Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Esai

Mahfud MD di Haul Gus Dur: Shalawat 2 Kali, Nyanyi 2 Kali

Avatar photo
494
×

Mahfud MD di Haul Gus Dur: Shalawat 2 Kali, Nyanyi 2 Kali

Share this article
Mahfud MD di Haul Gus Dur: Shalawat 2 Kali, Nyanyi 2 Kali
Mahfud MD di Haul Gus Dur: Shalawat 2 Kali, Nyanyi 2 Kali

Murid Gus Dur, yang juga profesor Hukum Tata Negara ini, mengawali ceramahnya dengan membaca Shalawat Asyghil pada Haul 16 Gus Dur di Ciganjur, Sabtu (20/12/2025).

Shalawat itu dilantunkan bersama ribuan jamaah yang hadir malam tadi, dalam suasana bersahaja. Tidak tampak ada kegentingan, seperti biasanya shalawat ini dibacakan. Mahfud kebagian ceramah, yang isinya mengulas landasan fikih politik Gus Dur.

Sebelumnya, saya lihat dia sibuk menulis naskah sepanjang acara berlangsung. Terlihat khusyu sekali menulisnya, hanya tersenyum sedikit ketika di-roasting Inayah, anak bungsu Gus Dur yang jadi MC malam tadi. “Pak Mahfud ini pandai berpolitik, agamanya juga bagus, tetapi kenapa cuma dapat 16 persen ya,” kata Inayah, sambil matanya menyorot ke Ganjar, yang juga hadir, duduk di belakang Mahfud, dan ikut tertawa.

Tulisan Mahfud tadi dibaca saat ceramah. Karena membaca, ceramahnya jadi sistematis dan enak didengar. Mahfud berbicara panjang lebar mengenai bentuk “negara ideal” yang tidak pernah dijelaskan secara rinci dalam Al Quran, meskipun kitab suci itu menjelaskan tentang keberadaan negara.

“Kita tidak pernah bisa hidup tanpa negara,” katanya.

Sistem dan bentuk Negara Madinah tidak bisa ditiru, bahkan mustahil bisa diterapkan, kapan pun dan di mana pun. Karena, kata dia, di situ Nabi bertindak sebagai kepala negara, hakim, imam, sekaligus wakil masyarakat.

“Madinah dipimpin oleh Nabi, tidak mungkin ada Nabi lagi setelah Muhammad.”

Setelah Nabi wafat, tidak ada lagi pemimpin tunggal yang bisa menjawab segalanya seperti Nabi, memutuskan apa saja, dan bisa berlaku adil seperti Nabi. Sebagai konsekuensi logis, bentuk pemerintahan Madinah tidak akan sama lagi.

  • Abu Bakar dipilih secara musyawarah, maka disebut Khalifah.

  • Umar disebut Amirul Mukminin karena dia diangkat melalui penunjukan langsung. Begitu seterusnya.

Satu peristiwa penting saat Nabi masih hidup terjadi, yaitu tercetusnya Piagam Madinah. Sebuah model kesepakatan bersama antara masyarakat yang majemuk. Ada warga pendatang, ada warga lokal, dan berbagai agama.

Piagam Madinah merupakan spirit awal adanya toleransi, pluralisme, dan bahkan demokrasi, yang kelak menginspirasi model-model negara modern berpenduduk mayoritas Islam. Maka dari itu, tidak ada konsep atau sistem tunggal dalam bernegara. Boleh berbeda. Teks agama tidak pernah membatasi itu.

  • Mau pakai kerajaan dengan sistem monarki absolut seperti Saudi atau Brunei, tidak apa-apa.

  • Pakai monarki konstitusional seperti Malaysia, pakai sistem Republik Islam seperti Pakistan atau Mesir juga tidak masalah.

Tetapi Indonesia, memilih demokrasi. Kata yang sangat asing oleh mayoritas umat Islam saat itu. Bahkan, banyak ulama yang awalnya menolak. Tetapi, demokrasi lah yang telah menyelamatkan negara paling rumit di dunia ini dari perpecahan.

Demokrasi berhasil menyatukan puluhan kerajaan, agama dan kepercayaan, ribuan ras, suku dan bahasa yang menyebar di 17.504 pulau. Buah demokrasi, yang pernah dianggap tidak Islami oleh banyak kiai NU dulu, telah memberi ruang bagi lagu “Yalal Wathon” mengumandang di mana-mana.

Lagu ciptaan Mbah Wahab ini, kata Mahfud, tidak pernah melantun di jagat Indonesia sebelum Era Reformasi. Baru setelah Gus Dur jadi presiden, lagu ini menjadi lagu wajib bagi warga NU. Mahfud tiba-tiba menyanyikan lagu ini dan mengajak hadirin bernyanyi bersama. Semuanya hafal.

Lagu yang mengandung semangat nasionalisme ini, kata Mahfud, juga ada padanannya. Dulu, setelah kerajaan Aceh kalah dari Belanda, mereka menyanyikan lagu yang punya spirit perjuangan yang sama dengan Yalal Wathon.

Mahfud hafal lagu Aceh berbahasa Arab itu. Dia nyanyikan sendiri sampai habis. Hafal liriknya. Yang menarik, di dalam bait lagu itu ada kata “Indonesia”.

“Tidak ada yang hafal kan kalian?” kata Mahfud.

Bagaimana mau hafal, Pak, saya cari judul lagu itu belum ketemu sampai sekarang. Kata dia, lagu tersebut terinspirasi dari perjuangan orang-orang di Pulau Jawa mengusir Belanda. Mereka sudah dengar nama “Indonesia”, sebagai spirit perjuangan mereka. Lagu yang kelak jadi alasan untuk bergabung ke republik ini.

Sebetulnya Mahfud belum mau mengakhiri ceramahnya. Tetapi karena waktunya sudah dihabiskan Kirun CS, yang nglawak brutal malam tadi, maka Mahfud pun harus buru-buru selesai.

Mahfud MD kembali melantunkan Shalawat Asyghil sebelum turun dari podium. Seluruh hadirin mengikuti bait demi bait shalawat tersebut. Menggema, mengisi langit Ciganjur malam tadi. Seraya mengisyaratkan ada kegentingan, meski tak diucapkan dalam isi ceramah. Siapa berani menebak, mengapa shalawat itu dibacakan dua kali?

Kontributor

  • Erik Erfinanto

    Part-time writer, serious reader, full-time editor. Loving books, movies, history and math. Living in Jakarta now.