Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Kisah

Mimpi Nuruddin Zanki Diminta Nabi Selamatkan Jasad Beliau

Avatar photo
2616
×

Mimpi Nuruddin Zanki Diminta Nabi Selamatkan Jasad Beliau

Share this article
Mimpi tiga malam Nuruddin Zanki soal upaya mencuri jasad Nabi yang digagalkan Allah.
Mimpi tiga malam Nuruddin Zanki soal upaya mencuri jasad Nabi yang digagalkan Allah.

Imam as-Samhudi, sejarawan kenamaan Islam asal Mesir (w. 911 H), dalam karya monumentalnya Wafâ’ al-Wafâ, meriwayatkan sebuah kisah menakjubkan yang terjadi pada tahun 557 H. Kisah ini ia kutip dari tulisan Imam Jamaluddin al-Isnawi (w. 772 H).

Pada masa pemerintahan Sultan Nuruddin Mahmud Zanki, kaum Nasrani merencanakan suatu tindakan besar yang mereka sangka akan berhasil. Namun, Allah menolak kecuali untuk menyempurnakan cahaya-Nya, meskipun orang-orang kafir membencinya.

Sultan Nuruddin dikenal sebagai pemimpin yang rajin beribadah, terutama di malam hari. Suatu malam, setelah selesai menunaikan tahajud dan wiridnya, ia tertidur. Dalam tidurnya, ia bermimpi melihat Rasulullah yang menunjuk kepada dua orang lelaki berkulit putih kemerahan dan berseru, “Tolong aku! Selamatkan aku dari dua orang ini!”

Nuruddin pun terbangun dalam keadaan sangat terguncang. Ia segera berwudu, menunaikan salat, lalu tidur kembali. Mimpi yang sama terulang. Ia bangun lagi, salat, lalu tidur, dan mimpi itu datang untuk ketiga kalinya. Saat itulah ia berkata, “Aku tak bisa tidur lagi.”

Ia segera memanggil menterinya, Jamaluddin al-Maushili, dan menceritakan apa yang terjadi. Sang menteri langsung menjawab, “Mengapa engkau masih duduk di sini? Berangkatlah sekarang juga ke Madinah! Dan rahasiakan apa yang engkau alami.”

Tanpa menunda, Nuruddin bersiap pada malam itu juga. Ia berangkat ke Madinah ditemani sang menteri. Setibanya di sana, ia mandi di luar kota, masuk ke Masjid Nabawi, salat di Raudhah, dan menziarahi makam Nabi. Setelah itu, ia duduk kebingungan—tak tahu harus memulai dari mana.

Yuk belajar di Kampus Sanad bareng tutor lulusan Al-Azhar. Info selengkapnya: https://lynk.id/kampussanad
Yuk belajar di Kampus Sanad bareng tutor lulusan Al-Azhar. Info selengkapnya klik di sini.

Melihat hal itu, sang menteri menyarankan agar mereka memberitahukan penduduk kota bahwa Sultan datang untuk berziarah dan membawa banyak sedekah. Maka diumumkanlah kepada penduduk Madinah untuk mencatat seluruh nama mereka yang hadir. Sultan memerintahkan agar semua warga datang satu per satu. Setiap orang diperhatikan dengan saksama oleh sang Sultan—mencari sosok dua orang yang ditunjukkan oleh Nabi dalam mimpinya. Namun, tak satu pun yang cocok.

Setelah semua orang selesai, Sultan bertanya, “Adakah yang belum menerima bagian sedekah?”

Mereka menjawab tidak. Tapi setelah diminta berpikir ulang, akhirnya mereka berkata, “Ada dua orang lelaki asal Magrib yang tidak pernah menerima dari siapa pun. Mereka orang saleh dan dermawan, bahkan sering memberi kepada yang membutuhkan.”

Mendengar itu, dada Sultan terasa lapang. Ia meminta keduanya dibawa menghadap. Begitu melihat wajah mereka, hatinya langsung bergetar. Mereka adalah dua pria yang ditunjukkan oleh Rasulullah dalam mimpinya.

Sultan bertanya, “Dari mana asal kalian?”

Mereka menjawab, “Kami berasal dari Magrib. Datang ke sini untuk berhaji dan memilih tinggal di dekat makam Rasulullah.”

Sultan mendesak, “Berkatalah jujur!”

Namun keduanya tetap bersikeras dengan ceritanya.

Sultan kemudian menanyakan tempat tinggal mereka. Diberitahukan bahwa mereka tinggal di sebuah ribath (pondokan) dekat Hujrah Syarifah. Penduduk Madinah pun turut memuji mereka atas ketekunan dalam beribadah, sering berpuasa, bersedekah, dan rutin berziarah ke Baqi’ dan Masjid Quba.

Sultan membawa mereka dan pergi memeriksa tempat tinggalnya sendiri. Di sana, ia mengangkat sebuah tikar dan mendapati sebuah terowongan rahasia yang mengarah langsung ke makam Nabi.

Semua orang gemetar ketakutan.

Sultan menatap mereka dengan marah dan berkata, “Katakan yang sebenarnya!”

Setelah dipukuli dengan keras, keduanya akhirnya mengaku bahwa mereka adalah orang Nasrani yang dikirim secara diam-diam bersama jamaah haji dari Magrib. Mereka diberi dana besar dan diperintahkan untuk mencuri jasad Rasulullah. Setiap malam, mereka menggali terowongan sedikit demi sedikit. Tanah hasil galian mereka masukkan ke dalam kantong kulit yang disamarkan seperti khas Magrib, lalu mereka buang ke pemakaman Baqi’ agar tidak mencurigakan.

Mereka telah melakukannya cukup lama. Ketika galian mereka hampir mencapai makam suci, langit tiba-tiba bergemuruh, petir menyambar, dan bumi bergetar hebat, seolah gunung-gunung akan terbelah. Pada malam itulah Sultan tiba di Madinah.

Setelah pengakuan mereka lengkap, Sultan menangis tersedu-sedu, menyadari bahwa Allahlah yang telah memilih dirinya untuk menjaga makam Nabi.

Ia kemudian memerintahkan agar kedua orang itu dihukum mati. Setelah itu, ia memerintahkan dibuatkan parit besar di sekeliling makam suci. Parit itu diisi dengan timah cair yang dilelehkan, sehingga terbentuk lapisan pelindung yang kokoh mengelilingi makam Rasulullah.

Setelah semuanya selesai, Sultan kembali ke negerinya dan mengeluarkan keputusan tegas: melarang orang kafir dipekerjakan dalam urusan apa pun, dan memperlemah pengaruh kaum Nasrani dalam pemerintahan.

Kontributor

  • Abdul Majid

    Penerjemah kitab-kitab Arab Islam. Mengisi waktu luang dengan bertanam dan mengajar kelas privat bahasa Arab. Sekarang tinggal di Majalengka. Dapat dihubungi di IG: @amajid13.