Abu Thalhah adalah salah seorang sahabat dari kalangan Anshar yang dekat dengan Nabi. Ia termasuk 73 orang yang turut serta berbaiat kepada Nabi pada Baiat Aqabah kedua sebelum Nabi hijrah ke Madinah.

Setelah menyatakan dengan keislamannya, Abu Thalhah termasuk sahabat yang berjasa pada Nabi dan kaum Muhajirin saat berhijrah ke Yatsrib. Ihwal ini sampai tercantum dalam surat Al-Hasyr ayat 9 yang asbâbun nuzûl-nya berkaitan dengan sikap Abu Thalhah yang lebih mengutamakan kaum Muhajirin atas dirinya dan keluarganya. Padahal malam itu, persediaan makanan di rumahnya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Demikian sikap mulia yang ditunjukkan Abu Thalhah dalam memuliakan tamunya, walaupun saat itu belum mengenal sepenuhnya orang-orang yang datang ke rumahnya.

Dalam kitab ‘Riyâdhus Shâlihîn min Kalâmi Sayyidil Mursalîn’ karya Imam Nawawi, Anas bin Malik bercerita. Suatu ketika putra Abu Thalhah sakit, sedangkan ia harus pergi. Sang anak kemudian meninggal. Selang beberapa waktu, Abu Thalhah pulang dan bertanya kepada istrinya: “Apa yang sedang dikerjakan putraku?” Ummu Sulaim yang tidak lain adalah istrinya menjawab: “Dia berada di tempat yang seharusnya dia berada.

Saat itu sudah mendekati waktu makan malam. Sang istri lantas mengajaknya untuk makan malam. Setelah selesai makan, Ummu Sulaim mengatakan kepada suaminya: “Mereka telah menyembunyikan anak kita.

Dalam riwayat yang lain, Abu Thalhah sampai marah kepada istrinya karena ketiadaan putranya di rumah. Padahal saat ia pergi, putranya dalam keadaan sakit. 

Selang beberapa hari, Rasulullah datang kepada Abu Thalhah dan memberitahukan perihal kematian putranya. Lantas beliau bertanya kepadanya: “Apakah kalian berhubungan layaknya suami-istri semalem?” Ia menjawab: “Ya” Rasulullah berdoa: “Ya Allah, berkahilah mereka berdua.

Setelah beberapa bulan, lahirlah bayi laki-laki. Kemudian Abu Thalhah berkata pada istrinya: “Bawalah bayi itu kepada Nabi dengan membawa kurma sebagai buah tangan !” Setelah sampai di kediaman Nabi, beliau bertanya: “Apakah bayi itu dibawakan sesuatu?” “Ya, beberapa butir kurma”, jawab Abu Thalhah.

Nabi mengambil kurma tersebut dan mengunyahnya. Beliau kemudian mengambil kunyahan dari mulut dan disuapkan ke mulut si bayi seraya men-tahknik-nya. Nabi lantas memberinya nama Abdullah.

Dalam riwayat Imam Bukhari dari Ibn Uyainah, ada salah seorang dari kalangan Anshar berkata: “Aku telah menyaksikan sembilan anak yang hafal Al-Qur’an. Mereka semua merupakan putra dari Abdullah bin Abu Thalhah.” 

Pelajaran dari Abu Thalhah

Dengan keyakinan, perjuangan dan kesabaran, Abu Thalhah mendapatkan karunia yang luar biasa, baik semasa hidup maupun setelah meninggal. Sebagai seorang muslim, kita patut iri terhadap karunia-karunia yang diberikan Allah kepadanya. Walaupun sangat kecil untuk mendapatnya.

Pelajaran-pelajaran yang bisa kita petik dari sepenggal perjalanan hidup Abu Thalhah di anaranya;

Pertama, Abu Thalhah mendapatkan keistimewaan dari Allah karena memuliakan para Muhajirin. Allah membalasnya dengan menurunkan ayat yang asbâbun nuzûl-nya berkaitan dengan sikapnya yang mulia tersebut. Padahal dalam Ulumul Qur’an, ayat-ayat Al-Qur’an lebih banyak yang diturunkan tanpa asbâbun nuzûl dibandingkan yang disertai.

Kedua, Kedekatannya dengan Nabi turut serta membuat Nabi peduli terhadapnya, terutama saat kematian putranya yang tercinta. Nabi mendatanginya seraya menyampaikan kebenaran tentang putranya yang telah meninggal kemudian menenangkannya. Salah satu sikap sosial Nabi yang langsung dipraktekkan kepada sahabatnya. Di mana beliau pernah menyampaikan: “Tidaklah seorang mukmin bertakziah kepada saudaranya yang ditimpa musibah kecuali Allah akan mengenakan pakaian kemuliaan pada hari Kiamat”.

Ketiga, Doa dari Nabi untuk Abu Thalhah dan Ummu Sulaim.  Justru karena doa Nabi, Abu Thalhah dan istrinya mendapatkan ganti seorang putra yang shaleh. Bahkan Rasulullah menyaksikan kelahiran putranya hingga men-tahnik-nya dan memberinya nama Abdullah. Tindakan yang tidak semua putra sahabat mendapat perlakuan khusus dari Nabi.

Keempat, tidak berhenti sampai disitu, keberkahan doa Nabi berlanjut kepada cucu-cucunya. Putra-putri dari Abdullah semuanya hafal Al-Qur’an. Hal yang luar biasa. Di mana memiliki putra-putri penghafal Al-Qur’an merupakan cita-cita semua orang tua. Karena mereka nantinya yang akan meneruskan perjuangan dalam menegakkan agama Islam serta mendoakan para leluhurnya.

Sejatinya manusia tidak pernah tahu akhir dari perjalanan hidupnya. Kita hanya bisa merencanakan, namun tidak bisa menentukan hasil. Abu Thalhah menjalani hidup dengan keyakinannya yang dibawa oleh Nabi. Tidak hanya diam, ia turut berjuang supaya agama Islam tegak dan bersabar dengan setiap keadaan. Hal pahit pernah ia alami, putra yang disayanginya meninggal saat ia pergi dan tidak dapat menungguinya saat sakaratul maut tiba.

Namun Allah berkehendak lain. Semuanya Allah balas yang setimpal dengan balasan-balasan di luar akal manusia. Maka sebagai manusia yang beriman, kita sudah selayaknya memperjuangkan agama Islam ini dengan kemampuan yang kita miliki. Tentu ditambah dengan kesabaran. Karena Allah menjanjikan dalam Q.S. Muhammad ayat 7: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika engkau menolong (agama) Allah, maka Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” Wallâhu A’lam.