Tidak jarang di masjid-masjid besar kita menemukan beberapa jamaah shalat sekaligus. Fenomena ini biasa ditemukan jika jamaah utama sudah selesai dan rombongan jamaah terdiri dari orang-orang yang sedang bepergian.

Saking luasnya sebuah masjid, terkadang suatu jamaah juga tidak mengetahui adanya jamaah lain yang sedang melaksanakan shalat, atau bisa jadi karena alasan lain. Lantas sebenarnya apa hukum adanya dua jamaah dalam satu masjid?

Seperti dilansir dari harian Youm7, pertanyaan serupa pernah diajukan kepada Darul Ifta Mesir: “Terkadang, ketika saya shalat di masjid besar seperti masjid al-Azhar, saya kerap menemukan ada orang yang shalat berjamaah di saf awal bagian depan masjid. Ada juga yang shalat berjamaah di saf belakang. Apakah saya lebih baik shalat sendirian atau shalat bersama dengan salah satu jamaah tersebut?”

Lembaga Fatwa Mesir itu menjelaskan, selain untuk mendapatkan pahala yang lebih besar daripada shalat sendirian, tujuan mendirikan shalat berjamaah adalah sebagai wadah permersatu umat muslim. Adanya dua jamaah dalam satu tempat sangat bertentangan dengan tujuan tadi.

Terlebih lagi, bacaan-bacaan imam shalat dari dua jamaah tadi kerap tumpang tindih dan rentan mengganggu kekhusyukan jamaah lain.

Imam Al-Hathab dari madzhab Maliki berkata, “Bagi orang yang berakal, perbuatan ini (dua jamaah dalam satu tempat) tidak diragukan lagi bertentangan dengan tujuan disyariatkannya shalat jamaah: yaitu untuk mempersatukan umat muslim dan membagi pahala di antara mereka.”

Imam Maliki tersebut juga menjelaskan dalam kitabnya Muwahib Jalil bahwa syariat tidak mengijinkan untuk mendirikan shalat berjamaah dalam satu tempat dan waktu dengan imam yang berbeda kecuali di saat genting seperti perang.

Dengan demikian, bagi para makmum yang datang terlambat saat shalat berjamaah haruslah memperhatikan terlebih dahulu, apakah sudah ada jamaah yang shalat? Jika ada, maka ia harus turut medirikan shalat bersama jamaah tersebut. Boleh juga dia memilih shalat sendirian meski tentu akan kehilangan pahala dan berkah dalam shalat berjamaah. Demikian pendapat ulama madzhab Hambali, Dzahiriyah, Ibnu Mundzir dan lainnya.

Adapun Ibnu Qatadah ra. dalam Al-Mughni menjelaskan, “mengulang shalat berjamaah itu boleh, tidak makruh. Artinya, jika seorang imam telah mendirikan shalat berjamaah, lalu setelah itu datang ke jamaah yang lain, maka dianjurkan bagi mereka untuk shalat bersama.”

Pendapat tersebut diperkuat oleh Ibnu Masud, al-Hasan, Ishaq dan beberapa ulama lain.

Pihak Darul Ifta kembali menjelaskan, tidak apa-apa jika ada dua jamaah shalat dalam waktu dan tempat yang sama terlebih lagi di masjid yang besar. Biasanya karena jamaah baru tidak tahu adanya jamaah lain yang sedang melaksanakan shalat, saking luasnya masjid tersebut.

Begitu juga bagi seseorang yang masbuk, dia boleh memilih untuk mengikuti salah satu dari dua jamaah tersebut. Shalat berjamaah lebih baik dibandingkan dengan shalat sendirian, karena pahala berjamaah lebih besar daripada shalat munfarid (sendiri).

Terkait pahala shalat berjamaah, Ibnu Umar ra. mendengar Rasulullah SAW bersabda:

صلاةُ الجماعةِ تَفضُلُ على صلاةِ الفذِّ بسبعٍ وعِشرينَ دَرجةً    

“Shalat berjamaah  lebih utama daripada shalat sendirian dengan kelebihan dua puluh tujuh derajat." (HR. Bukhari)

Darul Ifta juga menambahkan, jika ada yang bersengaja membuat jamaah baru ketika mereka tahu adanya jamaah lain yang sedang melaksanakan shalat, shalat mereka menjadi makruh. Meski tidak ada juga dalil nash yang mengatakan bahwa shalatnya orang-orang di jamaah kedua ini menjadi batal.

Diriwayatkan juga bahwa Sayyiduna Umar dan Ali radhiyallahu ‘anhuma pernah melakukan hal tersebut pada bulan Ramadhan. Dikarenakan suatu hal, saat melaksanakan shalat tarawih di masjid ada dua jamaah dengan dua imam yang berbeda berbeda. Satu imam untuk jamaah laki-laki dan satu lagi bagi jamaah perempuan.