Esai

Sains modern buktikan kebenaran Isra Mikraj Nabi Muhammad

07 Feb 2024 10:24 WIB
1169
.
Sains modern buktikan kebenaran Isra Mikraj Nabi Muhammad Sains melihat Isra Mikraj sebagai perjalanan antar dimensi.

Terdapat satu kisah yang sangat inspiratif dan maha hebat pada abad ke-7, sekitar 1400 tahun silam. Peristiwa itu dinamakan Isra Mikraj Nabi Muhammad.

Dalam Isra Mikraj, Nabi Muhammad saw. tak hanya menembus ruang angkasa di sekitar bumi, bahkan mengarungi alam semesta hingga di ruang yang tak terbatas. Kisah Isra termaktub di dalam al-Quran dalam pada surah al-Isra ayat 1, yang berbunyi sebagai berikut:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (1)

“Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah kita berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”

Sementara kisah Mikraj termaktub dalam surah an-Najm ayat 13-18, yang berbunyi sebagai berikut:

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى (13) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (14) عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى (15) إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى (16) مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى (17) لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى (18)

“Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidrotulmuntaha, di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidrotulmuntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, penglihatannya (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar.”

Peristiwa Isra dan Mikraj tentu saja mengundang banyak pertanyaan dari berbagai kalangan, baik dari kalangan agamawan, kalangan ilmuwan hingga masyarakat awam, baik itu yang muslim maupun non-muslim. Tersebab perjalanan yang dialami Rasulullah menempuh jarak yang sangat jauh, dalam kurun waktu yang cukup singkat yakni hanya separuh malam.

Perjalanan isra dan Mikraj yang dilakukan oleh Rasulullah, dalam konteks ilmu pengetahuan disebut sebagai perjalanan antar dimensi. Artinya malaikat Jibril mengajak Rasulullah keluar dari dimensi ruang dan waktu menuju dimensi yang lebih tinggi. Keluar dari dimensi ruang dan waktu maksudnya ialah tidak lagi terikat oleh jarak dan waktu yang terbatas dalam pola pikir manusia.

Lalu sekiranya kendaraan apa yang digunakan sehingga waktu tempuhnya cukup singkat?

Rasulullah dan malaikat Jibril melaksanakan perjalanan tersebut dengan kendaraan yang bernama buraq. Bahasa Arab mengartikan buraq sebagai kilat, yakni substansi cahaya.

Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, menyebutkan bahwa jika buraq melangkahkan kaki, tampak sejauh mata memandang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa buraq mempunyai kemampuan untuk bergerak yang mendekati atau bahkan sama dengan kecepatan cahaya, yaitu berkisar 300.000km/detik. Kemudian dari sini timbul pertanyaan baru, yakni: apakah tubuh Rasulullah mampu menghadapi kecepatan itu?

Agus Mustofa di dalam bukunya yang berjudul Terpesona di Sidratul Muntaha menjawab dengan memberikan skenario rekonstruksi dengan menggunakan Teori Annihilasi.

Teori tersebut dikenal dalam fisika quantum, teori ini menyatakan bahwa setiap materi (zat) memiliki anti materi. Sehingga apabila materi dipertemukan atau direaksikan dengan antimaterinya, maka kedua partikel tersebut akan lenyap berubah menjadi seberkas cahaya atau sinar gama.

Agar Rasulullah dapat mengikuti kecepatan malaikat Jibril dan buraq, maka badan wadah Rasulullah diubah oleh Allah menjadi badan cahaya. Hal tersebut terjadi ketika dilakukannya pembedahan oleh malaikat Jibril dengan menyucikan kalbu Rasulullah dengan air zamzam.

Hal tersebut bermaksud untuk mengimbangkan agar kualitas badan Rasulullah sama dengan malaikat Jibril dan juga buraq, mengingat bahwa malaikat Jibril dan juga buraq adalah makhluk berbadan cahaya. Setelah ketiganya memiliki kualitas badan yang sama, maka Allah memperjalankan ketiganya menuju Masjidil Aqsa dengan kecepatan 300.000km/detik. Sehingga jarak antara Mekah dengan Palestina yang berkisar 1200 km dapat ditempuh dalam waktu hanya 0,005 detik.

Dalam fisika quantum dikenal suatu teori bahwa apabila seseorang melakukan perjalanan dengan kecepatan menyamai atau bahkan melebihi kecepatan cahaya, maka secara teoritis ia akan masuk ke dalam dimensi ruang waktu yang lain.

Sebab kecepatan superluminal tersebut, batasan dimensi ruang dan waktu terlampaui atau bisa dikatakan dimensi ruang waktu saling melipat (space time folding), sehingga beliau akan melihat dimensi-dimensi waktu lampau bahkan mungkin waktu yang akan datang. Hal itulah yang menyebabkan Rasulullah dapat melihat penampakan-penampakan ketika perjalanan Isra yang menyamai kecepatan cahaya itu. Pun demikian, Rasulullah melakukannya dengan kesadaran penuh. Adanya relativitas waktu antara dunia manusia dengan dunia malaikat, menyebabkan Rasulullah merasakan sepenuhnya perjalanan tersebut.

Beradasarkan pemaparan-pemaparan di atas, maka hikmah yang dapat diambil ialah bahwa peristiwa yang luar biasa seperti Isra dan Mikraj hanya terjadi tersebab kehendak dan kekuasaan Allah. Kisah ini pun merupakan informasi gaib yang wajib untuk diyakini, dan juga peristiwa ini untuk menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah.

Maharani Wulandari
Maharani Wulandari / 8 Artikel

Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAIN Samarinda. Meminati kajian keislaman, moderasi dan kebangsaan dan tafsir Al-Qur’an

Zulfikar
07 February 2024
Mantap sekali pembahasan nya, dan ringan untuk dicerna
Aryasupang
09 February 2024
informatif

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: