiri di atas paradigma utuh.
Buku yang aslinya berjudul “what islamic economics” yang diterjemahkan oleh Ikhwan Abidin Basri ini sempat dipresentasikan oleh Umer Chapra di IDB tahun 1990. Beliau menerjemahkan banyak Buku Ekonomi Islam oleh pakar Ekonomi Islam karena merasa Ilmu ini dirasa belum “ajeg” dbandingkan Ilmu ekonomi konvensional. Buku yang saya baca berjudul “Epistemologi Ekonomi Islam” terbitan tahun 2010.
Buku ini menyadarkan bahwa ekonomi Islam masih jarang membahas aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Sekilas tampak rumit dan tidak praktis, tetapi tanpa fondasi filosofis tersebut, ekonomi Islam sulit dipahami sebagai sebuah disiplin ilmu yang utuh.
Tidak heran bila masyarakat kerap melihat ekonomi Islam serupa saja dengan ekonomi konvensional. Akademisi pun sering gelagapan menjawab perbedaan mendasar antara keduanya. Padahal, filosofi dan paradigma ekonomi Islam adalah ibarat rumah besar yang menaungi berbagai cabang ilmu praktis di dalamnya. Sayangnya, hingga kini cabang-cabang tersebut masih berjalan sendiri-sendiri: ekonomi mikro dan makro ke utara, keuangan publik ke timur, moneter ke selatan, lembaga keuangan komersial ke barat.
Untuk menjelaskan urgensi aspek filosofis ini, saya teringat dengan gerakan Free Open Source Software (FOSS) yang digagas Richard Stallman di MIT pada tahun 1983. Gerakan ini ingin melawan dominasi sistem operasi komersial seperti Windows dan Macintosh dengan menciptakan perangkat lunak bebas dan terbuka. Proyek itu melahirkan GNU (GNU is Not Unix), namun GNU tidak dapat berjalan sempurna karena kekurangan kernel—inti sistem operasi yang menghubungkan perangkat keras dan perangkat lunak.
Barulah pada 1991 Linus Torvalds menciptakan kernel Linux. Sejak saat itu, GNU dan Linux bersanding menjadi GNU/Linux, sebuah sistem operasi terbuka yang mendunia. Meski belum terlalu populer untuk komputer pribadi, GNU/Linux menjadi fondasi bagi server, superkomputer, hingga sistem Android di ponsel kita hari ini.
Analogi ini sejalan dengan kondisi ekonomi Islam. Berbagai ilmu parsial dalam ekonomi Islam ibarat kumpulan program komputer, sementara aspek filosofis dan paradigma ekonomi Islam adalah kernel-nya. Tanpa kernel, sistem tidak akan pernah berjalan baik. Begitu pula, tanpa landasan filosofis dan paradigma yang kokoh, ekonomi Islam tidak akan berkembang menjadi disiplin ilmu yang utuh.
Umer Cahpra dalam bukunya mengajukan lima solusi agar persoalan ini dapat diatasi: Pertama, memperbanyak referensi yang dapat dipertanggungjawabkan, khususnya literatur berbahasa Inggris dan Arab, agar horizon ekonomi Islam lebih luas. Kedua, menjabarkan ekonomi Islam secara integral, bukan parsial. Ketiga, mengimbangi hamasah (semangat) dengan bashirah (kejernihan nalar), yakni sikap kritis dalam kajian ekonomi Islam. Keempat, menekankan akar (filosofi) ekonomi Islam dalam sosialisasi dan perkuliahan, bukan hanya cabang dan buahnya. Kelima, menghubungkan kajian ekonomi Islam dengan ajaran pokok Islam: akidah, syariah, dan akhlak.
Tentu saja hal ini bukan perkara mudah. Jika mudah, persoalan tersebut pasti sudah selesai di tahun 2025 sekarang. Namun faktanya, jalan ini memang berat. Karena itu, tugas kita bersama sebagai akademisi ekonomi Islam adalah membangun rumah besar bagi disiplin ilmu ini, dengan landasan filosofis yang kokoh.
Saya membayangkan suatu saat akan lahir mazhab ekonomi Islam yang “ajeg”, layaknya Mazhab Cambridge atau Chicago yang mewarnai sejarah ekonomi modern. Sebuah mazhab yang tidak hanya membedakan diri dari ekonomi konvensional, tetapi juga menjadi rujukan peradaban.
Mencari Fondasi Filosofis bagi Ekonomi Islam






Please login to comment