Ahad pagi, 21 Juli 2024 sekira jam 8.50 WIB, kami menerima kabar kepergian untuk selama-lamanya sang mahaguru Filologi Indonesia, Prof. Dr. Achadiati Ikram, kami murid-muridnya biasa menyapa “Ibu Achadiati”, atau “Ibu Ikram”. Lahir pada tahun 1930, Ibu Achadiati telah menjadi guru Filologi bagi hampir semua pengkaji manuskrip di Indonesia saat ini.
Selamat berpulang, Ibu! Jasa-jasamu telah nyata dalam merawat keberlangsungan semangat melestarikan manuskrip Nusantara, bersama pengetahuan kearifan lokal di dalamnya. Ajaranmu adalah amal jariahmu. Surga menanti Ibu….
=====
Setiap saya ditanya tentang Prof. Achadiati Ikram, hal pertama yang terbersit dalam pikiran, dan saya yakini kebenarannya, adalah bahwa ia guru bagi hampir semua filolog Indonesia saat ini.
Kiprahnya yang istiqamah mengajar filologi di kampus Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI), Depok, membuat semua mahasiswa yang mengambil studi filologi bertemu dengannya.
Bu ikram tidak pernah berpindah ke “lain hati”. Ia masuk kuliah di Jurusan Indonesia, Fakultas Sastra UI pada tahun 1950. Karirnya sebagai dosen di kampus yang sama dimulai 6 tahun kemudian, pada 1956. Dan, ia mencurahkan seluruh pengabdiannya hingga pensiun sebagai Guru Besar kehormatan (Emeritus) di bidang filologi di FIB UI.
Otoritas keilmuan Bu Ikram sangat diakui dunia akademik nasional dan internasional. Ini menjadikannya sering menjadi narasumber langganan berbagai gelaran seminar, workshop, pelatihan, penelitian, atau diskusi terkait manuskrip Nusantara. Usianya yang panjang, 94 tahun hingga wafatnya, juga memberikan kesempatan para filolog lintas generasi berkesempatan untuk belajar, baik langsung maupun tidak langsung, kepada Bu Ikram.
Bu Ikram sudah menghasilkan puluhan, atau bahkan mungkin ratusan, murid filologi yang tersebar di seantero negeri. Para murid ini melanjutkan transfer ilmunya kepada murid-murid muda berikutnya yang tidak sempat berguru langsung kepada Bu Ikram. Lebih dari itu, Bu Ikram juga banyak menulis artikel, buku, dan makalah seminar tentang filologi. Tidak sedikit mereka yang tidak pernah bertemu dengannya, tetapi juga menjadi “muridnya” melalui karya-karya Bu Ikram.
Bu Ikram adalah salah seorang pendiri utama, dan sekaligus Ketua pertama Yayasan Naskah Nusantara (YANASSA), dan asosiasi Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Manassa Pusat.
SANAD ILMU FILOLOGI INDONEISA
Saya meyakini bahwa Ibu Ikram adalah sanad ilmu terpenting para filolog Indonesia. Ia menjadi sandaran terpercaya, yang memiliki otoritas keilmuan filologi, dan menghubungkan mata rantai keilmuan filologi Indonesia saat ini. Siapapun yang belajar filologi, hampir dapat dipastikan ia terpengaruh oleh corak pemikiran Bu Ikram, entah sadar atau tidak, entah mengenal atau tidak siapa itu Bu Ikram.
Saya pribadi menganggap Bu Ikram sebagai salah satu sanad utama keilmuan filologi yang saya tekuni hingga kini, selain guru-guru yang lain. Di tahun 1996, ketika memulai kuliah S2 di FIB UI, sanad ilmu saya mulai terhubung dengan Bu Ikram, yang memiliki sanad keilmuan filologi kepada tiga sarjana, yakni: Hoesein Djajadiningrat (1886-1960), RM. Ng. Poerbatjaraka (1884-1964), dan Prijono.
Hoesein Djajadiningrat adalah seorang Guru Besar bidang sejarah, dan ahli keislaman (islamologi). Gelar kesarjanaannya diperoleh di Universitas Leiden pada 1913. Ia adalah putra Indonesia pertama yang berhasil mendapatkan gelar akademik tertinggi di Universitas Leiden. Ia juga boleh dianggap sarjana pribumi pertama yang menggunakan pendekatan metode kritis sejarah, dan menggabungkannya dengan pendekatan filologi.
Naskah-naskah tentang sejarah Banten menjadi rujukan utamanya. Disertasinya berjudul “Critische Beschouwing van de Sedjarah Banten” (Tinjauan kritis sejarah Banten), di bawah asuhan Christian Snouck Hurgronje. Artinya, sanad keilmuan Bu Ikram tersambung ke Snouck, melalui Hoesein Djajadiningrat.
