Kata An-nâs banyak disebut dalam al-Quran. Istilah ini digunakan al-Quran untuk memanggil manusia dari aspek sosiologis. Penafsiran ini didasarkan bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang memiliki dorongan atau kecenderungan untuk hidup bermasyarakat. Dengan kata lain, setiap manusia tidak bisa terlepas dari kehadiran manusia lainnya.
Masyarakat modern terdiri dari varian manusia yang kompleks. Mulai dari kumpulan ras, etnis, budaya dan agama. Setiap varian memiliki sub varian lagi dengan tradisi dan budaya yang berbeda-beda. Lebih kompleks lagi jika dirunut dari lingkungan keluarga. Sehingga keberadaan masyarakat modern punya tuntutan lebih untuk saling mengenali satu sama lain.
Perihal ini, Allah telah mengingatkan umat manusia sejak 15 abad yang lalu melalui firmanNya dalam Q.. Al-Hujurat ayat 13:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Dengan demikian, banyaknya varian manusia yang ada di dunia ini merupakan realitas yang tidak bisa ditolak. Dalam Islam, keberadaan varian-varian yang ada di masyarakat sejak dulu hingga zaman modern ini telah menjadi sunnatullah. Sesuatu yang telah menjadi sunnatullah sudah selayaknya diterima dan disikapi dengan bijak. Apalagi sunnatullah yang satu ini berasal dari perbedaan dan keberagaman.
Di samping dari dalil di atas, sebenarnya pendidikan sosial dalam Islam telah diperoleh manusia saat menjadi peserta didik melalui proses pendidikan yang berlangsung di lembaga pendidikan. Hal ini didasari atas makna pendidikan yang merupakan usaha untuk membimbing dan mengembangkan potensi peserta didik secara maksimal agar nantinya sebagai manusia, mereka mampu berperan aktif di masyarakat.
Usaha di lembaga pendidikan merupakan salah satu cara upaya sadar diri terhadap peserta didik agar tahu kewajiban dan tanggungjawabnya sebagai manusia. Sebab mereka akan menjadi bagian dari komunitas dalam masyarakat yang saling membutuhkan. Maka keterlibatan para alumni lembaga pendidikan sangat diharapkan mampu berkontribusi secara positif dalam menciptakan keharmonisan di masyarakat, bangsa dan sesama umat manusia secara global.
Aspek pendidikan Islam yang bersifat sosial
Dalam pendidikan Islam, tujuan pendidikannya diarahkan pada pembentukan manusia sosial yang memiliki sifat taqwa sebagai dasar sikap dan perilaku. Hal ini akan mengarahkan keterlibatan seorang muslim yang sadar akan hak dan kewajiban, tanggungjawab sosial, bersikap toleran terhadap yang lain, serta berusaha menjaga harmonisasi kehidupan mulai dari tataran yang paling bawah.
Demi mendorong terciptanya masyarakat yang sadar akan nilai-nilai sosial dalam kehidupan, pendidikan Islam memberikan solusi dengan tujuan-tujuan sosial (al-ahdâf al-ijtimâiyyah). Hal tersebut dapat dilihat dalam beberapa aspek pendidikan Islam. Di antaranya ada aspek pendidikan akhlak dan akal.
Pertama, Pendidikan akhlak.
Melalui pendidikan akhlak, umat Islam dapat dinaungi sikap mulia dari dalam dirinya. Sehingga akan muncul tabiat dan sikap yang baik saat berinteraksi dengan sesama. Hal ini didasari doktrin dalam agama Islam bahwa jika berakhlak baik, maka orang tersebut telah melaksanakan salah satu bagian dari ketaaatan seorang muslim.
Al-Ghazali menegaskan bahwa berakhlak baik itu artinya menghilangkan semua adat kebiasaan yang buruk dan tercela. Islam secara gamblang telah merincikan semua itu untuk dihindari. Sebagaimana menjauhkan diri dari najis dan kotoran. Hal tersebut untuk memunculkan kebiasaan baik yang bisa digemari, dilaksanakan bahkan bisa jadi kebiasaan.
Perhatian Islam terhadap akhlak umatnya merupakan bagian dalam menjalin interaksi secara baik terhadap sesama. Pendidikan ini bisa dimulai dari keluarga, rekan, relasi, kolega dan bahkan dapat pula dijadikan sistem dalam bermasyarakat. Maka dorongan untuk menjadi muslim yang berakhlak senantiasa didengungkan. Sebab syiar Islam yang paling utama adalah akhlak.
Kedua, Pendidikan akal.
Fungsi dari akal adalah sebagai pembeda; antara manusia dengan binatang. Antara yang boleh dengan yang dilarang. Antara baik dan buruk. Dalam hal ini, akal lebih menekankan posisinya sebagai petunjuk bagi manusia untuk membedakan antara yang benar dan salah.
Di sini akal berperan untuk mengontrol perilaku manusia. Atas dasar ilmu yang didapat dan dipercayai sebagai yang benar, maka hal-hal buruk dan tercela akan disingkirkan dari tindakannya. Baik kepada diri sendiri, terlebih kepada orang lain.
Dalam konteks pendidikan Islam, kedua aspek ini sebenarnya telah lama digunakan. Namun terkadang output-nya yang berbeda. Di mana manusia pada tiap generasi memiliki tipikal yang berbeda. Hal ini merupakan tantangan yang tidak akan pernah habis sampai hari kiamat tiba.
Tidak bisa kita pungkiri bahwa perhatian Islam terhadap aspek sosial masyarakat sangat besar. Mari kita saksikan keterlibatan lembaga-lembaga pendidikan Islam dalam menyiapkan manusia yang berakhlak mulia. Tentunya usaha ini demi membangun masyarakat modern yang tidak keluar dari norma-norma keagamaan.
Mungkin yang menjadi catatan adalah kurangnya penerapan akhlak dalam bermasyarakat. Contohnya dari para pemuda Islam yang masih banyak belum berpegang teguh pada akhlak Qurani dan nabawi sebagai dasar bersikap dan perilaku mulia. Sehingga masih terjadi kenakalan remaja. Namun seiring berjalannya waktu, harapannya ke depan mereka akan mampu berperan positif dalam masyarakat. Wallâhu a’lam.














Please login to comment