Esai

Kisah Anjing Sekarat dan Hal-Hal Kecil yang Dilakukan Pahlawan Lingkungan

05 Sep 2021 06:00 WIB
241
.
Kisah Anjing Sekarat dan Hal-Hal Kecil yang Dilakukan Pahlawan Lingkungan Seorang penanam pohon sangat layak disebut pahlawan lingkungan lantaran jasa besarnya, demikian pula mereka yang selalu menghemat sumber daya alam dan yang tidak mudah terbawa arus konsumerisme.

Dalam sebuah hadis riwayat Abu Hurairah, diutarakan bahwa Rasulullah pernah berkisah tentang seorang laki-laki tengah sekarat lantaran kehausan akibat perjalanan hingga tiba di suatu tempat di mana ia menjumpai sumur.

Lelaki itu seketika turun ke dalam sumur, mengusir dahaganya, kemudian keluar. Sejurus kemudian, tidak jauh dari mulut sumur ia melihat seekor anjing kehausan sedang menjilati lumpur setengah kering, ia membatin betapa menderitanya anjing tersebut, persis seperti yang ia alami beberapa saat sebelumnya.

Seketika lelaki itu kembali menuruni sumur, mengisi sepatunya dengan air, membawanya ke atas dengan menggigit bagian tepi sepatu untuk kemudian menghadiahkannya kepada si anjing.

Rasulullah memberi penekanan pada intonasinya ketika berujar bahwa atas apa yang dilakukan lelaki tersebut, Allah tidak hanya berterima kasih kepadanya (memberinya pahala) namun juga menghapus seluruh dosa-dosanya yang telah lalu. Dari sini sangat jelas, pahala menanti mereka para pelayan kehidupan yang senantiasa berlaku baik terhadap ciptaan-ciptaan-Nya.

Dalam riwayat lain seorang pelacur dengan dosa sebesar bukit mengalami hal sama persis dengan lelaki di atas, juga menerima pengampunan dan memperoleh ganjaran.

Baca juga:

Masa hidup manusia di bumi tidaklah panjang, alangkah indah bila menghiasi dan melestarikannya dengan menumpuk hal-hal kecil sebanyak mungkin jika memang tidak memungkinkan melakukan hal-hal berskala besar.

Tidak jarang seorang Muslim bertanya di mana dan bagaimana ia dapat beramal? Jawabannya tentu ‘tidak terbatas’. Kapan saja di mana saja, Islam senantiasa mempermudah manusia dalam beramal, bukan sebaliknya. Dalam forum-forum keagamaan, sering terdengar sebuah hadis berseru bahwa menyingkirkan hal-hal yang membahayakan dari tengah jalan adalah amal mulia.

Lantaran sangat membutuhan penanganan cepat, perubahan iklim dan pemanasan global adalah isu yang kini menempati ruang-ruang diskusi. Dari Paris Agreement hingga Green New Deal telah melahirkan banyak aktivis lingkungan yang kemudian menekan perusahaan-perusahaan dan para pemangku kebijakan untuk mengurangi polusi, plastik sekali pakai, emisi CO2, berikut hal-hal yang terkait lainnya.

Sebagai Muslim, ramah terhadap lingkungan adalah harga mati. Mengapa  demikian?

Manusia telah dan terus mengukir bekas negatif pada bumi demi mengeruk sumber daya alam guna memuaskan syahwat ekonominya. Dalam buku Green Deen, Ibrahim Abdul Matin menggambarkan Islam sebagai ‘Agama Hijau’ yang menganjurkan manusia yang oleh Al-Quran disebut khalifah fi al-ardh agar menjadi pelayan yang baik bagi lingkungan masing-masing, juga bertanggung jawab memastikan mizan atau keseimbangan alam bisa tetap terjaga.

Lebih puitis dan menohok lagi, Abdul Matin menegaskan ulang bahwa umat Islam harus memandang Bumi sebagai masjid, hamparan sajadah raksasa tempat manusia bersujud.

Kepedulian dan cinta seorang Muslim terhadap tempat beribadahnya musti berbanding lurus dengan ketekunannya dalam merawat dan melestarikan lingkungan. Dengan demikian memperlakukan lingkungan secara senonoh sama halnya tengah menghancurkan sarana beribadahnya sendiri. Berikut beberapa kata kunci yang kiranya dapat melahirkan aksi-aksi kecil yang bermanfaat dari setiap Muslim selaku pahlawan lingkungan.

Makanan

Islam memiliki konsep halal. Meski konsep ini bisa dilabelkan pada industri kosmetik atau kecantikan, terhadap makanan musti tetap yang terdepan dikampanyekan. Secara hukum, halal berarti boleh alias tidak dilarang. Namun dalam tataran praktiknya, halal ternyata tidak cukup bila tidak mengandung kebaikan dan kewajaran. Oleh karena itu berulang kali teks suci menyebutnya halalan thayyiba (halal juga baik).

Salah satunya ada pada QS al-Baqarah: 168: “Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan aadalah musuh yang nyata bagi kalian.”

Meskipun thayyiba memiliki banyak makna dan penjelasan yang berbeda dari segenab penafsir Al-Quran, kata tersebut bisa disimpulkan sebagai sesuatu yang baik, bersih, tidak najis, serta tidak membahayakan jasmani dan rohani. Ambil contoh misalnya seseorang yang hanya mampu memakan sepiring tiba-tiba ia menghabiskan tiga piring sekaligus, maka sehalal apapun makanannya, tidak dapat dihukumi thayyib karena jelas akan membahayakan tubuhnya.

Dalam hal makanan Al-Quran juga berpesan antara lain: “Sesungguhnya Allah mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (hewan) yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah, tetapi barang siapa terpaksa (memakannya) bukan karena menginginkannya dan tidak melampaui batas, maka sungguh Allah maha pengampun lagi maha penyayang.” (QS. an-Nahl: 115)

Baca juga:

Manusia seringkali cenderung mengolah masakannya melampaui yang dibutuhkan, kemudian menumpuk sisanya di lemari es atau membuangnya dalam bentuk limbah. Ironis memang, tidak mudah bagi seorang manusia, mungkin terkhusus di zaman ini, untuk mengolah makanan sesuai porsi yang dibutuhkan meskipun tahu apa yang akan terjadi ketika kelebihan.

Dalam sebuah hadis riwayat Abdullah bin Abbas, Rasulullah bersabda: “Orang mukmin bukanlah orang yang makan kekenyangan ketika ada tetangganya kelaparan.”  

Meskipun tidak tinggal di daerah yang mana ada tetangganya sedang kelaparan, tidak jarang di tempat yang tidak berjauhan segerombol orang tengah melawan rasa laparnya sendiri. Jadi, alih-alih mengetahui makanannya akan bersisa dan terbuang sebaiknya disalurkan kepada mereka selagi masih hangat, tidak menunggunya hampir atau sudah basi. Bukankah sejak dini seorang Muslim senantiasa diajarkan untuk mencintai saudaranya seperti mencintai diri sendiri?

Air

Air merupakan sumber daya bersama yang berasal dari Allah, oleh karenanya seorang muslim musti pandai menakar berapa volume air yang ia butuhkan. Semua orang layak mendapatkan akses semudah mungkin dalam mendapatkan air bersih, semuanya bertanggung jawab supaya tidak menyia-nyiakan sumber daya tak ternilai ini.  

“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kalian dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kalian yang menyimpannya.” (QS. al-Hijr: 22)

Dalam agama kristen dikenal adanya ritual pembaptisan yang antara lain dilakukan dengan air sungai, dalam tradisi Yahudi terdapat ritual mandi dengan istilah  mikvah, demikian juga dalam agama-agama lain air bersih selalu menempati ruang yang sakral dan integral. Islam sendiri memiliki konsep wudhu, bersuci dengan air sebelum mendirikan salat atau menyentuh mushaf.

Selain menghemat air, seseorang patut dihimbau untuk menghindari pembelian air minum dalam kemasan plastik. Tidak lain karena botol kemasan menghasilkan limbah beracun ketika terbuang sembarangan. Tidak sedikit pula sarjana Muslim yang beranggapan bahwa memperjual-belikan air mineral adalah praktik yang sebaiknya dihindari.

Air sepatutnya tidak dikait-kaitkan dengan pemerolehan keuntungan. Membeli air mineral dalam kemasan sebenarnya tengah mendukung perusahaan-perusahaan besar mendapatkan keuntungan dari sumber daya milik bersama.

Sering terlihat manusia terlalu boros dan serampangan dalam memanfaatkan air, misalnya berlebihan menggunakannya ketika mencuci pakaian atau membiarkan keran tetap mengalir ketika menyikat gigi. Padahal dengan menutup keran ketika menggosok gigi dikisarkan setiap orang bisa menghemat air hampir 20 liter dalam sehari.

Bila wudhu yang merupakan hal sakral dalam Islam tidak diperbolehkan boros menggunakan air, tentu dalam banyak hal lainnya menjadi lebih tidak diperkenankan. Dalam sebuah hadis riwayat Ibnu Majah Rasulullah pernah menegur sahabat bernama Sa’ad Ibnu Abi Waqas lantaran boros ketika berwudhu, Rasulullah bahkan memberi penekanan bahwa berwudhu di tepi sungai yang mengalir sekalipun tetap tidak diperkenankan menghambur-hamburkan air.

Listrik

Hidup di zaman modern seperti sekarang, hemat terhadap penggunaan air tidak cukup tanpa melakukan hal yang sama terhadap penggunaan listrik. Dalam memanfaatkan teknologi listrik juga dituntut sebijak dan sehemat mungkin, contoh terkecil tidak membiarkan suatu perangkat menyala ketika tidak digunakan. Termasuk mengisi daya laptop, ponsel, atau perangkat elektronik lainnya secara berlebihan, selain akan menyerap energi terlalu banyak juga dapat membahayakan kekuatan baterai perangkat-perangkat itu sendiri.

Baca juga:

Mematikan perangkat ketika sedang tidak digunakan dalam Islam dapat bernilai ibadah, karena telah menghemat daya yang bersumber dari alam. Sebaliknya, misalnya, menggunakan mesin pengering pakaian ketika sinar matahari melimpah ruah dapat dihukumi makruh, bahkan dalam situasi tertentu bisa menjadi haram. Sama halnya kenapa musti menggunakan treadmill bila berjalan di luar rumah akan jauh lebih segar dan menyenangkan? Ketika sendirian dan menempuh jarak dekat, kenapa harus mengeluarkan mobil padahal bersepeda bukan hanya menghemat bahan bakar namun juga menyehatkan dan lebih ramah terhadap lingkungan?

Bertanam

Hidup di zaman tatkala dunia menapaki masa sulit lantaran perubahan iklim, menanam pohon boleh jadi tidak kalah nilai dan kemuliaannya dibanding menyumbangkan dana untuk pembangunan masjid atau pondok pesantren. Bila seseorang merasa tidak memiliki ilmu yang dapat ia sampaikan kepada orang lain, ia tetap bisa menanam pohon yang jelas-jelas akan bernilai amal jariah dan menghadirkan banyak manfaat.

Bukan semata karena pohon tersebut kelak mampu menaungi seseorang atau binatang dari terik matahari, bukan pula sekadar dapat dinikmati buah yang dihasilkannya, para pakar ekologi menyatakan bahwa satu pohon berukuran sedang mampu memenuhi kebutuhan oksigen hingga sepuluh orang dalam sehari. Bayangkan bila pohon tersebut terus tumbuh dan tumbuh bahkan lama setelah penanamnya ‘ditanam’ ajal.

Pada zaman dahulu seorang pahlawan adalah mereka yang menumpas penjajahan dari muka bumi, hari ini istilah tersebut cakupannya jauh lebih luas. Misalnya seorang penanam pohon sangat layak disebut pahlawan lingkungan lantaran jasa besarnya, demikian pula mereka yang selalu menghemat sumber daya alam dan yang tidak mudah terbawa arus konsumerisme.

Aksi-aksi kecil namun signifikan seperti beberapa yang telah disebut di atas bukanlah hal yang hanya mampu dilakukan sebagian orang. Semua orang dapat mengerjakannya di mana dan kapan saja, penting kiranya pembiasaan hal-hal kecil tersebut pada anak-anak usia dini. Bukan hanya untuk kebaikan masa depan mereka, namun demi lingkungan yang kelak diwariskan kepada ribuan generasi setelahnya.

Walang Gustiyala
Walang Gustiyala / 39 Artikel

Pernah belajar di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduen Sumenep Madura dan Universitas Al-Azhar Kairo Mesir. Mencintai sastra, musik dan lingkungan. Penulis novel roman-sejarah Katarsis Hitam Putih. Aktif mengajar di Pesantren Modern Daarul 'Uluum Lido Bogor.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: