Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Fatwa

Poin Penting dari Syekh Hamzah Bakri tentang Potongan Makna Hadits “Perempuan Kurang Akal”

Avatar photo
1255
×

Poin Penting dari Syekh Hamzah Bakri tentang Potongan Makna Hadits “Perempuan Kurang Akal”

Share this article
Poin Penting dari Syekh Hamzah Bakri tentang Potongan Makna Hadits “Perempuan Kurang Akal”
Poin Penting dari Syekh Hamzah Bakri tentang Potongan Makna Hadits “Perempuan Kurang Akal”

Ada sebuah hadits Shahih yang menyebutkan kebanyakan penduduk neraka adalah perempuan dan juga menyebutkan sifat perempuan dengan kurangnya akal dan agama. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, begini redaksi lengkapnya:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الِاسْتِغْفَارَ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقَالَتْ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ جَزْلَةٌ وَمَا لَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَمَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَغْلَبَ لِذِي لُبٍّ مِنْكُنَّ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا نُقْصَانُ الْعَقْلِ وَالدِّينِ قَالَ أَمَّا نُقْصَانُ الْعَقْلِ فَشَهَادَةُ امْرَأَتَيْنِ تَعْدِلُ شَهَادَةَ رَجُلٍ فَهَذَا نُقْصَانُ الْعَقْلِ وَتَمْكُثُ اللَّيَالِي مَا تُصَلِّي وَتُفْطِرُ فِي رَمَضَانَ فَهَذَا نُقْصَانُ الدِّينِ.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai kaum wanita! Bersedekahlah kamu dan perbanyakkanlah istighfar. Karena, aku melihat banyak di antara kalian adalah penghuni neraka.” Lantas seorang wanita yang pintar di antara mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa kaum wanita banyak menjadi penghuni neraka?” Rasulullah menjawab, “Kalian banyak mengutuk dan mengingkari (pemberian nikmat dari) suami. Aku tidak melihat kaum yang kurang akal dan agamanya itu lebih banyak dari yang lebih memiliki akal – kecuali dari golongan kalian.” Wanita itu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah! Apakah maksud kekurangan akal dan agama itu?” Rasulullah menjawab, “Maksud kekurangan akal ialah persaksian dua orang wanita sama dengan persaksian seorang lelaki. Inilah yang dikatakan kekurangan akal. Begitu juga kaum wanita tidak beribadah kala malam-malam juga akan berbuka pada bulan Ramadhan (karena sebab haid). Inilah yang dikatakan kekurangan agama.” (HR al-Bukhari).

Lihat pada teks yang “kurang akal”. Tapi, pada kali ini, kita tidak membahas makna keseluruhan yang ada pada hadits tersebut. Kita akan membahas sebuah diksi yang digunakan sebagai alat diskriminasi perempuan dari ruang publik, kegamaan, dan menyerang perempuan agar menjadi manusia kelas dua.

Syekh Hamzah Bakri memulai dengan beberapa catatan yang disepakati para ulama dan logikawan (uqala) dalam memahami teks-teks agama:

  1. Manusia diciptakan dengan kapasitas/level akalnya yang berbeda, apalagi digapai dengan banyak belajar. Karena, dengan wasilah belajar bisa meningkatkan kinerja otak.
  2. Ada laki-laki yang lebih pintar dari perempuan dan begitu juga ada perempuan yang lebih pintar dari lelaki.
  3. Kesimpulan atau hasil merupakan efek dari berpikir. Sehingga melahirkan jawaban yang berbeda-beda sesuai dengan pikirannya. Atsar itu Natijah dari akal.
  4. Bukti yang paling kuat yang menunjukkan bahwa akal itu berbeda-beda levelnya adalah hadits:

 

خاطبوا الناس على قدر عقوهلم

Artinya: “Berbicara lah kepada manusia sesuai dengan kapasitas/level akal mereka.”

Masuk dalam pembahasan yang menggiring kepada teks dari hadis “Naqishat Aql” dalam memberikan sifat kepada wanita. Secara harfiah, teks hadits tersebut berarti bahwa perempuan adalah orang yang kurang akalnya, sehingga banyak dari orang menyimpulkan bahwa Rasulullah menarasikan perempuan itu bodoh. Jika memahami teks hadits di atas seperti ini, maka ini pemahaman yang salah. Syekh Hamzah Bakri mengutip penjelasan dari Imam Sa’duddin al-Taftazani, “Maksud dari hadits ‘Naqishat Aql’ adalah kurangnya akal (rasional) perempuan itu dibandingkan dengan perasaannya (emosional), bukan dibandingkan dengan akal lelaki. Karena, pada nyatanya ada, kok, perempuan yang lebih pintar daripada lelaki, dan emosional wanita lebih tinggi ketimbang rasionalnya. Jadi bukan perbandingan akal wanita dengan laki-laki.”

Syekh Hamzah Bakri menggunakan diksi yang mudah seperti ini:

نقصان عقل المرأة بالنسبة لعاطفتها. ليس القياس بين المرأة و الرجل، و إنما القياس بين الأمرين في المرأة نفسها و هما العقل و العاطفة. فالمرأة عقلها أنقص من عاطفتها.

Kemudian Syekh Hamzah Bakri memberikan contoh daripada kasus ini, “Kalau ada perempuan yang melihat anaknya bermain di kobaran api, tidak banyak pikir, pasti dia bakalan nyamperin anaknya ke kobaran api. Walaupun dirinya nanti yang terluka bahkan terbakar untuk menyelamatkan anaknya. Berbeda dengan lelaki, pasti berpikir dulu caranya bagaimana, harus dengan apa, baru deh melakukan (intinya kebanyakan mikir).” Atau dengan contoh lain, ketika wanita menyusui pasti dia sangat sabar dan emosionalnya sangat tersentuh. Coba kalau tidak sabaran, mungkin sudah ditelantarkan begitu saja bayi tersebut, kurang lebih seperti itu.

Dominannya rasa emosional wanita ketimbang akal pada dirinya bukan merupakan sebuah aib, melainkan sebuah pujian (madh) atau kelebihan yang diberikan kepadanya.

Contoh, Sayyidah Aisyah itu sangat pintar, kapasitas akalnya melebihi para sahabat besar. Saking pintarnya, dahulu para sahabat kalau ada permasalahan mereka berkonsultasi kepada Sayyidah Aisyah dan berdiskusi. Tapi, tetap emosionalnya Sayyidah Aisyah lebih tinggi ketimbang akalnya sebagai wanita. Contoh lagi, ketika Sayyidah Aisyah cemburu (menunjukkan emosionalnya) dia mengatakan, “Demi Tuhannya Ibrahim!” Tidak mengatakan, “Demi Tuhannya Muhammad!” Saking cemburunya. Kalau Sayyidah Aisyah lagi senang, baru dia mengatakan, “Demi Tuhannya Muhammad!” So Sweet.

Disarikan dari Dars al-Aqaid al-Nasafiyyah bersama Syekh Hamzah Bakri, pakar Ilmu Kalam Turki.

Kontributor

  • Habib Muhammad Jinan

    Mahasiswa asal Jakarta yang sedang menempuh jenjang pendidikannya di fakultas Syariah Islamiyah, universitas al-Azhar, Kairo. Suka membaca untuk menjalani kehidupan. Bisa dihubungi melalui Instagram: @jjinan_