Sayyidah Rabi’ah al-Adawiyah adalah seorang tokoh sufi perempuan agung yang merupakan salah satu murid tokoh sufi agung Imam Hasan al-Bashri.
Sayyidah Rabi’ah terkenal dengan thariqah mahabbah dalam suluk guna wushul kepada Sang Khaliq Allah.
Suatu hari sang murid bertanya kepada gurunya tentang kategori seorang guru sejati. Beliau menanyakan suatu syair:
وغير تقي يأمر الناس بالتقى ● طبيب يداوي الناس وهو مريض
Belum bertakwa tapi menyuruh orang lain untuk bertakwa
Ibarat dokter mengobati pasien tapi dia sendiri juga sakit
Dalam syair di atas, tentu kita bisa memahami bahwa tidaklah ideal jika seorang guru sudah dipanggil guru, ustadz, syeikh atau apalah tapi dia sendiri belum bisa mengamalkan ilmunya.
Tapi realita harus kita pahami betul bahwa jika semua menunggu ideal, berapa banyak generasi muda yang akan tidak mendapatkan bimbingan seorang guru. Atau sebaliknya, ada yang ke-PD an, belum cukup ilmu apalagi memgamalkannya tapi sudah berani memasang gelar guru; ustadz; syeikh atau yang lain, akhirnya banyak generasi muda yang salah pilih guru.
Bagaimana Imam Hasan al-Bashri menjawab pertanyaan sang murid? Karena pertanyaannya berupa syair, sang guru menjawab dengan syair pula.
Beliau berkata:
خذي بعلمي ولا تنظري إلى عملي ● ينفعك علمي ولا يضررك تقصيري
Ambillah ilmuku, jangan kau hiraukan amalku ● (Jika demikian, maka)
Ilmuku berguna bagimu dan kecerobohanku tidaklah membahayakanmu.
Tidaklah boleh bagi kita untuk merasa cukup lalu berhenti belajar membenahi diri ketika sudah dipanggil guru; ustadz; syeikh atau yang lain dengan berdasar pada syair ini. Terus belajar dan berbenah dengan tetap menjalankan amanah sebagai guru.
Minhaj al-Muta’allim, karya Hujjatul Islam Imam al-Ghazali memberikan semangat luar biasa bagi yang bergelut dengan ilmu dan juga panduan bagi guru dan murid. Percakapan Sayyidah Rabi’ah dengan sang guru; Imam Hasan al-Bashri pun ada di kitab agung tersebut.











Please login to comment