Guru Bu Ikram kedua adalah RM. Ng. Poerbatjaraka. Ia seorang bangsawan, budayawan, dan filolog ahli sastra Jawa Kuno. Ia menulis tesis di Univesitas Leiden berjudul “Agastya in den Archipel” (1926). Di akhir menjelang hidupnya, ia menjadi professor bidang Jawa Kuno di sejumlah universitas: UGM Jogja, UI Depok, dan Udayana Bali. Poerbatjaraka boleh disebut sebagai filolog otodidak. Meski demikian, limpahan karya yang ditulisnya menggambarkan sampai tingkat apa kualitas keilmuannya. Melalui Poerbatjaraka, kepakaran Bu Ikram dalam bidang Jawa Kuno terkonfirmasi.
Guru Bu Ikram ketiga yang sering disebutnya adalah Prof. Prijono. Ia juga seorang pakar filologi Jawa Kuno alumni Universitas Leiden. Disertasinya berjudul “Sri Tanjung. Een oud- Javaansch verhaal, tahun 1938. Bu Ikram memiliki kedekatan tersendiri dengan Prijono, yang merekrutnya sebagai dosen Sastra Indonesia, ketika ia menjabat sebagai Dekan pertama Fakultas Sastra UI ini tahun 1950-1956. Bu Ikram bahkan menjadi asistennya.
Melalui sanad keilmuan tiga gurunya, Bu Ikram tidak dapat dipisahkan dari tradisi filologi di Leiden, yang memiliki komitmen kuat pada tradisi kritik teks (textual criticism). Ia juga terbiasa dengan pendekatan multidisiplin, menggabungkan filologi dengan sastra, sejarah, dan belakangan dengan kajian Islam (islamic studies).
Kehebatan Bu Ikram adalah dalam hal mengayomi murid-muridnya untuk mengembangkan sendiri corak filologi yang ditekuni, sesuai minat dan kapasitasnya. Bu Ikram sangat mendorong saya menekuni filologi Arab Islam.
Saya tentu tahu, Bu Ikram bukan filolog yang menekuni manuskrip Arab, ia bahkan pernah dengan sangat rendah hati mengaku tidak memiliki pengetahuan memadai terkait bahasa yang banyak digunakan untuk menulis manuskrip keagamaan Nusantara itu. Namun, ia seorang mahaguru yang teramat bijak. Saya diijinkannya untuk memilih manuskrip Arab, sesuai minat dan kapasitas yang saya miliki.
Dari situlah muncul satu inspirasi yang hampir selalu saya sampaikan kepada mahasiswa fiolologi di kelas: “tips melakukan penelitian filologi, pilihlah manuskrip yang bahasanya paling kalian kuasai”.
Bu Ikram adalah penasihat akademik sekaligus promotor tesis dan disertasi saya di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB), Universitas Indonesia (UI) Depok. Di kelas filologi, Bu Ikram menjejali kami dengan bacaan-bacaan buku karya penelitian filologis yang ditulis oleh para filolog dan sarjana terkait lainnya. Aktifitas setiap minggu adalah presentasi, presentasi, dan presentasi.
Melalui Yayasan Naskah Nusantara (Yanassa) yang didirikannya, Bu Ikram menggaet donatur, antara lain the Ford Foundation, dan menyelenggarakan Program Penggalakan Kajian Naskah Nusantara. Saya termasuk mahasiswa yang beruntung mendapat dukungan finansial penuh dari Program ini selama menempuh pendidikan filologi di tingkat Magister, FIB UI Depok. Tanpa iming-iming beasiswa Yanassa tersebut, hampir mustahil saya melanjutkan pendidikan magister di bidang filologi.
Saya sangat beruntung mewarisi sanad ilmu filologi dari Bu Ikram, yang boleh disebut sebagai salah seorang perintis dan generasi awal pengembangan filologi di perguruan tinggi di Indonesia.
Begitulah, Bu Ikram adalah sanad utama keilmuan filologi Indonesia. Ia menghubungkan keilmuan hampir semua filolog Indonesia masa kini, baik mereka yang belajar langsung maupun tidak langsung. Bahkan, ia tidak hanya menghubungkan keilmuan para filolog, melainkan juga sejarawan, sastrawan, arkeolog, pengkaji sastra derah, pengkaji Islam Indonesia, dan masih banyak lagi murid-murid dengan ragam ilmu lainnya.
Filologi bak benih yang ditebar oleh Bu Ikram di setiap tempat, termasuk di kampus-kampus Perguruan Tinggi Keagamaan Islam. Benih itu kini telah tumbuh dengan subur.
Atas jasa-jasa besarnya ini, Prof. Achadiati Ikram mendapat Sang Hyang Kamahayanikan Award, penghargaan tertinggi yang dianugerahkan oleh Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) kepada para tokoh, baik perorangan maupun kelompok, yang dipandang memiliki kontribusi besar dalam bidang seni-budaya dan humaniora di tengah masyarakat.
Selamat Berpulang, Ibu….!
Ciputat, 21 Juli 2024
Sang murid
Oman Fathurahma









Please login to comment