Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Khutbah Jumat

Khutbah Idul Adha: Idul Adha sebagai Hari Raya Kemanusiaan

Avatar photo
2388
×

Khutbah Idul Adha: Idul Adha sebagai Hari Raya Kemanusiaan

Share this article
Idul Adha adalah hari pengorbanan sejati, bukan pada darah dan daging, tapi pada ketakwaan, kasih sayang Allah.
Idul Adha adalah hari pengorbanan sejati, bukan pada darah dan daging, tapi pada ketakwaan, kasih sayang Allah.

Khutbah Idul Adha ini menyoroti hari raya Idul Adha sebagai hari agung yang memadukan ibadah haji, puasa, dan kurban dalam momen penuh berkah. Mengangkat kisah Nabi Ibrahim dan Ismail, khutbah menegaskan bahwa inti pengorbanan bukan terletak pada darah atau daging, melainkan pada ketakwaan dan ketulusan hati.

Islam mengoreksi tradisi kuno pengorbanan manusia dan menjadikan Idul Adha sebagai simbol kasih sayang Ilahi dan pendidikan jiwa untuk rela, tunduk, dan berbagi demi kemanusiaan.

KHUTBAH PERTAMA

 

السّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ,

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

 اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالـحَمْدُ للهِ كَثـِيْرًا، وَسُـبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا ، لَاإِلهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْـبُـدُ إِلًّا إِيَّاهُ، مُخْلِـصِـيْنَ لَهُ الـدِّيْنُ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ. لَاإلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ ، صَدَقَ وَعْـدَهُ وَنَصَـرَ عَبْدَهُ ، َوأَعَـزَّ جُـنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْـدَهُ ، لَاإِلهَ إِلَّا اللهُ و اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ و للهِ الـحَمْدُ.

الـحَمْدُ للهِ اَّلذِيْ جَعَـلَ الأَعْيَادَ مُوْسِـمَ الخَيْرَاتِ , وَجَعَـلَ لَـنَا مَافِي الأَرْضِ جَـمِيْعًا لِـلعَمَّارَةِ  وَ زَرْعِ الحَسَنَاتِ.أَشْـهَـدُ أَنْ لَاإِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْـدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ خَالِـقُ الأَرْضِ وَ السَّمـوَاتِ، وَ أَشْهَدَ أَنَّ سَيِّدَنَامحمدًا عـَبْدُهُ وَ َرسُوْلُهُ الـدَّاعِي إِلَى دِيْـنِهِ بِأَوْضَحِ البَـيِّنَات

الّلهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سَـيِّدِنَا محمدٍ النَّبيِّ الـكَرِيْمِ وِعَلَى ألِهِ وَصَحْـبِهِ وَ التَّابِعِـيْنَ الـمُجْـتَهِـدِيْنَ لِـنُصْرَةِ الـدِّينِ وَ إِزَالَةِ الـمُنـكَرَاتِ ، أمّا بَعْدُ . فَـيَا أَيُّهَا الـمُسْلِـمُوْنَ أَسْعَدَكمُ اللهُ عِيْدَكُمْ!

أُوْصِـيكمُ وَ إِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَـقَدْ فاَزَ الـمُتَّـقُوْنَ، إِتَّـقُواااللَه حَقَّ تُـقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَ أَنْتُمْ مُـسْلِمُوْنَ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ وَ عِيْدٌ كَرِيْمٌ

وَقَالَ اللهُ تَعَالَى : إِنّا أَعْطَيْنَاكَ الكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَالأَبْتَرُ

Jamaah sekalian kaum muslimin yang berbahagia!

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita kesempatan untuk berkumpul di hari yang penuh berkah ini, yaitu hari yang mulia, Syahr al Hurum dan Īed al-Akbar. Ini adalah hari yang lebih besar dari sekadar perayaan biasa, bahkan di negeri-negeri Arab, gaung perayaan ini lebih terasa daripada Idul Fitri. Hari di mana segala ibadah besar dikumpulkan oleh Allah dalam waktu yang penuh kemuliaan.

Di hari yang penuh berkah ini, kita menyaksikan puasa, kurban, dan rangkaian ibadah haji yang dilaksanakan oleh jutaan umat Islam dari seluruh dunia. Semua ibadah ini menyatu dalam sebuah momen yang penuh keutamaan. Doa-doa kita terlantun, harapan kita terpanjatkan, dan segala amal ibadah kita dibarengi dengan ketulusan hati dan pengharapan yang tinggi kepada Allah.

Segala puji hanya bagi Allah, yang telah memuliakan umat manusia, mengajarkan makna cinta, pengorbanan, dan ketundukan sejati melalui teladan para nabi, terutama Nabi Ibrahim ‘alaihi al-salām. Hari ini, kita diingatkan akan nilai-nilai yang beliau ajarkan, tentang ketulusan dalam beribadah dan pengorbanan yang tidak mengharapkan balasan, hanya karena Allah semata.

Marilah kita manfaatkan hari yang mulia ini untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah, memperbaiki amal ibadah kita, dan memperkuat tali persaudaraan antar sesama. Semoga Allah menerima ibadah kita dan memberikan kita keberkahan yang melimpah. Aamiin.

Jama’ah ‘Īed yang dirahmati Allah,

Sebelum era kenabian, banyak peradaban kuno meyakini bahwa pengorbanan manusia — bahkan anak sendiri — adalah bentuk persembahan tertinggi kepada “tuhan.” Tradisi human sacrifice ini ditemukan dalam budaya Fenisia, Kartago, Kanaan, dan sebagian Arab Jahiliyah.

Fenisia adalah peradaban Semit yang berpusat pada negara kota Fenisia di Kartago, yang terletak di Afrika Utara di Teluk Tunis, di luar wilayah yang sekarang menjadi Tunis, Tunisia. Situs-situs seperti Tophet di Kartago berisi sisa-sisa kremasi bayi dan anak kecil dalam guci tanah liat, yang menurut banyak arkeolog dan sumber kuno merupakan hasil ritual pengorbanan, bukan sekadar pemakaman biasa.[1] Suku Kanaan dan sebagian Arab Jahiliyah juga mengenal praktik serupa.

Orang Arab pra-Islam, terutama suku pengembala, mengorbankan hewan sebagai persembahan kepada dewa. Pengorbanan manusia kadang-kadang dilakukan di Arabia, biasanya berupa tawanan perang yang dianggap sebagai bagian kemenangan dewa dalam rampasan perang, meskipun mungkin terdapat bentuk pengorbanan lain.[2]

Namun, Allah — melalui kisah Ibrahim dan Ismail — mengintervensi sejarah dan kesadaran manusia. Saat Ibrahim nyaris menyembelih Ismail karena perintah mimpi, Allah justru menghentikan tindakan itu dan menggantinya dengan seekor hewan:

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

“Dan Kami tebus anak itu dengan sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shaffat: 107)

Lalu mengapa domba yang dipilih? Riwayat dari Ibn Abbas menyebutkan bahwa domba pengganti Nabi Ismail berasal dari surga, digembalakan di sana selama puluhan musim, berwarna putih dengan mata hitam dan tanduk besar, bahkan ada yang menyebut bulu wolnya berwarna merah.[3] Hal ini menandakan domba tersebut bukan hewan biasa, melainkan hewan istimewa dan mewah. Kepemilikan dan penyembelihan domba dalam konteks ritual menunjukkan kemampuan dan kemuliaan sosial. Allah mengganti pengorbanan putra Nabi Ibrahim dengan domba yang besar dan bernilai sebagai bentuk rahmat dan kemuliaan, sehingga domba ini menjadi simbol pengorbanan yang diterima dan dihormati.

Pada sisi lain Allah menegaskan bahwa  tidak butuh darah, tidak pula daging, tapi Allah ingin melihat pengorbanan dari sesuatu yang dicintai hamba, agar hatinya tunduk dan jiwanya bersih.

Allah Swt berfirman:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَـٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ

“Tidak akan sampai kepada Allah daging-dagingnya dan tidak pula darah-darahnya, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”(QS. Al-Ḥajj: 37)

Imam Fakhruddin Ar-Razi mengatakan dalam menafsirkan ayat ini

Ketika seseorang melakukan ibadah, seperti mengucapkan perkataan yang benar, melakukan penyembelihan hewan kurban, atau menjalankan kewajiban agama lainnya, yang sesungguhnya “sampai” kepada Allah Yang Maha Tinggi bukanlah bentuk fisik dari perbuatan itu—seperti daging dan darah hewan kurban—melainkan takwa (ketaatan dan kesadaran kepada Allah) yang terkandung di dalamnya. Karena sudah diketahui bahwa sesuatu dari makhluk tidaklah pantas disebut sebagai sesuatu yang sampai kepada-Nya Yang Maha Suci.[4]

Jama’ah sekalian,

Ayat ini adalah kunci spiritual Idul Adha. Ritual penyembelihan bukan tentang darah, tapi tentang mendidik jiwa agar rela melepas, rela berbagi, dan menghapus ego.

Pengorbanan dalam budaya kuno adalah alat untuk menyalurkan kekerasan. Tapi Islam datang membalikkan logika itu: Bukan manusia yang dikorbankan untuk Tuhan, tetapi ego manusia yang harus dikorbankan demi kemanusiaan.

Idul Adha sebagai Hari Raya Kemanusiaan

Maka, Idul Adha bukan hanya hari raya ibadah — tapi hari raya kemanusiaan. Hari ini kita merayakan kasih sayang Allah yang begitu besar, kasih sayang yang Allah tunjukkan tidak hanya kepada Nabi Ibrahim, tetapi juga kepada seluruh umat manusia. Allah memang meminta Ibrahim untuk menyembelih putranya, Ismail, sebagai ujian yang paling berat dalam hidup seorang ayah. Namun, saat Ibrahim dengan penuh keimanan membenarkan perintah-Nya dan siap menjalankan dengan sepenuh hati, Allah menggantikan pengorbanan itu dengan sesuatu yang lebih baik, berupa hewan kurban sebagai ganti dari Ismail sebagai bentuk kasih sayang-Nya kepada Ibrahim dan umat manusia.

Syekh Muhammad Mutawalli asy-Syarawi dalam tafsirnya mengatakan:

“Peristiwa ini mengajarkan kepada kita, bahwa jika datang suatu ketetapan dari Allah kepadamu, maka janganlah engkau gelisah, jangan marah, jangan murka, dan jangan memberontak. Karena jika engkau melakukan itu, itu hanya akan memperpanjang masa ketetapan itu atas dirimu. Akan tetapi, berserah dirilah pada ketetapan Allah, niscaya ketetapan itu akan diangkat. Sebab, suatu ketetapan tidak akan diangkat hingga diridhai oleh yang menerimanya.”[5]

Jamaah sekalian,

Sebagai umat yang mengimani kasih sayang Allah, kita diajak untuk meneladani sikap penuh kasih itu dalam kehidupan kita sehari-hari. Jika Allah telah memberikan kasih sayang-Nya dengan tidak menjadikan Ibrahim menyembelih putranya, maka sudah sepantasnya kita memberikan kasih sayang kita kepada sesama kita. Kasih sayang itu harus kita tunjukkan kepada anak-anak kita, kepada kerabat, tetangga, anak didik, dan tentu saja kepada alam sekitar yang juga bagian dari ciptaan-Nya. Kita memang tidak mampu sedikitpun menandingin kasih sayang Tuhan, namun kita diajak untuk meniru dan menyalurkan kasih sayang itu dalam bentuk yang nyata. Meskipun kita tidak akan pernah mampu menandingi kasih sayang Tuhan yang Maha Luas, kita tetap bisa berusaha memberikan yang terbaik dalam kehidupan kita sehari-hari. Kasih sayang yang kita berikan kepada sesama adalah cermin dari rasa syukur kita atas kasih sayang-Nya yang telah melimpah kepada kita.

Kasih sayang ini tidak hanya terbatas pada keluarga dekat atau teman-teman kita, tetapi juga kepada mereka yang jauh, bahkan kepada alam yang memberi kita kehidupan. Alam sekitar, dengan segala kekayaan dan keindahannya, adalah bagian dari ciptaan Allah yang harus kita jaga dan lestarikan. Maka, sudah menjadi tanggung jawab kita untuk peduli dan memberi perhatian kepada lingkungan sekitar kita, seperti kita juga memberi perhatian kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan.

Kasih sayang kita harus menjangkau lebih dari sekadar hubungan personal. Ia harus menjadi kekuatan untuk melawan ketidakadilan, untuk mengurangi penderitaan, dan untuk berbagi dengan mereka yang kurang beruntung. Allah telah memberi kita kasih sayang yang luar biasa, dan sudah sepatutnya kita juga memberi kasih sayang yang tulus kepada mereka yang ada di sekitar kita, dalam bentuk tindakan nyata yang membawa kebaikan bagi umat manusia dan alam semesta.

Semoga melalui momen Idul Adha ini, kita dapat lebih menyadari pentingnya berbagi kasih sayang, mempererat hubungan dengan sesama, dan menjaga keseimbangan alam, sehingga dunia ini menjadi tempat yang lebih baik bagi generasi-generasi mendatang.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Di bulan mulia ini, mari kita jadikan Idul Adha sebagai momen untuk membangun manusia sejati, yang mampu berkorban bukan hanya harta dan jiwa, tapi juga ego dan kesombongan demi kemanusiaan dan keridhaan Allah.

Semoga Allah menerima semua amal ibadah dan pengorbanan kita. Amin.

