Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Esai

Antara Kesombongan Barat dan Fanatisme Buta: Mengapa Umat Islam Terus Terdesak?

Avatar photo
621
×

Antara Kesombongan Barat dan Fanatisme Buta: Mengapa Umat Islam Terus Terdesak?

Share this article
Antara Kesombongan Barat dan Fanatisme Buta: Mengapa Umat Islam Terus Terdesak?
Antara Kesombongan Barat dan Fanatisme Buta: Mengapa Umat Islam Terus Terdesak?

“_Barat melabeli pemilik tanah sah yang berjuang sebagai ‘teroris‘ demi melindungi pendatang kolonial. Saat fakta sejarah disodorkan, mereka hanya menjawab dengan keangkuhan: ‘Biar saja (Walau begitu)_…'” — Syekh Muhammad al-Ghazali

Dalam diskursus sejarah dan geopolitik global, narasi sering kali menjadi instrumen kekuasaan yang lebih tajam daripada pedang. Siapa yang menguasai panggung informasi, dialah yang berhak menentukan siapa “pahlawan” dan siapa “teroris”. Syekh Muhammad al-Ghazali, dalam karya monumentalnya Sirru Ta’akhuri al-Arab wa al-Muslimin (Rahasia Kemunduran Bangsa Arab dan Muslim), melakukan pembedahan intelektual yang sangat tajam terhadap standar ganda Barat, sekaligus memberikan peringatan keras terhadap “rayap” yang menghancurkan Islam dari dalam: fanatisme sempit dan sikap takfiri.

Syekh Muhammad al-Ghazali menegaskan bahwa para sahabat Nabi SAW adalah perpanjangan dari cahaya kenabian. Pergerakan mereka ke wilayah Romawi di Mu’tah dan Tabuk bukanlah ekspansi imperialistik, melainkan respons defensif untuk mengusir kolonialisme Eropa (Romawi) yang telah lama menjajah tanah Arab. Beliau membongkar paradoks narasi sejarah: bagaimana mungkin pemilik tanah yang berjuang mengusir penjajah disebut “agresor”, sementara pendudukan kolonial Romawi justru dianggap legal? Bagi beliau, Romawi adalah representasi awal dari “fanatisme Eropa” yang merangsek ke Timur. Perang Mu’tah dipicu oleh pembunuhan diplomat Muslim, dan Ekspedisi Tabuk adalah langkah antisipasi terhadap mobilisasi militer Romawi yang mengancam Madinah. Mengusir penjajah dari tanah air adalah tindakan paling terhormat, namun oleh narasi Barat, hal itu justru diputarbalikkan menjadi agresi.

Logika Romawi yang memutarbalikkan fakta agresi tersebut diwariskan oleh mentalitas kolonial Barat hingga kini—terutama dalam memandang isu Palestina. Syekh Muhammad al-Ghazali menyoroti watak tabajjuh (kesombongan) Eropa yang secara sistematis melabeli pejuang kemerdekaan sebagai teroris demi melindungi entitas pendatang. Dalam kitabnya, beliau menuliskan kritik yang menohok:
“إن دراسة التاريخ بهذا التبجح ديدن الأوربيين، وهم الآن ماضون مع طبيعتهم في عدّ العرب الذين يقاتلون «إسرائيل» إرهابيين مهاجمين معتدين ! فإذا قلت لهم: إن هؤلاء العرب هم أصحاب الأرض وسكان مدنها وقراها من قرون سحيقة وإن هؤلاء اليهود طارئون من أيام، قدموا من بولندا وروسيا وإنجلترا وأمريكا، ولا حق لهم هنا… قالوا في تبجح: ولو…”
“Sesungguhnya mempelajari sejarah dengan kesombongan (tabajjuh) semacam ini adalah watak orang-orang Eropa. Sekarang pun mereka terus melanjutkan tabiat mereka dengan menganggap orang-orang Arab yang memerangi ‘Israel’ sebagai teroris, penyerang, dan agresor! Padahal, jika Anda katakan kepada mereka: ‘Sesungguhnya orang-orang Arab ini adalah pemilik tanah tersebut serta penduduk kota dan desanya sejak berabad-abad lampau, sedangkan orang-orang Yahudi ini adalah pendatang baru yang datang dari Polandia, Rusia, Inggris, dan Amerika, serta tidak memiliki hak sedikit pun di sini…’ Maka mereka akan menjawab dengan penuh kesombongan: ‘Biar saja (walau begitu)…'”

Inilah kesombongan yang sistemik. Fakta sejarah diabaikan, hak asasi diinjak, dan keadilan dikorbankan demi agenda politik. Ketika narasi dikuasai, kebenaran pun dapat diputarbalikkan sesuka hati. Yang mencengangkan, fenomena pemutarbalikan fakta ini bukan hanya monopoli Barat. Syekh Muhammad al-Ghazali memberikan sindiran yang sangat tajam bagi golongan di dalam tubuh Islam sendiri yang memiliki watak “kesombongan” serupa—mereka yang menghancurkan Islam dari dalam melalui fanatisme dakwah yang dangkal dan sikap takfiri.

Beliau melihat bahwa kelompok yang merasa paling benar sendiri, mudah menghakimi, dan gemar mengkafirkan sesama Muslim sebenarnya sedang menjalankan agenda yang diinginkan musuh. Fanatisme sempit ini seperti “membakar ban di tengah rumah sendiri”. Barat sering kali tidak perlu bersusah payah menghancurkan peradaban Islam secara militer—mereka cukup memprovokasi golongan fanatik ini agar energi umat habis untuk saling berselisih secara internal. Sikap takfiri ini adalah bentuk lain dari tabajjuh intelektual—merasa memegang otoritas tunggal atas surga sambil menutup pintu rahmat bagi orang lain. Akibatnya, dakwah yang seharusnya menjadi rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam) berubah menjadi wajah yang sangar, kaku, dan memecah belah kekuatan umat.

Inilah “rahasia kemunduran” yang sebenarnya: ketika umat lebih sibuk mencari kesalahan saudara seiman daripada menghadapi ketidakadilan global. Sementara rumah terbakar, penghuni rumah malah berkelahi memperdebatkan siapa yang paling saleh di antara mereka. Energi yang seharusnya digunakan untuk membangun peradaban justru terkuras dalam perdebatan teologis yang tak berujung, saling menghakimi, dan saling mengkafirkan. Inilah ironi terbesar: musuh tidak perlu menyerang ketika umat sudah sibuk menghancurkan dirinya sendiri.

Melalui kitabnya, Syekh Muhammad al-Ghazali mengajarkan kita untuk waspada pada dua arah sekaligus. Kita harus melawan hegemoni narasi luar yang melabeli pejuang sebagai teroris, namun kita juga harus membersihkan barisan internal dari golongan fanatik yang merusak citra Islam. Islam tidak akan menang hanya dengan mengusir penjajah fisik jika kita masih memelihara “watak penjajah”—kesombongan dan penindasan terhadap sesama—di dalam pikiran kita sendiri. Kedaulatan umat hanya mungkin tercapai jika kita memiliki ketegasan terhadap ketidakadilan dunia dan kelembutan serta persatuan di jantung umat itu sendiri.

Umat Islam hari ini terdesak bukan hanya karena kekuatan musuh di luar, tetapi juga karena kelemahan dan perpecahan di dalam. Tanpa pembersihan internal dari racun takfiri dan fanatisme buta, umat ini akan terus terdesak oleh arogansi eksternal. Pesan Syekh Muhammad al-Ghazali dalam kitabnya menunjukkan bahwa umat Islam menghadapi dua ancaman sekaligus: hegemoni narasi Barat yang sistematis di luar, dan perpecahan akibat fanatisme sempit di dalam. Beliau menekankan bahwa kedaulatan umat hanya dapat terwujud jika ada ketegasan menghadapi ketidakadilan global, sekaligus persatuan dan sikap adil dalam tubuh umat sendiri. Tanpa pembersihan internal dari sikap takfiri dan fanatisme buta, umat akan terus terdesak—bukan hanya oleh arogansi Barat, tetapi juga oleh mereka yang mengaku membela Islam sambil justru menghancurkannya dari dalam.

Kontributor