Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Khutbah Jumat

Khutbah Jumat: Harta di Mata Seorang Muslim

Avatar photo
478
×

Khutbah Jumat: Harta di Mata Seorang Muslim

Share this article
Khutbah Jumat: Kekayaan sejati bukan diukur dari seberapa banyak yang kita miliki, tetapi dari seberapa banyak manfaat yang bisa kita berikan.
Khutbah Jumat: Kekayaan sejati bukan diukur dari seberapa banyak yang kita miliki, tetapi dari seberapa banyak manfaat yang bisa kita berikan.

Khotbah Jumat bertema “Harta di Mata Seorang Muslim” ini membahas bagaimana Islam memandang kekayaan dan cara yang benar dalam mengelolanya. Di tengah masyarakat yang sering menilai kesuksesan dari banyaknya harta, Rasulullah saw. mengingatkan bahwa harta hanyalah sarana, bukan tujuan hidup.

Rasulullah saw. menegaskan bahwa sedekah tidak mengurangi harta, melainkan menambah keberkahan dan kemuliaan. Melalui khotbah ini, umat Islam diajak untuk memandang harta dengan bijak: bukan sebagai sumber kesombongan, melainkan sebagai amanah yang harus dikelola untuk menebar manfaat dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Harta di Mata Seorang Muslim

إنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَاهَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

Segala puji bagi Allah SWT sang Rabbul alamin atas segala nikmatnya yang telah dilimpahkan kepada kita semua terutama nikmat iman yang masih bisa kita rasakan ketika membaca tulisan ini. Shalawat serta salam mari kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat, serta orang-orang yang mengikuti jalan kebenarannya hingga hari kiamat kelak.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah SWT

Dalam kehidupan sehari-hari, harta sering kali dijadikan ukuran kesuksesan. Banyak orang menilai keberhasilan seseorang dari banyaknya kekayaan yang dimiliki. Namun, Islam memberikan sudut pandang berbeda. Nabi Muhammad SAW menekankan bahwa keberkahan hidup tidak selalu terletak pada jumlah harta, tetapi pada cara seorang muslim memanfaatkannya.

Suatu ketika, Rasulullah berbicara kepada salah satu sahabatnya, Hakim bin Hizam, tentang cara menyikapi harta dengan bijak:

يَا حَكِيمُ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ كَالَّذِى يَأْكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ ، الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى

Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau lagi manis. Barangsiapa yang mencarinya untuk kedermawanan dirinya (tidak tamak dan tidak mengemis), maka harta itu akan memberkahinya. Namun barangsiapa yang mencarinya untuk keserakahan, maka harta itu tidak akan memberkahinya, seperti orang yang makan namun tidak kenyang. Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. (HR. Bukhari no. 1472 dan Muslim no. 1035).

Hadis ini mengajarkan kita bahwa harta memang menarik, tetapi bisa menjerumuskan jika dikejar dengan nafsu. Kepuasan sejati bukanlah ketika kita memiliki banyak harta, melainkan ketika kita mampu memanfaatkannya untuk memberi manfaat kepada orang lain. Hidup yang tenang justru ditemukan saat seorang muslim mampu menjadi “tangan di atas,” yakni pihak yang menolong, bukan yang selalu menadahkan tangan.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah SWT

Ibnul Qayyimdalam karyanya Miftaah Daar As-Sa’adah membuat perbandingan antara harta dan ilmu. Menurutnya, ilmu adalah kekayaan sejati yang membawa ketenangan abadi, sedangkan harta kerap menghadirkan ujian dan kebingungan. Ia menyebutkan beberapa poin penting yang membedakan keduanya.

Pertama, orang yang kaya harta dihadapkan pada ujian berbagi. Jika ia menutup pintu kebaikan, ia dianggap pelit. Jika ia memberi, ia tak mungkin memenuhi semua harapan orang. Berbeda dengan ilmu, semakin dibagikan justru semakin bertambah manfaatnya. Seperti api yang menyulut api lain, ilmu yang diajarkan akan melahirkan cahaya yang lebih luas tanpa mengurangi milik pemiliknya.

Kedua, harta membawa beban, sementara ilmu mendatangkan ketenangan. Mengumpulkan harta membuat seseorang diuji dalam tiga hal: proses mendapatkannya, rasa cemas menjaganya, dan kesedihan saat kehilangan. Ilmu tidak demikian. Ia tidak pernah usang, tidak membuat resah, dan justru memberikan ketentraman hati.

Ketiga, harta kerap mengundang gangguan. Orang kaya biasanya dikelilingi tuntutan, baik dari keluarga maupun orang asing. Harapan yang terlalu banyak sering menimbulkan konflik. Sedangkan orang yang kaya ilmu dihormati karena manfaatnya, tanpa harus terbebani oleh harapan material orang lain.

Keempat, keterikatan pada harta membuat seseorang berat menghadapi kematian. Ia takut berpisah dengan kenikmatan dunia. Sebaliknya, orang berilmu lebih ikhlas memandang dunia hanya sebagai persinggahan, dan merindukan pertemuan dengan Allah.

Kelima, orang kaya harta hanya dikenang selama hartanya bermanfaat. Namun, nama mereka bisa cepat hilang setelah kekayaannya lenyap. Sebaliknya, ulama dan orang berilmu meninggalkan warisan abadi berupa ilmu yang terus diamalkan orang lain, meski mereka telah tiada.

Keenam, harta hanya memberi pemeliharaan fisik, sedangkan ilmu menjadi santapan jiwa. Ilmu menghidupkan hati, memperdalam makna hidup, dan menghadirkan rasa dekat dengan Allah. Dengan ilmu, seseorang bisa merasa bahagia walau hidup sederhana.

Ketujuh, harta bisa menjadi ujian yang memperlambat perjalanan akhirat. Sementara ilmu justru memudahkan jalan menuju Allah. Semakin banyak ilmu seseorang, semakin besar pula kesadarannya untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah mati.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah SWT

Dari uraian Ibnul Qayyim tersebut, jelaslah bahwa harta dan ilmu sama-sama nikmat, tetapi memiliki peran berbeda. Islam tidak melarang kepemilikan harta, bahkan mendorong umatnya bekerja dan mencari rezeki. Namun, harta hanyalah sarana, bukan tujuan hidup. Yang lebih utama adalah menjadikannya alat untuk beribadah dan berbuat kebaikan.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“ٱلْمَالُ وَٱلْبَنُونَ زِينَةُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱلْبَٰقِيَٰتُ ٱلصَّٰلِحَٰتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًۭا وَخَيْرٌ أَمَلًۭا”

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang kekal lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahfi: 46)

Ayat ini mengingatkan kita agar tidak terjebak pada perhiasan dunia yang sementara. Harta hanyalah titipan yang sewaktu-waktu bisa hilang. Sedangkan amal kebajikan, yang lahir dari ilmu dan keimanan, akan menjadi bekal abadi di akhirat.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah SWT

Dengan demikian, seorang muslim harus menempatkan harta pada posisi yang tepat. Harta bukan untuk dipuja, melainkan untuk dimanfaatkan sebagai sarana menolong sesama. Rasulullah SAW bersabda:

“Tidaklah harta berkurang karena sedekah, Allah tidak menambahkan kepada seseorang yang pemaaf kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan Allah meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim).

Hadis ini menegaskan bahwa harta yang disedekahkan justru akan menambah keberkahan. Kekayaan sejati bukan diukur dari seberapa banyak yang kita miliki, tetapi dari seberapa banyak manfaat yang bisa kita berikan.

Semoga Allah memberi kita kebijaksanaan dalam menggunakan harta dan ilmu. Jadikanlah keduanya sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya dan sebagai bekal menuju kebahagiaan abadi di akhirat.

اَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Ditulis oleh Rusydan Abdul Hadi. Tulisan ini tayang pertama kali dalam Buletin Rumah Wasathiyah.

Kontributor

  • Redaksi Sanad Media

    Sanad Media adalah sebuah media Islam yang berusaha menghubungkan antara literasi masa lalu, masa kini dan masa depan. Mengampanyekan gerakan pencerahan melalui slogan "membaca sebelum bicara". Kami hadir di website, youtube dan platform media sosial.