Tokoh

Legasi Muhammad Asad, Mengislamkan Ribuan Orang Berikut Capaian Diplomasinya

24 Jul 2021 04:42 WIB
838
.
Legasi Muhammad Asad, Mengislamkan Ribuan Orang Berikut Capaian Diplomasinya

Setelah melepaskan jabatan, pada pertengahan 50-an, Muhammad Asad berpindah-pindah tempat tinggal dari satu negara ke negara berikutnya, menghabiskan waktu di Maroko, Spanyol, dan lain-lain. Ia tetap aktif menulis dan memberikan kuliah umum di universitas-universitas dan seminar-seminar. Bersamaan dengan itu ia juga menguras pikiran dan tenaganya untuk melahirkan karya penting dan bernilai ‘wakaf’ yang tak terkira besarnya bagi Islam, terjemahan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Inggris, The Message of the Holy Qur’an.  

Setelah berkecimpung menerjemahkan Al-Qur’an selama 17 tahun, akhirnya mahakarya tersebut dapat terbit tahun 1980. Awalnya The Message of the Holy Qur’an tidak memperoleh persetujuan dari banyak ulama tradisional, pasalnya mengandung penafsiran-penafsiran modern.


Karya monumental Muhammad Asad, terjemahan berikut interpretsi singkatnya terhadap Al-Qur’an.

Muzaffar Iqbal sendiri mengungkapkan pesimismenya terhadap karya tersebut. Masalahnya adalah, tulisnya, karya tersebut adalah hasil pemikiran Eropa yang mencoba menyerap pesan Al-Qur’an tanpa mampu memahami sapek-aspek suprarasional Al-Qur’an sehingga berujung merasionalisasikannya.

Misalnya, Muhammad Asad membahas berbagai topik ‘gaib’ seperti eksistensi jin dan peristiwa isra’ mi’raj dengan mengkategorikannya dalam terma-terma alegoris. Hal lain yang membuat segenap ulama tradisional risih adalah interpretasinya terhadap Al-Qur’an menyoal tidak wajibnya mengenakan penutup kepala bagi perempuan.

Lebih jauh lagi, Muzaffar Iqbal berujar sebenarnya penafsiran Muhammad Asad memiliki rujukan dari interpretasi klasik semisal tafsir al-Zamakhsyari, meski demikian dari sekian banyak penafsiran klasik tersebut hanya yang sesuai dengan pemahamannya yang kemudian ia pakai.

Biarpun cukup kontroversial, terjemahan Muhammad Asad akhirnya dapat dibaca dan dikaji jutaan manusia, terlebih umat Muslim di Barat yang tidak mengerti Bahasa Arab. Tidak sedikit pula yang dengan tegas membela dan melestarikan legasi berikut gagasan-gagasannya.

Muhammad Asad acapkali diserang lantaran latar belakang Eropanya, tidak peduli ia belajar Bahasa Arab selama bertahun-tahun, bahkan tinggal di tengah-tengah masyarakat badui di berbagai daratan padang pasir. Suatu hal yang tidak banyak dilakukan kalangan pelajar.

Seperti di kawasan Asia Selatan di mana Muhammad Asad masih dipandang banyak orang sebagai bule Eropa, ia juga tidak sepenuhnya diterima dunia Arab yang kebanyakan masih skeptis terhadap non-pribumi yang ‘coba-coba’ menerjemahkan kesempurnaan bahasa Al-Qur’an.

Terlepas dari banyak kritikan yang diarahkan kepada Muhammad Asad, nama baiknya hingga kini semakin dikenal dunia Islam, terlebih di daratan Eropa dan Amerika. Dalam hal ini, Murad Hoffman menerawang bahwa kemungkinan besar peremajaan dan pembaharuan Islam (Islamic rejuvenation) bakal muncul dari London atau New York, bukan Kairo atau Islamabad. Jika asumsi ini benar, akan tiba masa di mana apresiasi terhadap buah pikiran Muhammad Asad benar-benar menjadi fenomena global.

Ketika Muhammad Asad bekerja untuk misi PBB dan tinggal di New York pada tahun 1952, ia menikahi Pola Hamida, seorang gadis Katolik-Polandia yang masuk Islam. Talal Asad, pada saat itu, tinggal bersama ibunya di London. 

Hal tersebut menimbulkan gosip yang tak sedap di Pakistan, adanya artikel yang memberitakan bahwa Muhammad Asad telah murtad dan kembali mengimani Yudaisme. Munira, istri ketiga sekaligus ibu kandung anaknya, melayangkan surat ke pemerintahan Pakistan, mengeluh bahwa suaminya telah menelantarkannya.

Tidak lama kemudian Muhammad Asad mengajukan pengunduran diri dari jabatan-jabatannya. Ketika secara finansial ia semakin terhimpit, saat itulah ia memutuskan menulis memoar yang fenomenal hingga hari ini, The Road to Mecca.

Meski masa jabatannya di kementrian luar negeri terbilang singkat, apa yang telah dicapainya sangat membantu Pakistan. Berkat hubungan pribadinya dengan Ibnu Saud, Pakistan dapat mendirikan kantor diplomatik di Jeddah.

“Dia adalah orang pertama yang meletakkan batu bata persahabatan antara Pakistan dan Saudi Arabia, hal yang tentu sangat menguntungkan pihak Pakistan. Cukup menyedihkan bila hari ini banyak masyarakat Pakistan melupakan jasa-jasanya,” tulis Ikram Chugthai, seorang sejarawan Pakistan yang telah menerbitkan beberapa catatan tentang Muhammad Asad. 


Persahabatan Muhammad Asad dengan Ibnu Saud sangat menguntungkan Pakistan yang baru merdeka

Bertahun-tahun sebelum terbentuknya Organisasi Konferensi Islam (Organisation of Islamic Conference) pada tahun 1969, Muhammad asad sudah menyusun seluruh proposal pendirian Liga Bangsa-Bangsa Muslim (League of Muslim Nations). Akan tetapi draf yang berisi ide-ide cemerlang tersebut lusuh menjadi sarang debu dalam rak menteri luar negeri Pakistan, Zafarullah Khan, yang ketika itu tidak begitu menaruh hormat pada Muhammad Asad.

Timbul gesekan dalam rumah tangga Muhammad Asad, yaitu ketika ia harus membantu Munira menafkahi anak mereka, padahal keuangannya sendiri sedang tertekan. Ditambah lagi Talal dan Pola tidak pernah bisa menjalin hubungan baik, sampai-sampai ketika Muhammad Asad berada di ranjang sekaratnya pada Februari 1992, Pola tidak mengabari Talal walau dengan sepatah kata.

“Fakta bahwa istri ayah saya tidak menghubungi saya adalah fakta yang cukup menyakitkan,” ucap Talal.


Talal Asad, anak satu-satunya Muhammad asad yang meniti jalur keilmuan seperti sang ayah

Beberapa peneliti berargumen bahwa di ujung usianya, Muhammad Asad merasa kecewa dengan Islam. Talal menanggapi hal tersebut dengan meluruskannya, yang tepat adalah ayahnya kecewa dengan perkembangan sebagian besar negara-negara Muslim, terutama Pakistan sendiri. Adapun  pengabdian dan imannya terhadap Islam tetap ia pegang teguh sampai nafas terakhir.

Kenangan terakhir Talal dengan mendiang ayahnya adalah ketika ia diam-diam menjenguknya di sebuah rumah sakit di Boston: “Ketika saya memasuki ruang rawat ayah saya, saya mendapatinya tengah shalat Maghrib di atas sebuah sajadah. Ia tidak menyadari saya sudah berada dalam ruangan.”

Walang Gustiyala
Walang Gustiyala / 46 Artikel

Penulis pernah nyantri di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Al-Hikmah Purwoasri, Walisongo Sragen, Al-Ishlah Bandar Kidul, Al-Azhar Kairo, dan PTIQ Jakarta. Saat ini mengabdi di Pesantren Tahfizh Al-Quran Daarul ‘Uluum Lido, Bogor.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: