Jika ada penuntut ilmu yang keluarganya mendapatkan manfaat langsung dari ilmunya, maka itulah tanda bahwa ilmunya berkah.

Dahulu, ketika ada perempuan yang ingin bertanya sesuatu mengenai masalah agama, ia tidak langsung bertanya kepada para masyaikh, tapi ia bertanya kepada istri atau anak perempuan masyaikh tersebut.

Karena dahulu biasanya para istri masyaikh belajar dari suaminya yang sudah alim.

Dikisahkan dahulu bahwa seorang faqih mazhab Syafi'i menikahi seorang anak perempuan dari Imam Abu Ishaq Asy-Syairazi. Singkat cerita, suatu kali ada seorang yang bertanya kepada faqih tadi. Kemudian beliau terus terang bahwa ia tidak tahu jawabannya. Setelah itu, dari dalam kamar, istri faqih tadi mengetuk pintu, memberikan sebuah isyarat memanggil suaminya. Setelah balik dari kamar istrinya, faqih tadi tersenyum dan mengatakan,

هذا بركة الزواج من بنات الأشياخ

“Ini berkahnya nikah sama putri masyaikh.

Ternyata istri beliau memberitahu jawaban atas kasus tadi, mengutip kalam ayahnya, Imam Abu Ishaq.

Saya mendengar kisah di atas dari pengajian Syeikh Dr. Abdus Salam Syuwai'ir.

Ilmu yang bermanfaat kepada keluarga sendiri ini adalah di antara tanda-tanda keberkahan ilmu. Bukan tanda yang harus ada, di sana ada tanda-tanda yang lain, sehingga kita tidak bisa dengan sederhana menilai keberkahan ilmu seseorang dengan hanya melihat perilaku anak istrinya.

Seorang alim mungkin sudah berusaha mendidik dan mendoakan keluarganya, tapi perlu diingat, hidayah tetap berada di genggaman Allah Swt.

Dalam atsar disebutkan,

أزهد الناس في العالم أهله وجيرانه

Orang-orang yang paling merasa cukup dan tidak membutuhkan ilmunya orang alim adalah para keluarga dan tetanggannya sendiri.”

Sekarang, masalahnya kembali ke orang-orang terdekat dari orang alim tersebut. Biasanya karena sudah terlalu dekat dan berbaur dengannya, haibah seorang alim tadi sedikit terkikis, sehingga mereka merasa biasa-biasa dengan alim tersebut, dan ini membuat mereka kurang termotivasi untuk mengambil mutiara ilmu dari alim itu, padahal orang-orang dari jauh siap datang untuk belajar dengan alim tersebut. Ini sudah menjadi tabiat sebagian manusia.

القرب حجاب

“Kedekatan itu terkadang menjadi hijab (tabir penghalang).”

Karena sudah sering melihat masjid Azhar, beberapa mahasiswa al-Azhar merasa biasa-biasa saja ketika shalat dan hadir kajian di sana. Saking merasa biasa-biasa, sebagian hampir meninggalkan kajian di sana, padahal di luar Mesir ada ribuan penuntut ilmu yang sangat berharap bisa menginjakkan kaki dan hadir di kajian masjid al-Azhar.

Begitu juga perasaan orang yang tiap hari memandang Ka'bah (penduduk sekitar masjidil Haram), adakalanya akan berbeda dengan orang yang sekali-kali melihat Ka'bah. Bahkan banyak sekarang para tetangga Ka'bah yang hampir jarang sekali berjamaah di Masjidil Haram, karena al-qurbu hijab, padahal di luar Makkah sana ada jutaan orang yang sangat berharap bisa shalat jamaah di sana yang kata Nabi setara seperti 1000 kali shalat di masjid yang lain. Semoga kedekatan ini tidak menjadi hijab bagi kita.

Semoga tidak terjadi,

أزهد الناس في علماء مصر أهلها

“Orang yang paling tidak membutuhkan ulama Mesir adalah penduduknya sendiri.”

Kembali ke awal, bahwa di antara bentuk berbakti kepada orang tua adalah dengan “mengajarkannya” hal-hal yang penting dalam agama, doa-doa, dan amalan-amalan fadhilah yang lain, tentunya dengan adab, sopan, dan lemah-lembut. Begitu juga ke keluarga yang lain.