Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Salat Tidak Mengenyangkan Si Lapar

Avatar photo
169
×

Salat Tidak Mengenyangkan Si Lapar

Share this article
Selain saleh untuk dirinya (ke dalam), orang beriman juga harus saleh untuk orang lain (ke luar).
Selain saleh untuk dirinya (ke dalam), orang beriman juga harus saleh untuk orang lain (ke luar).

Misalnya, suatu ketika, datanglah kepada kita orang yang menahan lapar sembari memegangi perutnya yang melilit.

Bajunya lusuh. Tubuhnya tampak lemah.

“Aku lapar. Sudah seharian ini lambungku belum kemasukan makanan apa pun. Jika berkenan, berilah aku sesuap nasi untuk mengganjal perutku yang makin melilit!” pintanya.

“Aku salat sunnah dulu, ya. Tunggu sejenak,” jawab kita.

Kita pun menunaikan salat sunnah beberapa rakaat; dua, empat, enam, delapan dan sepuluh.

“Sudah kenyang?” tanya kita padanya.

“Belum. Lambungku masih melilit,” jawabnya.

“Baik! Aku salat sunnah lagi dan akan kuperbanyak jumlah rakaatnya,” kata kita. Kita pun memperbanyak salat sunnah kita, hingga ratusan rakat.

“Apakah dengan salatku yang ratusan rakaat itu perutmu menjadi kenyang dan lambungmu menjadi terisi?” tanya kita.

“Tidak! Tidak sama sekali! Salatmu yang ratusan rakaat itu tidak mengubah masalah dalam perutku dan tidak membuat perut laparku menjadi lebih baik,” jawabnya.

Begitulah kiranya, ilustrasi yang bisa kita renungkan secara mendalam, bahwa tidak ada hubungan langsung antara salat dengan rasa lapar. Tidak ada imbas otomatis dari ratusan rakaat yang kita tunaikan dengan kenyangnya perut orang yang lapar. Apa sebab? Salat adalah ibadah yang dimensinya pribadi. Murni urusan hamba dengan Allah Swt. yang lumrah disebut ibadah mahdhah. Juga, salat itu dimensinya spiritual bukan material. Dampaknya pun spiritual, bukan material. Dan, tentu saja, kemanfaatannya hanya dirasakan oleh diri sendiri pelakunya: ketenangan, kenyamanan, atau sejenisnya.

Betul, bahwa Salat itu tanha ‘an al-fahsya’ wa al-munkar/mencegah perbuatan keji dan mungkar (Qs. al-Ankabut: 45). Tapi itu berlaku hanya untuk pelakunya. Tidak berlaku bagi orang lain. Salat (mestinya) membuat pelakunya menjadi orang baik. Bahwa masyarakat tidak terganggu secara sosial oleh perilaku keji dan mungkarnya, itu sifatnya hanya dampak lanjutan. Itu pun jika salatnya ditunaikan dengan sungguh sungguh dengan menghadirkan Allah Swt. dalam setiap momennya.

Untuk itu, umat Islam tidak cukup hanya menekuni ibadah mahdhah yang berdimensi individual ini. Selain saleh untuk dirinya (ke dalam), orang beriman juga harus saleh untuk orang lain (ke luar). Selain ibadah mahdhah, ibadah ghairu mahdhah (ibadah yang terkait manusia lain) juga semestinya ditekuni bahkan selaiknnya menjadi life style. Misalnya, ibadah sosial berupa ZIS (zakat, infak dan sedekah). Tak heran, jika Islam punya rangkaian pilar utama atau rukun Islam yang terdiri dari ibadah pribadi dan ibadah sosial: syahadat (pribadi), salat (pribadi), puasa (pribadi), zakat (sosial) dan haji (pribadi).

Namun seyogyanya, ibadah pribadi ini turut memicu dampak sosial lanjutan. Itu sebabnya, jika kita hanya fokus pada pemenuhan ibadah salat dan abai pada sisi kemanusiaan (orang lapar, orang sakit, fakir-miskin, duafa, jompo, dll), rasanya diri kita ini belum utuh menjadi hamba Allah Swt. yang kamil. Ibarat mobil, rodanya kempes sebelah, sehingga jalannya miring dan terseok. Ibarat meja, kakinya ada yang patah, sehingga meja itu tidak bisa berdiri tegak. Karenanya, banyak ayat maupun hadis yang menganjurkan perilaku sosial ini, untuk menyeimbangkan dan menyempurnakan status hamba kita.

Inilah al-muta’addi afdhal min al-qashir (ibadah yang manfaatnya dirasakan orang lain lebih utama ketimbang ibadah yang manfaatnya dirasakan diri sendiri). Dus, dengan salat saja, orang lapar tetap lapar sampai kapan pun. Sebaliknya dengan zakat, infak atau sedekah, dalam sekejap orang yang lapar akan terpenuhi kebutuhan perutnya dan menjadi kenyang. Semoga kita mampu menyeimbangkan antara kesalehan pribadi dan kesalehan sosial ini.

Ditulis oleh H. Nurul H. Maarif. Tulisan ini tayang pertama kali dalam Buletin Rumah Wasathiyah.

Kontributor

  • Redaksi

    Sanad Media adalah sebuah media Islam yang berusaha menghubungkan antara literasi masa lalu, masa kini dan masa depan. Mengampanyekan gerakan pencerahan melalui slogan "membaca sebelum bicara". Kami hadir di website, youtube dan platform media sosial.