Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Esai

Di Australia, tapi Tiap Hari Dengar Bahasa Arab

Avatar photo
1883
×

Di Australia, tapi Tiap Hari Dengar Bahasa Arab

Share this article
Banyak toko, kafe, restoran dan gerai layanan jasa milik orang Arab di Puchbowl, New South Wales, Australia.
Banyak toko, kafe, restoran dan gerai layanan jasa milik orang Arab di Puchbowl, New South Wales, Australia.

Sebagai orang yang tinggal di Punchbowl, maka bisa dipastikan ketika keluar di sekitar rumah, saya akan mendengar orang bercakap-cakap dengan Bahasa Arab. Banyak toko, kafe, restoran dan gerai layanan jasa milik orang Arab. Ke masjid terdekat pun, khutbah dan ceramahnya dalam Bahasa Arab. Geser ke suburb sebelah, Bankstown, lokasi kampus saya berada, keadaannya pun serupa. Di ibu kota Local Government Area (LGA) Canterbury-Bankstown ini, tulisan berbahasa Arab juga nampak di kantor-kantor maupun lembaga layanan publik.

Setiap turun dari bus di Bankstown, toko di depan halte menyambut dengan alunan lagu-lagu Arab, semisal milik Fairuz, sang diva legenda dari Lebanon itu. Di pojok sebelah sana, Arab Bank Australia yang berdiri sejak 1986 itu nampak punya kantor cabang. Berjalan melewati stasiun, kelihatan pengumuman resmi dengan beberapa bahasa yang banyak digunakan penduduk sekitar, salah satunya Bahasa Arab. Sampai ke kampus, menjumpai mahasiswa maupun staf yang ngobrol dengan Bahasa Arab pun sudah menjadi hal lumrah.

Lembaga pemerintah Australian Bureau of Statistic melalui 2021 Census – All Persons QuickStats  mengungkapkan data tentang bahasa non-Inggris yang paling banyak digunakan di lingkungan rumah. Hasil survei menunjukkan bahwa Bahasa Arab menduduki prosentasenya tertinggi di Punchbowl dengan angka 33,7%, juga di Bankstown dengan angka 21,2%. Di LGA Canterbury-Bankstown yang membawahi dua suburb tadi pun, Bahasa Arab masih menduduki posisi sama, pada angka 17,2 %.

Sementara itu, pada skala lebih luas yaitu di Sydney Metropolitan Area, New South Wales maupun Australia secara umum, Bahasa Arab ada di urutan dua, kalah prosentase dari Bahasa Mandarin. Sebagaimana yang saya temui di stasiun, Bahasa Arab juga digunakan oleh pemerintah Australia di urusan publik lain misal di buku-buku panduan, website, siaran radio, juga di video iklan layanan masyarakat. Tentu Bahasa Arab ini sebagian besar menggunakan standar resmi baku atau fusha, bukan Bahasa Arab dialek daerah atau negara tertentu.

Untuk bahasa tutur, yang paling banyak digunakan baik di sini adalah dialek Lebanon. Memang kebanyakan orang Arab di sini berlatar belakang negara tersebut, dan fakta ini bahkan sudah saya ketahui sejak saya masih di Tanah Air. Maka ketika perjalanan ke sini, salah satu hiburan saya di dalam penerbangan adalah buku Bahasa Arab dialek Lebanon. Pada masa-masa awal di sini, buku ini masih saya baca-baca, tapi lama kelamaan mangkrak karena tersisih oleh pikiran dan urusan yang lain.

Orang Arab di Sydney

Menurut Trevor Batrouney dalam Arab Migration from the Middle East From ‘White Australia’ to ‘Beyond Multiculturalism’ (2006), bangsa Arab yang bermigrasi ke Australia hingga tahun 1960 kebanyakan berasal dari Lebanon. Kemudian setelahnya, bangsa Arab dari daerah asal lain terus berdatangan. Namun demikian, Lebanon tetap merupakan penyumbang imigran terbesar, diikuti Mesir kemudian Iraq, dan juga negara-negara lain.

Dalam Lebanese Settlement in New South Wales: A Thematic History (2008) karya Paul Convy  dan Anne Monsour dijelaskan bahwa sebagian besar orang Arab Lebanon di Australia berada di Sydney Metropolitan Area. Dalam karya Anne Monsour yang lain yaitu Tell Me My Story: The Contribution of Historical Research to an Understanding of the Australian Lebanese Experience (2017), jumlah mereka di area Sydney mencapai sekitar 70 persen dari keseluruhan di Australia.

Pada paruh kedua abad 19, orang Arab Lebanon dari kalangan pemeluk Kristen telah mendarat di Australia.  Diperkirakan pada 1860an sudah ada beberapa orang di antara mereka yang datang untuk menjual suvenir keagamaan Kristen dari tanah suci Yerusalem. Di dekade 1880an keberadaan mereka di area Sydney makin nampak signifikan, semisal di daerah Redfern, Surry Hill maupun Waterloo. Mereka memulai kehidupan ekonomi dengan kegiatan perdagangan sederhana sampai memiliki usaha-usaha bisnis yang besar. Ada catatan tentang imigran Muslim yang tinggal di daerah-daerah tersebut, namun jumlahnya tidak signifikan.

Pada saat itu, Lebanon merupakan satu bagian dari wilayah Suriah, yang berada di bawah kekuasaan Dinasti Turki Usmani. Karena itulah, pada awalnya orang Lebanon di Sydney lebih banyak dikenal sebagai orang Suriah. Mencari penghidupan yang lebih baik, juga mencari lingkungan keagamaan yang nyaman, adalah di antara alasan orang Lebanon Kristen untuk bermigrasi. Di daerah asalnya, kaum Kristiani Lebanon mesti hidup berdampingan dengan kaum Muslim Sunni maupun Syi’ah serta kaum Druze. Tak hanya ke Australia, pada masa-masa tersebut orang Lebanon Kristen juga berdiaspora ke beragam tempat di dunia.

Tahun 1901 kebijakan baru White Australia diberlakukan untuk membatasi kedatangan orang dari kalangan non kulit putih. Ada penurunan jumlah imigrasi orang Arab Lebanon ke Australia, namun tak seekstrim yang menimpa orang dari wilayah Asia maupun Pasifik. Di antara penyebabnya adalah orang Arab Lebanon memiliki kedekatan dengan orang Anglo-Celtic dalam hal fisik serta agama. Mereka datang bersama pasangan yang dari sesama daerah asal, sehingga tidak dianggap sebagai ‘ancaman bagi kemurnian ras kulit putih’. Mereka juga berniat menetap jadi tidak dianggap ‘membawa lari’ harta Australia ke daerah asalnya.

Kebijakan White Australia mulai surut seiring meningkatnya migrasi pasca Perang Dunia Kedua. Saat itu Lebanon sudah menjadi negara merdeka sendiri yang lepas dari Perancis dan warganya yang bermigrasi ke Australia tidak hanya terbatas dari kalangan Kristen saja, namun juga kalangan Muslim. Tahun 1950an konsentrasi tempat tinggal mayarakarat Arab Lebanon tidak lagi terbatas di pusat kota saja, namun semakin meluas termasuk di area barat maupun barat barat daya.

Beberapa di antaranya memilih hunian yang lebih terjangkau di area LGA Canterbury dan LGA Bankstown, yang saat itu belum digabung. Hal tersebut sebagaimana disebutkan oleh Jack Collins dalam From Beirut to Bankstown: The Lebanese Diaspora in Multicultural Australia (2005). Tahun 1960an menandai terbentuknya Lebanese Muslim Association yang akhirnya di tahun 1970an mendirikan Masjid Ali bin Abi Thalib di suburb Lakemba yang saat itu merupakan bagian dari LGA Canterbury.

Australia kemudian membatalkan White Policy di tahun 1973, menggantinya dengan kebijakan multikulturalisme yang membuka kesempatan imigrasi tanpa pembatasan. Bersamaan dengan ini, terjadi perang saudara di Lebanon, mulai tahun 1975 sampai tahun 1990, yang membuat imigrasi orang Arab dari negara ini ke Australia semakin pesat. Beragam konflik yang terjadi di Timur Tengah juga memacu migrasi orang Arab yang tidak hanya dari Lebanon, tapi dari berbagai negara, menuju ke Australia.

Dalam Lebanese Migration and Settlement in Sydney, Australia (1982), I. H. Burnley menjelaskan tentang latar belakang agama dan daerah asal orang Lebanon yang bermigrasi ke Australia hingga masa-masa tersebut. Menurutnya, sejauh sampai periode itu, imigran yang berlatar belakang Kristen Maronit sebagian besar dari Lebanon utara, sebagian dari Lembah Bekaa dan sedikit dari selatan. Untuk latar belakang Kristen Ortodoks,  kebanyakan dari utara tapi beda lokasi dengan penganut Kristen Maronit, serta sedikit dari Lembah Bekaa. Sebaliknya, untuk latar belakang Kristen Melkit, kebanyakan berasal dari daerah selatan.

Untuk imigran dari Lebanon yang beragama Islam sendiri, tulisan di atas menyebutkan bahwa mayoritas mereka berasal dari daerah utara, sebagian dari Lembah Bekaa dan sedikit dari daerah selatan. Jadi latar belakang daerahnya sama dengan yang beragama Kristen Maronit. Sementara itu, dari data tahun 2021 melalui survei QuickStats oleh pemerintah, diketahui bahwa terdapat 45,1%. orang kelahiran Lebanon di Australia yang memeluk agama Islam.

Mencoba Berbahasa Arab

Dalam beberapa kesempatan, saya mencoba berbicara dengan orang Arab di sini menggunakan bahasa dialek harian, bukan bahasa baku. Namun kebanyakan, mereka tidak terlalu antusias menanggapi, akhirnya tetap mengobrol dalam Bahasa Inggris. Ini termasuk ketika bersama teman sekampus yang dari Yordania dan Arab Saudi. Dugaan saya, kalau kita tidak benar-benar menguasai dialek mereka, maka mereka tidak akan bersemangat menanggapi. Kalaupun diajak berbahasa Arab baku atau fusha, mereka juga tidak tertarik karena bahasa jenis ini terlalu rumit.

Di 22 negara yang termasuk dalam Liga Arab, Bahasa Arab fusha digunakan sebagai bahasa resmi pemerintahan, bahasa dunia akademik maupun bahasa jurnalistik. Bagi kaum Muslim, Bahasa Arab fusha ini dikenal sebagai bahasa Al Quran, Hadits maupun karya para ulama. Yang jenis pertama biasa disebut Bahasa Arab standar modern, sementara yang kedua disebut Bahasa Arab standar klasik. Di Indonesia, Bahasa Arab fusha baik klasik maupun modern inilah yang dipelajari di pesantren, madrasah dan lembaga pendidikan Islam.

Tapi bagi orang Arab sendiri, Bahasa Arab fusha ini bukanlah hal yang mudah dipraktikkan. Oleh karena itulah mereka memilik bahasa tutur sehari-hari yang kadang disebut bahasa ‘ammiyah, dengan aturan yang lebih sederhana. Sebagai contoh dalam Bahasa Arab fusha, terdapat 14 kata ganti beserta aturan morfologi serta sintaksis yang rumit.  Namun dalam Bahasa Arab ‘ammiyah, kata ganti bisa bisa dikurangi menjadi 8, dengan aturan morfologi maupun sintaksis yang lebih sederhana.

Tapi bukan berarti mempelajari Bahasa Arab ‘ammiyah menjadi serta merta mudah, karena jenis dialeknya sangat beragam, tidak hanya antar negara, tapi bisa antar daerah dalam satu negara. Sebagai contoh, ‘aku mau’ atau ‘ aku ingin’ dalam Bahasa Arab fusha adalah ana uridu. Namun ketika di Mesir saya bilang ana ‘ayiz, sedang di Tanah Suci saya bilang ana abgha. Di Jogja, ketemu tamu kampus dari Emirat saya bilang ana aba, ketemu mahasiswa dari Libya saya bilang ana nibbi. Saat ini, karena ketemu orang Lebanon, saya bilang ana biddi.

Contoh di atas adalah baru sebagian, belum dialek lain. Pun perbedaan tidak hanya dari kosakata namun juga bisa dalam bunyi huruf. Sebagai misal, bunyi huruf qaf dalam Bahasa Arab fusha, masuk dalam dialek Saudi Arabia menjadi bunyi huruf jim, tapi di Mesir dan Lebanon menjadi bunyi hamzah. Maka kata ‘hatiku’ dalam Bahasa Arab fusha adalah qalbi, tapi di Saudi Arabia menjadi galbi, sementara di Mesir dan Lebanon menjadi albi. Tapi di Mesir ‘sekolah’ disebut madrasa, sementara di Lebanon jadi madrase.

Belajar Bahasa Arab ‘ammiyah bagi saya tetap menarik, meskipun tidak lagi jadi satu antusiasme utama. Selain susah karena banyak dialek, tidak terlalu ditanggapi jika tidak benar-benar dikuasai, juga seperti yang saya ungkap di atas, karena harus kalah dengan pikiran dan urusan lain. Saat ini, bisa menjaga keterampilan Bahasa Arab fusha yang sudah dipunyai saja sudah sangat disyukuri.

Untuk orientasi Bahasa Arab di Indonesia, baik dalam konteks dunia pendidikan maupun dakwah Islam, yang lebih banyak digunakan adalah jenis fusha. Satu lembaga pendidikan misalnya, punya kemungkinan kedatangan tamu dari negara Arab tertentu, juga kemungkinan alumninya melanjutkan studi ke negara Arab tertentu. Tapi lembaga pendidikan ini tidak menyelenggarakan pengajaran Bahasa Arab ‘ammiyah, karena belum tahu dari negara mana si tamu akan datang, ke negara mana pula alumninya mau lanjut studi.

Dalam kegiatan dakwah di Indonesia, para tamu dari negara-negara Arab semisal para syaikh tentunya menguasai Bahasa Arab fusha baik untuk penyampaian materi maupun komunikasi. Jadi para penerjemah pun tidak akan terlalu kesulitan jika tidak menguasai Bahasa Arab ‘ammiyah dari derah asal syaikh tersebut. Namun jika ada kesempatan, mempelajari bahasa ‘ammiyah ini juga bermanfaat, karena akan membantu menghadirkan suasana akrab tersendiri. Ya, misalnya jadi bisa bertanya, “hadratak biddak shay walla ahwe?”

Kontributor

  • Muhyidin Basroni

    Dosen Fakultas Dirasah Islamiyah, UNU Yogyakarta. Pernah menjadi mahasiswa Universitas Al Azhar Kairo dan aktif di PCINU Mesir. Saat ini menempuh studi di Western Sydney University, Australia sambil belajar di Pengajian Kaifa NU New South Wales.