Esai

Apa Akhlak Seseorang Bisa Diubah?

23 Jul 2021 01:35 WIB
297
.
Apa Akhlak Seseorang Bisa Diubah?

Dalam sebuah momen, ada seorang kiai kampung berceramah dengan menggebu-gebu sambil mengatakan bahwa akhlak seseorang tidak bisa diubah, meski bagaimanapun kedalaman ilmu orang itu. Kiai berafiliasi pada FPI ini memang terkenal keras, gegabah, dan sering mengutip satu pendapat meski (tahu atau memang tidak tahu) di sana ada pendapat lain. Efeknya, Islam yang rahmatan lil 'alamin tertutupi oleh model dai semacam ini. Yang mengherankan dia selalu disambut meriah oleh pendukung fanatiknya.

Benarkah akhlak tidak bisa diubah? Pendapat Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumidin berikut bisa memberi pencerahan. Akhlak dalam pandangan Imam Ghazali bersifat dinamis serupa dengan badan. Baik dan buruknya akhlak sama dengan sehat dan sakitnya badan. Sebagaimana sehat dan sakit bisa diusahakan demikian pula akhlak.

Benar, baiknya akhlak ada yang bisa diusahakan, ada pula yang bersifat wahbi (pemberian). Imam Al-Ghazali memberi argumentasi logika jika akhlak tidak bisa diubah maka nasihat tidak ada gunanya. Artinya keberadaan agama sebagai nasihat juga tidak ada gunanya. Al-Ghazali juga mengajukan fakta eksperimental tentang hewan liar yang kemudian bisa jinak karena dilatih, apalagi manusia?! Dalam doa yang diajarkan oleh Nabi saat bercermin, "Ya Allah perbaikilah akhlakku sebagaimana engkau membuat tampilan lahirku baik", adalah salah satu hadis yang menguatkan pendapat ini. Bahkan Nabi Saw diutus ke dunia semata-mata menyempurnakan akhlak.

Semua argumentasi di atas menegaskan bahwa akhlak bisa berubah dengan pembiasaan. Karenanya Al-Ghazali mendefinisikan akhlak sebagai "kondisi hati yang sudah mendarah daging, dari sana muncul perilaku tanpa perlu dipaksakan dan berpikir panjang". Seseorang yang melakukan kebaikan menurut agama tak lantas mendapat label "baik akhlak"nya selama belum menjadi tabiat yang tidak perlu dipaksa. Sebaliknya, seorang miskin yang jarang berbagi tak lantas kita sebut dengan "kikir" karena memang di tangannya tidak ada yang bisa dibagi. Akhlak adalah pembiasaan secara berulang-ulang hingga menjadi tabiat yang sulit ditinggalkan.

Artinya orang kaya yang berbagi tak bisa disebut "dermawan" bila masih ada keterpaksaan dalam hatinya. Sebagaimana orang miskin tak bisa disebut "kikir" karena memang tak ada yang bisa dibagi. Di sini, ada simbiosis mutualisme antara hati yang ikhlas berbagi dengan tangan (tampilan lahir) yang berbagi; apa yang muncul dari hati akan berubah menjadi aksi di luar; sebaliknya pembiasaan lahir akan memengaruhi kondisi hati. Awalnya, akhlak yang baik harus dipaksakan untuk kemudian berubah menjadi kebiasaan.

Untuk terwujudnya akhlak dalam definisi Al-Ghazali, harus melalui empat tahap:

a. Adanya perbuatan yang berlabel baik dan buruk.

b. Kemampuan mempraktikkannya.

c. Pengetahuan yang memadai mengenai hal itu.

d. Kemudahan (tanpa paksaan) dalam mempraktikkan salah satunya. Akhlak merupakan tingkatan terakhir: kemudahan dalam mempraktikkannya.

Induk Akhlak yang Baik

Menurut Imam Al-Ghazali, ada empat induk akhlak yang bisa dijadikan standar baik dan buruknya moral seseorang: hikmah (kebijaksanaan), keberanian, menjaga diri, dan sikap adil. Hikmah adalah kemampuan untuk memilih mana yang terbaik, keberanian adalah sikap tengah antara sembrono dan pengecut, menjaga diri adalah keputusan untuk bersikap sesuai tuntunan syariat dan akal sehat, sikap adil adalah kesanggupan mengatur ritme syahwat dan kemarahan sesuai panduan syariat.

Keseimbangan keempat induk akhlak ini akan menyeimbangkan sikap dan moral seseorang. Namun tak ada yang benar-benar seimbang mempraktikkannya selain Rasulullah Saw. sementara orang selain Rasul akan beragam. "Sesungguhnya Allah membagi-bagikan akhlak kalian sebagaimana rejeki kalian". Jadi, tak sama antara satu orang dengan yang lainnya.

Akhlak Sama dengan Mengubah Tabiat?

Pengingkar pendidikan moral, biasanya, menyandarkan argumentasinya pada "tabiat tak mungkin bisa diubah seperti postur tubuh yang tak bisa diubah. Biji kacang yang ditanam akan menumbuhkan kacang; tak mungkin akan tumbuh ubi-ubian."

Yang harus disadari bahwa pendidikan bukan "mematikan" tabiat karena memang tidak mungkin. "Tabiat pemarah" bukan dimatikan tapi diarahkan. Sebab kemarahan tetap diperlukan, semisal syariat jihad tak akan terlaksana jika sikap marah mati dan hilang dari seseorang. "Syahwat" bagaimanapun tetap diperlukan demi keberlangsungan anak keturunan manusia. Tanpa syahwat maka spesies manusia akan punah.

Nabi Saw secara tegas pernah mengatakan, "Sesungguhnya saya manusia, saya marah sebagaimana manusia lainnya marah." (HR. Muslim). Al-Qur'an juga memakai redaksi, "Dan orang-orang yang menahan amarah." (QS. Al-Imran: 134) tatkala memuji orang mukmin. Bukan memakai redaksi "dan orang-orang yang mematikan amarah". Jadi, pendidikan moral adalah "mengarahkan" bukan "mematikan" seperti asumsi Budhisme.

Kategori Manusia dalam Pandangan Etik

Pertama, ada manusia yang berperilaku sekenanya, mengikuti apa yang dia saksikan di sekitarnya. Tipe semacam ini mudah diarahkan.

Kedua, ada manusia yang sudah mengetahui yang baik dan yang buruk namun dia kalah oleh syahwatnya: tipe seperti ini lebih sulit diarahkan karena harus mencabut kebiasaan buruknya untuk kemudian ditanamkan kebiasaan baik. Namun masih bisa diarahkan.

Ketiga, manusia yang terdidik dengan moral bejat sehingga dia mengira hal itu yang terbaik. Tipe manusia semacam ini hampir mustahil diarahkan.

Keempat,  manusia yang mirip dengan kategori ketiga namun dibarengi rasa bangga, maka tipe ini yang tidak mungkin diarahkan. Karena hanya akan membuang-buang waktu dan energi.

Setiap pendidik harus mengetahui kategori-kategori ini agar bisa mengindentifikasi siapa yang ada di hadapannya. Sehingga bisa mendidik dengan benar. Posisi pendidik, dalam pandangan Al-Ghazali, sama dengan seorang tabib/dokter; dia harus mengobservasi penyakit pasien, kemudian menentukan formulasi obat dan kadarnya. Kegagalan mengobservasi dan menentukan resep akan berakibat fatal.

 Bagi yang kikir maka hendaknya diarahkan agar terbiasa berbagi hingga menjadi tabiat tanpa dipaksa. Bagi yang menyimpan sifat sombong dan gila penghormatan maka hendaknya dipaksa bersikap tawadu' (rendah hati). Pendidik bisa menyuruhnya belanja ke pasar, mengerjakan hal-hal hina (yang masih dibolehkan syariat), bahkan meminta-minta di pasar agar sifat sombongnya benar-benar hilang. "Sembahlah Allah dalam kerelaan (ridha). Jika tidak, maka dengan kesabaran atas apa yang tak disenangi; dalam kesabaran ada banyak kebaikan." (HR. At-Tabari). Semua harus dibiasakan secara paksa sebelum kemudian berubah menjadi kenikmatan dan kelezatan.

Terminal Akhir Akhlak

Tujuan akhir akhlak yang terpuji, menurut Al-Ghazali, adalah menyingkirkan kecintaan pada dunia dan menggantinya dengan cinta Allah. Sehingga tak ada yang dirindukan kecuali Allah. Dia akan memakai seluruh harta kekayaannya hanya di jalan ridha Allah, mengarahkan kemarahan dan syahwatnya sesuai standar akal dan syariat. Bukan tidak mungkin, seseorang akan dianugerahi apa yang dianugerahkan Allah pada Rasul-Nya, berupa kesenangan dan kelezatan dalam shalat dan ibadah lainnya. Tentu dengan volume yang tidak sama dengan apa yang dirasakan oleh Rasulullah.

Pembiasaan bisa memberi pengaruh yang unik dalam diri setiap manusia. Lihat bagaimana seorang pejudi bisa menikmati hari-harinya padahal judi telah merusak keharmonisan rumah tangganya, menghabiskan harta kekayaannya. Seorang penyabung ayam bisa kuat berjam-jam di tempat sabung meski cuaca sedang panas oleh terik matahari. Bahkan hatinya sangat bahagia dan menikmatinya. Demikian pula apa yang dirasakan oleh seorang ahli ibadah yang sudah membiasakan diri dan mendapat anugerah kenikmatan ibadah; atau seorang dermawan yang sudah menikmati kedermawanannya. Semua bergantung pada "kebiasaan" dan itulah yang disebut akhlak dalam perspektif Al-Ghazali. 


Abdul Munim Cholil
Abdul Munim Cholil / 41 Artikel

Kiai muda asal Madura. Mengkaji sejumlah karya Mbah Kholil Bangkalan. Lulusan Al-Azhar, Mesir. Katib Mahad Aly Nurul Cholil Bangkalan dan dosen tasawuf STAI Al Fithrah Surabaya

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: