Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Mengenal Al Suffah

Avatar photo
814
×

Mengenal Al Suffah

Share this article
Sedang ziarah bersama santri-santri ke para masyayikh pondok pesantren di Sarang. Semoga santri-santri dan pengasuhnya dapat meniru lingkungan al ṣuffah.
Sedang ziarah bersama santri-santri ke para masyayikh pondok pesantren di Sarang. Semoga santri-santri dan pengasuhnya dapat meniru lingkungan al ṣuffah.

Saat Nabi Muhammad Saw. sampai di Madinah, beliau tinggal di rumah Abū Ayyūb Al Anṣāriyy. Unta yang beliau tunggangi berhenti di perkampungan Banī ‘Adiyy bin al Najjār[1]. Rasul Saw. bertanya, “Rumah siapa yang paling dekat di antara keluarga kami?” Abu Ayyub menjawab, “Saya, wahai NabiyyalLah ..” Ia lalu membawa pelana untu beliau ke rumahnya. Sejumlah orang menawari Rasul untuk singgah di rumahnya, akan tetapi kata beliau, “al mar’u ma’a raḥlih-i, seseorang tinggal bersama pelana kendaraannya.” Beliau tinggal di rumah ini selama tujuh bulan, yakni sampai selesainya pembangunan masjid dan rumahnya.

Rasul Saw. berhijrah tidak sendirian, banyak para sahabat yang juga berhijrah. Mereka semua membutuhkan tempat tinggal di Madinah. Rasul Saw. menerapkan sistem persaudaraan (al mu`ākhah). Satu persatu dari sahabat muhajirin dipersaudarakan dengan sahabat ansar sehingga mereka memiliki tempat tinggal. Tentu tujuan utama dari persaudaraan ini adalah membagun sistem kemasyarakatan yang mengatasi sistem kabilah yang telah menggurita, yakni bahwa ikatan Islam harus lebih kuat dari ikatan-ikatan lainnya. Akan tetapi, tujuan lainnya adalah bahwa dengan demikian orang-orang muhajirin di Madinah memiliki tempat tinggal untuk sementara waktu sampai mereka benar-benar memiliki rumahnya sendiri. (wallāhu a’lam)

Orang-orang yang hijrah ke Madinah semakin bertambah. Sistem persaudaraan tidak lagi mampu mengatasi problem tempat tinggal bagi mereka. Rumah-rumah di Madinah tentu tidak akan cukup untuk menampung mereka semua. Tempat yang mudah untuk dilirik sebagai tempat tinggal sementara adalah rumah Allah Swt., yakni masjid. Terutama pada malam hari, masjid pada umumnya kosong sehingga dapat disinggahi untuk tidur. Dapat disampaikan bahwa para muhajirin yang belum punya tempat tinggal di Madinah pada umumnya akan tinggal di masjid Rasul Saw. Untuk konsumsinya, masyarakat Madinah yang sebetulnya tidak kaya itu bergotong royong menyuplainya. Namun, penanggungjawab utamanya tetaplah Baginda Rasul Saw. Mungkin (salah satunya) karena itu, Bunda Aisyah mengatakan bahwa keluarga Nabi Muhammad Saw. tidak pernah kenyang dengan makan roti syair selama dua hari berturut-turut hingga Rasulullah Saw. wafat.

Jumlah mereka yang tinggal di masjid Rasulullah Saw. naik-turun, kadang banyak kadang berkurang. Ada sejumlah hal yang mempengaruhinya. Beberapa yang sudah punya tempat tinggal, misalnya, akan menginggalkan masjid sebagai pemukimannya sehingga mengurangi jumlah penghuni. Demikian pula gerakan masyarakat yang hijrah ke Madinah, yang juga naik-turun. Terdapat pula sejumlah sahabat yang memang “kerasan” tinggal di masjid membersamai Rasulullah Saw. Karena secara natural, masjid tidak saja sebagai tempat mukim tapi juga sebagai tempat mengaji kepada Rasul Saw. Dapat kita sampaikan—jika disetujui—bahwa secara natural pemukiman masjid lambat laun menjadi semacam pondok pesantren. Tentu saja, ini adalah tipe tertinggi dari jenis pondok pesantren. Semua pondok pesantren akan mengkiblat kepadanya. Karena itu, nama yang tepat untuk pemukiman ini tetaplah al ṣuffah. Penyebutan pesantren hanya sekedar hendak mengatakan bahwa cita-cita pesantren adalah menatap al ṣuffah ini.

Masjid Nabi Muhammad luasnya adalah 35×30 meter. Panjangnya ke arah kiblat 35 meter dan lebarnya 30 meter. Semula, masjid Rasulullah menghadap ke Baitul Maqdis, ke arah utara. Tetapi pada Rajab atau Sya’ban tahun kedua Hijriah, ada perintah untuk berkiblat ke Ka’bah, ke arah selatan dari Madinah. Bangunan masjid itu sendiri berupa dinding yang mengelilingi masjid, tanpa ada atapnya. Beberapa hari salat didirikan, lalu mereka menyampaikan kepada Nabi tentang teriknya matahari. Karena itu masjid diberi ahup-ahupan (naungan/semacam atap) berupa pelepah kurma di bagian depan arah kiblat, tempat di mana banyak orang salat. Setelah kiblat dialihkan ke Ka’bah (selatan), maka depan masjid yang sebelumnya adalah arah kiblat sekarang menjadi berada di belakang, dan sisi ini telah ada ahup-ahupannya. Di tempat inilah orang-orang Islam yang belum memiliki tempat tinggal bermukim. Ia berada di belakang masjid, yakni di sisi utara.

Ahup-ahupan dalam bahasa Arabnya adalah al ṣuffah. Al Ṣuffah dalam pengertian ini adalah tempat yang ada ahup-ahupannya di Masjid Nabawi yang ditempati oleh orang-orang fakir dari para sahabat Nabi. Mereka yang tinggal di sini sehari-hari membersamai Rasul Saw. Aus bin Abī Aus menceritakan, “Kami duduk-duduk bersama Rasulullah Saw. di ṣuffah, beliau bercerita kepada kami dan mengingatkan kami ..”[2] Abu Hurairah hijrah ke Madinah awal tahun ketujuh. Segera ia mendaftarkan diri di al ṣuffah. Meski hanya tiga tahun dan beberapa bulan bersama Rasulullah, ia berhasil menjadi perawi yang paling banyak meriwayatkan Hadis Nabi. Faktor terpentingnya adalah ia berada di al ṣuffah sehingga punya kesempatan untuk selalu mengikuti Rasulullah Saw.

Abu Hurairah masuk Islam dan hijrah ke Madinah sebelum ibunya masuk Islam. Ia memiliki pengalaman yang sangat mengharukan mengenai Islamnya sang ibu berkat doa Rasulullah Saw. Mari kita simak cerita dia sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim:

“Saya telah berulangkali mengajak ibuku masuk Islam saat beliau masih musyrik. Suatu hari saya (kembali) mengajaknya, tetapi beliau mengatakan hal-hal yang tidak saya sukai tentang Rasulullah Saw. Maka, saya pun pergi menemui Rasulullah Saw. sambil menangis. Saya matur (ke beliau): “Wahai Rasulullah, saya telah berulangkali mengajak ibuku masuk Islam, tetapi beliau selalu menolak diriku. Hari ini saya (kembali) mengajaknya, tetapi dia (justru) mengatakan hal-hal yang tidak saya sukai tentang engkau. Maka, saya mohon kepada engkau untuk berdoa kepada Allah Swt. agar Dia memberi hidayah kepada ibunda Abu Hurairah.” Rasulullah Saw. lalu berdoa: “Ya Allah, berilah hidayah kepada ibunda Abu Hurairah.”

Saya berangkat (ke ibuku) dengan penuh rasa gembira atas doa Rasulullah Saw itu. Ketika saya sampai dan berada di depan pintu, ternyata pintunya terkunci. Akan tetapi, ibuku mendengar suara langkahku. Maka, ia berkata: “Tetap di tempatmu wahai Abu Hurairah!” Saya mendengar gemerciknya air. Ia (mensegerakan) mandi(-nya) dan mengenakan bajunya, ia tidak (sempat) memakai kerudungnya. Dia membuka pintu dan berkata: “Wahai Abu Hurairah, saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” Saya pun berangkat menuju Rasulullah Saw. Saya menemui beliau sambil penangis bahagia. Saya matur kepada beliau, “Wahai Rasulullah, izin menyampaikan kabar gembira. Gusti Allah Swt. telah mengabulkan doa engkau. Gusti Allah telah memberi hidayah kepada Ibunda Abu Hurairah.”

Al Ṣuffah dan para penghuninya telah menginspirasi banyak umat Islam. Sejumlah tokoh sufi mengatakan bahwa kata tasawwuf diambil dari kata ṣuffah. Ajaran-ajaran tasawuf banyak didasarkan pada lingkungan al ṣuffah yang ditata dan diawasi secara langsung oleh Baginda Rasul Saw. Para penghuninya adalah orang-orang fakir miskin, tetapi orang-orang yang tak mengerti menyangka bahwa mereka kaya. Hal ini karena mereka tak pernah meminta-minta. QS. Al Baqarah: 273: “(Apa pun yang kamu infakkan) diperuntukkan bagi orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah dan mereka tidak dapat berusaha di bumi. Orang yang tidak mengetahuinya mengira bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka memelihara diri dari mengemis.”[5]

[1] Banī ‘Adiyy bin al Najjār adalah famili Rasulullah dari pihak neneknya, Salma binti ‘Amr, istri dari Hasyim bin Abdi Manāf. Nenek Rasulullah Saw. ini berasal dari Madinah.

[2] Al Musnad, Al Imam Ahmad bin Hanbal, jilid 15, hal. 305.

[3] Ibn Sa’d, Al Ṭabaqāt al Kubrā, jilid 4, hal. 343.

[4] Syamsuddin al Żahabiyy, Siyar A’lām al Nubalā`, jilid 2, hal. 468.

[5] Muslim bin al Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, jilid 4, hal. 1938.

Kontributor

  • Abdul Ghofur Maimoen

    Nama lengkapnya Dr. KH. Abdul Ghofur Maimoen, Lc., MA. Setelah menyelesaikan studi doktoral di Universitas Al-Azhar Mesir, kini beliau menjadi pengasuh PP. Al-Anwar 3 Sarang-Rembang, Rektor Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Anwar, Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), dan Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor.