Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Esai

Ngaji Tarikh (1): Pragmatisme Akut Khalifah Ja’far al-Manshur

Avatar photo
825
×

Ngaji Tarikh (1): Pragmatisme Akut Khalifah Ja’far al-Manshur

Share this article
Meski jadi khalifah urutan kedua, tapi banyak sejarawan menyebut Abu Ja'far al-Manshur sebagai perintis utama Daulah Abbasiyah.
Meski jadi khalifah urutan kedua, tapi banyak sejarawan menyebut Abu Ja'far al-Manshur sebagai perintis utama Daulah Abbasiyah.

Khalifah yang satu ini pantas disebut kiblat para politisi dalam soal pragmatisme. Ia bernama Abdullah bin Muhammad Abu Ja’far al-Manshur, khalifah ke-2 Daulah Abbasiyah. Meskipun ia khalifah urutan kedua, tapi banyak sejarawan yang menyebut dialah perintis utama Daulah Abbasiyah. Dia pula yang membangun kekuatan besar untuk mengkonsolidasi berbagai infrastruktur dasar bagi keberlangsungan imperium Abbasiyah. Dengan segala kecakapan, ketangkasan, kecerdasan, kekejian, dan kekejaman yang ada pada dirinya, Daulah Abbasiyah mampu berdiri di atas fondasi yang sudah kokoh.

Di era awal pendirian, Daulah Abbasiyah sangat berhutang kepada panglima besar mereka bernama Abu Muslim al-Khurasani. Saking besarnya peran Abu Muslim, tingkat popularitasnya di tengah masyarakat nyaris setara popularitas khalifah pertama Abbasiyah, yaitu Abu al-Abbas al-Saffah. Pada situasi seperti ini, intuisi politik Abu Ja’far al-Manshur yang merupakan saudara khalifah pertama sekaligus penerus takhta kekuasaan, mencium ada sesuatu yang tidak beres pada Abu Muslim. Inilah awal mula kecurigaan Abu Ja’far al-Manshur pada penyokong utama Daulah Abbasiyah itu.

Memang sikap curiga al-Manshur adalah bentuk kehati-hatian. Ia tak ingin keluarganya menjadi korban intrik politik yang mungkin saja terjadi. Ia pun melihat potensi itu, salah satunya pada diri Abu Muslim yang kala itu menjadi orang yang paling kuat di bawah khalifah. Untuk memastikan pengaruh Abu Muslim, al-Manshur pun melakukan sidak ke Khurasan, atas perintah khalifah serta membawa misi penting lainnya. Setelah pulang dari Khurasan, ia pun menghadap kepada sang khalifah di Kufah dan melaporkan situasi sebenarnya yang terjadi di Khurasan.

فقال لأبي العباس: لست خليفة ولا أمرك بشيء إن تركت أبا مسلم ولم تقتله، قَالَ: وكيف؟ قَالَ: والله ما يصنع إلا ما أراد، قال ابو العباس: اسكت فاكتمها.

Abu Ja’far al-Manshur berkata kepada Khalifah al-Saffah, “Engkau (sejatinya) bukanlah khalifah dan kewenanganmu tak ada artinya jika engkau membiarkan Abu Muslim al-Khurasani hidup dan tak membunuhnya.” Khalifah al-Saffah bertanya, “Terus bagaimana?” Abu Ja’far al-Manshur menjawab, “Demi Allah! Abu Muslim tidak melakukan suatu tindakan kecuali apa yang ia inginkan.” Khalifah al-Saffah hanya menjawab, “Diam dan simpan saja omonganmu!” (al-Thabari t.t.:450).

Pada tahun 136 H., Abu Muslim datang dari Khurasan menghadap kepada Khalifah al-Saffah di Irak, setelah sebelumnya mengajukan permohonan secara prosedural. Al-Manshur yang sedari awal menaruh rasa curiga yang sangat tinggi kepada panglima khalifah itu, mewanti-wanti kepada khalifah agar segera menghabisinya. Al-Manshur merasa yakin lambat laut Abu Muslim pasti akan menggerus marwah khalifah dan keluarganya. Jika dibiarkan terus-menerus, Abu Muslim tak hanya membahayakan bagi Khalifah al-Saffah yang sedang menjabat, tapi juga bagi masa depan dirinya sebagai penerus kekuasaan. Apalagi dalam beberapa kesempatan, Abu Muslim kerap kali meremehkan Abu Ja’far al-Manshur sebagai penerus takhta al-Saffah (al-Thabari t.t.:468).

Pada momen kedatangan Abu Muslim untuk menghadap al-Saffah, al-Manshur masih mencoba merayu khalifah agar kali ini benar-benar menghabisi Abu Muslim.

قَالَ أبو جعفر لأبي العباس: يا أمير المؤمنين، أطعني واقتل أبا مسلم، فو الله إن في رأسه لغدرة، فقال: يا أخي، قد عرفت بلاءه وما كان منه.

Abu Ja’far al-Manshur berkata kepada Khalifah al-Saffah, “Wahai Amirul Mukminin, ikuti saranku, bunuhlah Abu Muslim. Karena di kepalanya sudah ada pengkhianatan.” Khalifah al-Saffah menjawab, “Wahai saudaraku, sesungguhnya aku sudah tahu kejahatan dan segala hal yang ia lakukan.” (al-Thabari t.t.:468). Meskipun al-Saffah ragu-ragu, akhirnya ia setuju dengan rencana pembunuhan terhadap Abu Muslim yang dilakukan oleh al-Manshur. Namun sayangnya, saat al-Manshur hendak melakukan tugasnya untuk mengeksekusi Abu Muslim di dalam istana khalifah, al-Saffah berubah pikiran dan segeralah ia mengirim utusan kepada al-Manshur untuk mengurungkan rencana dan membiarkan Abu Muslim tetap hidup.

Meskipun ambisi untuk membunuh Abu Muslim masih terus berkobar dalam hatinya, namun dalam sejumlah kesempatan, al-Manshur menampakkan sikap yang berbeda. Hal ini seperti cerita salah satu pengawalnya yang bernama Salim. Ketika Salim ikut dalam rombongan perjalanan al-Manshur dari kota Rey ke Khurasan, datanglah Abu Muslim untuk menemui al-Manshur yang sedang melaksanakan tugas kenegaraan. Alih-alih langsung masuk, Abu Muslim justru meminta izin terlebih dahulu kepada Salim. Ia lalu bergegas menghadap al-Manshur menyampaikan bahwa Abu Muslim datang meminta izin untuk bertemu. Al-Manshur marah kepada pengawalnya dan berkata, “Celakalah dirimu! Jika kamu melihat Abu Abu Muslim, langsung saja bukakan pintu. Juga katakan kepadanya untuk masuk dengan tunggangannya.” (al-Thabari t.t.:449).

Al-Manshur sadar betul betapa penting posisi Abu Muslim di bawah kekuasaan saudaranya, al-Saffah, dengan segala pengaruh dan kekuasaan yang ia miliki. Meski ambisi untuk menghabisinya terus berkobar, al-Manshur tetap menjaga batas-batas yang wajar dalam setiap interaksinya dengan lawan-lawan politiknya, termasuk dengan Abu Muslim. Ini merupakan langkah taktis sekaligus pragmatis yang merupakan salah satu watak utama calon khalifah ini. Sikap-sikap semacam ini rupanya adalah cerminan utama seorang politisi ulang yang ingin setiap langkahnya bisa terwujud dengan segala cara. Prinsip pragmatis al-Manshur itu dicatat oleh al-Dinawari berikut ini:

قَالَ الْمَنْصُورُ – وَذَكَرَ أَبَا مُسْلِمٍ وَمَا كَانَ مِنْ مُدَارَاتِهِ -، فَقَالَ الْمَنْصُورُ: إِذَا مَدَّ إِلَيْكَ عَدُوُّكَ يَدَهُ؛ فَإِنْ قَدَرْتَ عَلَى قَطْعِهَا، وَإِلا؛ فَقَبِّلْهَا.

Al-Manshur berkata tentang Abu Muslim dan bagaimana ia berinteraksi dengannya,  “Jika musuhmu mengulurkan tangannya kepadamu, tebas jika kau bisa, atau cium jika kau tak berdaya.” (al-Dinawari 1998:137). Ungkapan ini menegaskan bahwa hubungan antara al-Manshur dan Abu Muslim sejatinya mengalami naik-turun. Kadang al-Manshur coba berusaha menampakkan respek di hadapan panglima besar sekaligus penguasa atas wilayah Khurasan ini, tapi di waktu lain ia tak jarang malah menampakkan sikap tidak suka. Begitu pula sebaliknya. Apa yang dilakukan oleh kedua tokoh ini tak lebih dari sekadar langkah-langkah pragmatis untuk mengamankan kepentingan masing-masing.

Al-Manshur butuh waktu lama untuk bisa mewujudkan ambisinya menghabisi lawan politik terbesarnya, Abu Muslim. Ia baru bisa menghabisi nyawa Abu Muslim setelah tampuk kekuasaan ada di tangannya, tepatnya pada tahun 137 H. Pada saat menjabat khalifah ke-2 Daulah Abbasiyah, al-Manshur melakukan sebuah intrik dan berhasil membunuh Abu Muslim di istananya.

Orang yang mendapatkan perintah untuk menghabisi Abu Muslim adalah Utsman bin Nahik dan Syabib bin Waj. Setelah mendapatkan pukulan pertama dari Utsman, Abu Muslim sempat memohon kepada Khalifah al-Manshur agar ia dibiarkan hidup dan ia berjanji untuk menumpas musuh-musuh khalifah. Tapi khalifah hanya menjawab, “Musuh mana yang lebih berbahaya darimu?” (al-Thabari t.t.:491). Itulah akhir Abu Muslim al-Khurasani, korban pragmatisme akut Khalifah al-Manshur. Apakah Anda masih membayangkan bahwa sistem khilafah adalah jawaban paling ideal untuk segala macam persoalan? Mari kita mengambil pelajaran dari khalifah pragmatis ini. Wallahua’lam.

Kontributor

  • Musyfiqur Rahman

    Penerjemah, peminat khazanah kebudayaan dan sastra Arab klasik, dan penulis buku Ulama Nahwu Garis Lucu. Twitter/IG: @syahdaka.