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِوَالِدَيْكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

أللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ

 اَلْحَمْدُ ِللّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ

 فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ   قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَأًصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. وَعَلَيْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِماَتِ وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ اْلحَاجَاتِ. رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِاْلحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ اْلفَاتِحِيْنَ   اَللهُمَّ إِنَّا نَسْـأَلُكَ اِيْمَانًا دَائِمًا، وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا، وَنَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَنَسْأَلُكَ يَقِيْنًا صَادِقًا، وَنَسْأَلُكَ عَمَلاً صَالِحًا، وَنَسْأَلُكَ دِيْنًاقَيِّمًا، وَنَسْأَلُكَ خَيْرًا كَثِيْرًا، وَنَسْأَلُكَ  الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ وَنَسْأَلُكَ تَمَامَ الْعَافِيَةِ، وَنَسْأَلُكَ الشُّكْرَ عَلَى الْعَافِيَةِ، وَنَسْأَلُكَ الْغِنَاءَ عَنِ النّاس اَللّٰهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتَخُشُّعَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا اَللهُ يَااَللهُ يَااَللهُ يَااَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

Ya Allah, Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang, kami memuji-Mu atas segala nikmat yang Engkau limpahkan kepada kami. Kami bersyukur atas kesempatan yang Engkau berikan kepada kami untuk melaksanakan shalat Idul Adha di tempat ini yang penuh berkah. Kami juga bersyukur atas hidayah dan petunjuk-Mu yang senantiasa menghampiri kami dalam setiap langkah hidup kami.

Ya Allah, limpahkanlah rahmat, salam, dan keberkahan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Ya Allah, hari yang mulia ini mengingatkan kami akan makna dari perayaan Idul Fitri dan Idul Adha yang Engkau anugerahkan kepada umat-Mu. Kami bersyukur karena Engkau menjadikan kedua perayaan ini sebagai momen untuk merayakan kemenangan spiritual, menjaga kontinuitas iman, dan meningkatkan ketakwaan kami kepada-Mu.

Ya Allah, perintahkan kami untuk bertutur kata baik kepada sesama manusia sebagaimana yang Engkau firmankan dalam Al-Qur’an. Bantulah kami untuk senantiasa melaksanakan salat dan menunaikan zakat dengan ikhlas dan tulus. Jadikanlah hubungan kami dengan sesama manusia selalu berdasarkan rahmat dan kasih sayang.

Ya Allah, dalam Idul Adha ini kami mengenang pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail. Engkau uji mereka dengan ujian yang berat, tetapi Engkau juga mengajarkan kepada mereka dan kepada kami tentang arti sejati dari pengorbanan yang tulus dan penuh keikhlasan.

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu agar segala amal ibadah kami diterima dengan baik di sisi-Mu. Ampunilah dosa-dosa kami, terimalah ibadah kurban kami sebagai bentuk taat dan pengabdian kepada-Mu. Bantulah kami untuk senantiasa menjaga lingkungan, membantu sesama, dan berkontribusi positif dalam masyarakat.

Ya Allah, perkuatlah tali persaudaraan di antara kami, jaga kebersamaan, dan saling tolong-menolong dalam kebaikan. Jadikanlah kami umat yang selalu mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap langkah hidup kami.

Ya Allah, terimalah doa kami ini, ampunilah dosa-dosa kami, dan limpahkanlah rahmat-Mu kepada kami, kepada keluarga kami, kepada umat Islam di seluruh dunia, dan kepada seluruh makhluk-Mu. Amin ya Rabbal ‘alamin.

 رَبَّنَا أَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهىَ عَنِ اْلفَحْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

جَعَلَناَ الله ُوَإِياَّكُمْ مِنَ العاَئِدِيْنَ وَالفَآئِزِيْنَ وَأَدْخَلَناَ وَاِيَّاكُمْ فِيْ زُمْرَةِ عِباَدِهِ المُتَّقِيْنَ والشّاكِرِيْنَ و اَلْحَمْدُ ِللّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

والسّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

[1] Katelyn DiBenedetto, Analyzing Tophets: Did the Phoenicians Practice Child Sacrifice?, Anthropology Honors College, University at Albany, State University of New York, May 2012, Scholars Archive.

[2] https://en.wikipedia.org/wiki/Religion_in_pre-Islamic_Arabia

[3] Fakhr al-Din al-Razi, Mafatih al-Ghayb (al-Tafsir al-Kabir), (Beirut: Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi, 1420 H), Juz 23, h. 345.

[4] Fakhr al-Din al-Razi, Mafatih al-Ghayb (al-Tafseer al-Kabir) ,(Beirut: Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi, 1420 H), Juz 23, h. 225.

[5] Muhammad Mutawalli al-Syarawi, Tafsir al-Shahrawi – al-Khawatir, Jilid IV (Cairo: Matabi’ Akhbar al-Youm, 1418 H),h. 417.

Kontributor

  • Mabda Dzikara

    Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sekarang aktif menjadi dosen di IIQ Jakarta.