Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Ibadah

Tasyabbuh bi Ahli Arafah: Moment Refleksi, Doa dan Munajat

Avatar photo
670
×

Tasyabbuh bi Ahli Arafah: Moment Refleksi, Doa dan Munajat

Share this article
Hari kesembilan di bulan Dzulhijah menjadi puncak haji, wukuf di padang Arafah.
Hari kesembilan di bulan Dzulhijah menjadi puncak haji, wukuf di padang Arafah.

Di antara hari istimewa dalam Islam adalah hari Arafah, yaitu hari kesembilan di bulan Dzulhijah yang menjadi puncak haji, wukuf di padang Arafah.

Hari Arafah juga menjadi momentum untuk berpuasa, berdoa, berdzkir, dan muhasabah bagi umat muslim di seluruh dunia yang tidak menunaikan ibadah di tanah suci.

Kemuliaan Hari Arafah Bagi Seluruh Umat Muslim

Hari Arafah merupakan hari paling agung di dunia di mana Allah mengampuni dosa-dosa umat Islam bukan hanya yang sedang wukuf, melainkan di segala penjuru dunia mana kala mereka membentangkan diri untuk mendapatkan anugerah Allah yang dicurahkan pada hari tersebut dengan ibadah dan doa yang sungguh-sungguh.

Rasulullah bersabda: “Jika tiba hari Arafah, tidaklah seseorang masih mempunyai setitik iman dalam hatinya melainkan ia akan diampuni. Lantas ada yang bertanya: Wahai Rasulallah, apakah terkhusus bagi yang wukuf di Arafah saja atau untuk semua manusia? Rasulullah menjawab: Untuk semua manusia”. (HR. Abu Dawud)

Dalam riwayat hadits lain Rasulullah bersabda: “Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)

Dengan demikian, puasa sunnah Arafah menjadi salah satu ibadah yang dianjurkan bagi umat Muslim yang tidak menjalankan ibadah haji di tanah suci. Dikatakan oleh para alim bahwa puasa dapat menjadi wasilah amal dan doa untuk lebih cepat naik ke langit dan karena fadhilah puasa pada hari sebagaimana hadis di atas.

At-Ta’rif bi Arafah

Dalam Kitab Ahwalu as-Salaf fil Hajj, orang-orang shaleh dahulu seperti salah satunya adalah sahabat Ibnu Abbas yang ketika tidak berhaji, melakukan amalan khusus pada hari Arafah sebagaimana jamaah haji yang sedang wukuf di tanah Arafah. Salafuna saleh saling memperingatkan pada hari Arafah untuk sibuk dengan ibadah dan memperbanyak doa serta tidak banyak bergaul dengan manusia. Disebutkan Atha’ bin Abi Rabbah berkata, “Jika engkau mampu mengasingkan diri di siang hari Arafah, maka lakukanlah.”

Hal tersebut juga dilakukan hingga sekarang oleh para ulama khalaf, mereka bersama jamaah berkumpul di masjid ataupun majelis-majelis dzikir dan bertasyabbuh (mengikuti) orang-orang haji yang wukuf di arafah dengan melakukan kegiatan i’tikaf seraya bermunajat dan berdoa kepada Allah.

Terkait anjuran dzikir dan doa untuk dibaca di hari Arafah ini, kita diajarkan Hubabah Ummu Ali Qadir al-Habsyi, guru kita di Ribath Ilmi Syarif, Seiwun, beliau meriwayatkan dari atsar Sayyidina Ibnu Abbas bahwa sebaik-baik dzikir di hari Arafah adalah tilawah dan tadabbur Quran. Karenanya sudah seharusnya kita meluangkan waktu kita satu jam, dua jam, atau lebih untuk bergaul dengan Quran, termasuk juga di sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah yang menjadi amal terbaik sepanjang tahun sebagaimana sabda Nabi saw.

Hubabah juga menganjurkan, untuk kita memperbanyak membaca doa tahlil sebagaimana doa arafah yang masyhur dalam hadits Nabi saw:

“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik perkataan yang aku ucapkan begitu juga Para Nabi sebelumku adalah:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، لَهُ المُلْكُ وَ لَهُ الحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر

Laa ilaaha illallah Wahdahu Laa Syarikalah, Lahul Mulku Wa Lahul Hamdu Yuhyi Wa Yumitu Wahua ‘ala Kulli Syai in Qodir

Artinya: “Tiada tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu baginya. Kerajaan dan pujian hanyalah miliknya. Maha menghidupkan dan mewafatkan. Dan Dia berkuasa atas segalanya.” (HR. Tirmidzi)

Mendoakan Umat Nabi Muhammad

Selain sebagai momen untuk berdiam diri muhasabah dan berdoa supaya Allah mengabulkan hajat dunia dan akhirat, ulama juga mengajarkan kita untuk tidak melupakan dan peduli kepada umat Nabi saw yang lainnya. Kita mendoakan orang tua, para guru, saudara muslimin di seluruh penjuru dunia dengan ikhlas dan tulus agar mereka mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat.

Terkhusus juga saudara-saudara kita yang sedang menghadapi musibah seperti di Syiria dan Palestina, semoga Allah Ta’ala meringankan penderitaan yang dialami oleh saudara-saudara kita; semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat mereka dan melimpahkan kepada mereka ketenangan di tengah-tengah kesulitan dan kesabaran yang indah.

Suatu waktu, kami pernah mendengar dari Prof Nasaruddin Umar bahwa mendoakan orang lain adalah di antara bentuk shadaqah termudah kita untuk umat Nabi Muhammad saw, tanpa harus mengeluarkan materi. Dalam Syarah Riyadhus Shalihin, mendoakan saudaranya menunjukkan jujurnya keimanan kita. Hal ini karena Nabi saw bersabda, “Tidaklah sempurna keimanan kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”

Akhir Kalam, Nabi saw bersabda, “Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, ‘Dan bagimu juga kebaikan yang sama.’” (HR. Muslim) Abu Hasan al-Mufarakfuri dalam kitab Mura’atul Mafatih, “Doa para malaikat itu mustajab.” Wallah Muwaffiq.

Kontributor