Fatwa

Aurat, Hukum Cadar dan Pakaian Syar'i

03 Aug 2021 10:58 WIB
604
.
Aurat, Hukum Cadar dan Pakaian Syar'i

Bagaimana hukum memakai cadar bagi wanita? Karena ada sebagian ulama fikih yang mewajibkannya dengan bersandar pada hadits Aisyah RA bahwa ia pernah menutup wajahnya ketika berhaji hingga para rombongan lewat.

Darul Ifta Mesir menjelaskan bahwa pakaian syar’i yang dikehendaki bagi seorang wanita muslimah adalah pakaian apapun yang tidak menampakkan pesona lekuk tubuh, serta menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua telapan tangan.

Oleh karena itu, lanjut Lembaga Fatwa Mesir itu, tidak ada larangan bagi perempuan untuk mengenakan pakaian yang memiliki corak warna dengan syarat tidak menarik perhatian (mencolok) atau menimbulkan fitnah (membangkitkan syahwat orang yang melihatnya).

Jika ketentuan-ketentuan ini terpenuhi pada jenis pakaian apapun, maka wanita muslimah boleh mengenakannya meskipun itu di luar ruangan,” terang Darul Ifta dilansir dari laman resminya.

Adapun mengenai niqab atau cadar bagi perempuan yang menutupi wajahnya dan juga sarung tangan, maka menurut jumhur (mayoritas) ulama, hal itu bukan suatu kewajiban.

Perempuan boleh menampakkan wajah dan kedua telapak tangannya, sesuai dengan firman Allah SWT:

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali yang (biasa) terlihat.” (QS. An-Nur: 31)

Jumhur ulama baik dari kalangan sahabat maupun golongan setelahnya, mereka menafsirkan bahwa perhiasan yang terlihat adalah wajah dan kedua telapak tangan, sebagaimana dinukil dari Ibnu Abbas RA, Anas RA, dan Aisyah RA, serta sesuai firman-Nya:

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.” (QS. An-Nur: 31)

Lafal khimar bermakna penutup kepala, sementara lafal jaib bermakna lubang kerah yang terdapat pada atas baju (dada) yang menjadi tempat masuknya kepala yang masih memperlihatkan sebagian dari dada bagian atas.

Jadi Allah SWT memerintahkan wanita muslimah agar menutupi area dada mereka dengan jilbab-jilbabnya. Seandainya menutup wajah hukumnya wajib, tentu ayat tersebut akan menjelaskannya dengan jelas dan gamblang.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah RA, Asma binti Abu Bakar RA masuk ke rumah Rasulullah SAW dengan mengenakan kain yang tipis. Lalu beliau berpaling darinya kemudian bersabda, “Wahai Asma, sesungguhnya seorang wanita jika telah balig tidak boleh terlihat darinya kecuali ini dan ini.”  Beliau mengisyaratkan pada wajah dan kedua telapan tangan.

Dan masih banyak dalil lainnya yang secara jelas menyatakan ketidakwajiban menutup wajah dan telapak tangan.

Sebagian ulama fikih berpendapat bahwa perempuan wajib menutupi wajahnya, dengan dasar hadits riwayat Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu Majah dari Aisyah RA yang mengatakan, “Ada sekelompok rombongan melewati kami, sementara saat itu kami bersama Rasulullah SAW sedang berihram, ketika mereka mendekat ke arah kami, maka salah seorang di antara kami menutupkan jilbabnya dari kepala ke wajahnya, kemudian apabila mereka telah melewati kami, maka kami membukanya.”

Lembaga Fatwa Mesir itu menanggapi bahwa hadits di atas sama sekali tidak menjadi dalil diwajibkannya perempuan menutup wajahnya, karena perbuatan sahabat tidak menunjukkan hukum asal kewajiban. Di samping itu, hal tersebut mengandung kemungkinan adanya ketentuan khusus bagi para Ummul mukminin (istri-istri Nabi SAW) sebagaimana mereka memiliki kekhususan haram dinikah setelah Rasulullah SAW wafat.

Telah menjadi ketetapan dalam ilmu ushul fikih bahwa:

وقائعَ الأحوالِ، إذا تَطَرَّقَ إليها الاحتمالُ، كَسَاها ثَوْبَ الإجمال، فَسَقط بها الاستدلالُ

“Beberapa kejadian yang masih menimbulkan beberapa kemungkinan, maka tercakup dalam dalil mujmal (global), jadi tidak bisa dijadikan dalil.”

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya, dari Ibnu Umar RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Wanita yang sedang ihram janganlah memakai cadar dan juga jangan memakai sarung tangan.”

Ini menunjukkan bahwa wajah dan kedua telapak tangan wanita merdeka bukanlah termasuk aurat. Bagaimana mungkin keduanya dianggap sebagai aurat sementara semua ulama telah sepakat bahwa dalam shalat dan ihram ada kewajiban untuk tidak menutupinya.

Tidak mungkin syariat memperbolehkan membuka aurat dalam shalat dan mewajibkan untuk membukanya dalam ihram, sementara hal-hal yang diharamkan dalam keadaan ihram pada dasarnya adalah perkara-perkara yang mubah seperti memakai pakaian berjahir, memakai wewangian, berburu, dan lain-lain. Tidak ada satupun dari semua itu yang awalnya suatu kewajiban lalu menjadi haram sebab ihram.

Singkat kata, menutup wajah dan kedua telapak tangan bagi perempuan muslimah bukanlah suatu kewajiban, namun masuk dalam lingkup mubah.

Sumber: klik di sini.


Arif Khoiruddin
Arif Khoiruddin / 84 Artikel

Lulusan Universitas Al-Azhar Mesir. Tinggal di Pati. Pecinta kopi. Penggila Real Madrid.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: