Di antara rukun-rukun Islam yang diwajibkan bagi semua orang Islam adalah puasa. Kewajiban itu sebagaimana difirmankan oleh Allah swt dalam Al-Quran:

ياأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

 “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan bagimu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al-Baqarah: 183)

Pengertian Puasa

Secara bahasa, puasa berarti menahan. Sementara menurut terminologi, puasa adalah melakukan ibadah dengan niat mendekatkan diri pada Allah, menahan diri dari makan dan minum serta dari semua hal yang bisa membatalkan puasa.

Puasa dilakukan sejak terbitnya fajar kedua (fajar shodiq) sampai terbenamnya matahari, dilakukan oleh orang tertentu, dengan syarat dan rukun tertentu.

Manfaat Puasa

Puasa sebenarnya tidak hanya tentang menahan diri dari makan dan minum. Lebih dari itu puasa bisa merefleksi diri dari dan menumbuhkan sisi spiritual.

Berikut tujuh manfaat yang didapatkan sebab melakukan puasa sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh Izzuddin bin Abdissalam dalam kitab Maqasid al-Shaum:

1.   Raf’u al-Darajat (Meninggikan Derajat)

Orang yang melakukan puasa akan diangkat derajatnya oleh Allah swt. Diangkatnya derajat ini di dasari oleh beberapa hadist Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam. Di antara hadist tersebut adalah:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ

 “Ketika bulan Ramadhan telah datang, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. (HR. Bukhari dan Muslim)

Sulthanul Ulama Syaikh Izzuddin bin Abdissalam dalam kitab Maqasid al-Ibadah menjelaskan maksud dari dibukanya surga, ditutupnya pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu. Beliau mengatakan:

أما تفتيح أبواب الجنة فعبارة عن تكثير الطاعات الموجبة لفتح أبواب الجنان. وتغليق أبواب النار عبارة عن قلة المعاصي الموجبة لاغلاق أبواب النيران. وتصفيد الشياطين عبارة عن انقطاع وسوستهم عن الصائمين لأنهم لا يطمعون في اجابتهم الى المعاصي.

Adapun yang dimaksud terbukanya pintu surga pada bulan Ramadhan adalah, sebuah perumpamaan dari banyaknya ketaatan, yang bisa menjadi penyebab terbukanya pintu-pintu surga.

Yang dimaksud ditutupnya pintu neraka adalah perumpamaan dari sedikitnya maksiat (pada bulan Ramadhan), yang menjadi penyebab tertutupnya pintu neraka.

Sedangkan maksud dari terbelenggunya setan adalah, perumpamaan dari terlepasnya orang-orang yang sedang melakukan puasa dari bisikan-bisikan setan, sebab orang yang puasa tidak akan terlalu ambisi untuk melakukan maksiat. (Lihat Syaikh Izzuddin, Maqasidul Ibadat, hlm. 38)

2.   Takfir al-Khati’at (Menghapus Kesalahan)

Orang yang melakukan puasa akan dihapus dosanya oleh Allah swt. Dasar faidah kedua ini adalah hadist Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam yaitu:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala maka diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” (HR. Imam Bukhari dan Muslim)

Yang dimaksud “imanan” dalam hadist di atas ialah meyakini kewajiban puasa dan melakukannya. Dan maksud dari “ihtisaban” ialah merendahkan diri dan memohon pahala pada Allah swt. (Lihat Syaikh Izzuddin, Maqasidul Ibadat, hlm. 40)

3.   Kasr al-Syahwat (Menghancurkan Syahwat)

Dengan berpuasa seseorang bisa menghancurkan syahwatnya. Dasar faidah ini adalah hadist Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam yaitu:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَة فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, barang siapa yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Sesungguhnya menikah lebih menundukkan pandangan dan lebih mudan menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu menikah, maka berpuasalah, karena puasa bisa menjadi penekan syahwatnya. (HR. Imam Ahmad dan Imam Bukhari)

Dengan hadist di atas Imam Izzuddin berpendapat bahwa lapar dan haus bisa menghancurkan atau mengalahkan syahwat. Beliau mengatakan:

فان الجوع والظمأ يكسران شهوات المعاصي

“Sesungguhnya lapar dan haus bisa menghancurkan syahwat untuk bermaksiat”. (Lihat Syaikh Izzuddin, Maqasidul Ibadat, hlm. 40)

4.   Taktsir al-Sadaqat (Memperbanyak Sedekah)

Menurut Imam Izzuddin al-Sulami, dengan berpuasa seseorang bisa membuat manusia memperbanyak sedekah. Beliau mengatakan,

لأن الصائم اذا جاع تذكّر ما عنده من الجوع فحثه ذلك على اطعام الجائع

“Karena sesungguhnya orang berpuasa ketika merasakan lapar, dia akan mengingat rasa lapar itu. Dengan itulah akan memberikan semangat dan dorongan kepadanya untuk memberi makan pada orang yang lapar. (Syaikh Izzuddin bin Abdissalam, Maqasidul Ibadat, hlm. 41).

5.   Taufir al-Tha’at (Menyempurnakan Ketaatan)

Dengan berpuasa seseorang bisa lebih terdorong untuk memperbanyak ketaatan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh Izzuddin bahwa manfaat memperbanyak melakukan ketaatan itu didasari oleh rasa lapar dan haus orang berpuasa akan mengingatkan mereka pada lapar dan hausnya ahli neraka. Beliau mengatakan:

وأما توفير الطاعات فلأنه تذكر جوع أهل النار وظمأهم فحثه ذلك على تكثير الطاعات لينجو بها من النار

“Faidah memperbanyak ketaatan bagi orang berpuasa disebabkan karena dengan puasa mengingatkan kelaparan dan hausnya ahli neraka. Dengan itulah akan memberikan semangat dan dorongan kepadanya untuk memperbanyak melakukan ketaatan kepada Allah swt agar bisa selamat dari api neraka.”. (Syaikh Izzuddin bin Abdissalam, Maqasidul Ibadat, hlm. 41)

6.   Syukr Alim al-Khafiyyat (Bersyukur Mengetahui Nikmat Tersembunyi)

Dengan berpuasa seseorang bisa ingat terhadap nikmat tersembunyi yang sering dilupakan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh Izzuddin bahwa puasa bisa mengembalikan ingatan itu sehingga bisa membuat orang puasa mensyukurinya. Beliau mengatakan:

اذا صام عرف نعمة الله عليه في الشبع والري فشكرها لذلك فان النعم لايعرف مقدارها الا بفقدها

“Ketika berpuasa, seseorang menjadi tahu nikmat Allah swt kepadanya berupa kenyang dan terpenuhinya rasa haus, sehingga mereka bersyukur. Sebab, kenikmatan tidak akan diketahui nilainya tanpa melalui hilangnya rasa nikmat itu”. (Syaikh Izzuddin bin Abdissalam, Maqasidul Ibadat, hlm. 41)

7.   Al-Inzijar an Khawatir al-Ma’ashi wa al-Mukhalafat (Mencegah Keinginan Bermaksiat dan Tentangan)

Dengan berpuasa seseorang bisa mencegah dirinya dari melakukan maksiat dan sesuatu yang bertentangan dengan syariat. Menurut pandangan Syaikh Izzuddin bahwa berpuasa memiliki rasa kecenderungan terhadap makanan dan minuman, yang dipikirkan hanylah tentang makanan dan minuman, dan dengan keadaan seperti ini, orang yang berpuasa minim kemungkinan untuk berpikir tentang maksiat, sehingga secara otomatis puasa menjadi salah satu penyebab pencegah dari melakukan maksiat.

Jika ditanya, apa manfaat dari berpikir tentang makanan dan minuman ketika puasa? Syaikh Izzuddin bin Abdissalam menjawab pada penjelasan selanjutnya,

وطموح النفس الى المناجات واشتغالها بها خير من تشوفها الى المعاصي والزلات ولذلك قدم بعض السلف الصوم على سائر العبادات. فسئل غن ذلك فقال لأن يطلع الله على نفسي وهي تنازعني الى الطعام والشراب أحب الي من أن يطلع عليها وهي تنازعني الى معصيته.

Keinginan jiwa terhadap munajat serta sibuk dengannya, lebih baik dari keinginan terhadap melakukan kemaksiatan dan kesalahan, oleh sebab itu sebagian ulama salaf lebih mengedepankan puasa dari ibadah yang lain.

Ketika ditanya tentang hal itu (mengedepankan puasa dari ibadah yang lain), seorang ulama salaf menjawab, “Sebab ketika Allah melihat terhadap jiwaku yang sedang mengajak terhadap makanan dan minuman, lebih saya senangi dibanding Allah melihat jiwaku yang sedang mengajak pada kemaksiatan.” (Syaikh Izzuddin bin Abdissalam, Maqasidul Ibadat, hlm. 41)