Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Syekh Yusri: Lebih Mulia dari Ka’bah, Tapi Sering Diabaikan

Avatar photo
816
×

Syekh Yusri: Lebih Mulia dari Ka’bah, Tapi Sering Diabaikan

Share this article
Banyak orang yang tampak sangat menjaga ibadah-ibadah lahiriah—seperti puasa, umrah, dan sedekah—namun pada saat yang sama terjerumus dalam dosa-dosa besar lisan, seperti ghibah, mencaci, dan melaknat.
Banyak orang yang tampak sangat menjaga ibadah-ibadah lahiriah—seperti puasa, umrah, dan sedekah—namun pada saat yang sama terjerumus dalam dosa-dosa besar lisan, seperti ghibah, mencaci, dan melaknat.

Syekh Yusri Rusydi Jabr al-Hasani, menegaskan pentingnya menjaga hak-hak manusia, baik terkait harta, kehormatan, maupun fisiknya. Sebab kehormatan seorang muslim di sisi Allah lebih agung daripada kehormatan Ka‘bah.

Ulama Al-Azhar itu mengingatkan siapa pun untuk tidak meremehkan kehormatan seorang muslim. Tidak peduli dia orang terpandang atau banyak amal ibadahnya.

Sebenarnya, kata Syekh Yusri, ada satu cara yang bisa kita lakukan untuk menjadi manusia yang paling ahli ibadah. Yaitu, hendaknya bertakwa dengan menjauhi perkara-perkara haram. Beliau kemudian menukil sabda Nabi Muhammad saw.:

اتقِ المحارم تكن أعبد الناس

 “Jauhilah perkara-perkara yang haram, niscaya engkau menjadi manusia yang paling ahli ibadah.”

Menurut Syekh Yusri, ibadah dengan meninggalkan maksiat—yakni menjauhi hal-hal yang diharamkan dan tidak melanggar hak-hak manusia—lebih besar pahalanya di sisi Allah dibanding ibadah yang hanya berupa aktivitas fisik, seperti banyak berpuasa, berhaji, dan bersedekah, namun tanpa menjaga hak-hak sesama.

Beliau pun menyoroti fenomena berbahaya berupa sikap meremehkan kehormatan orang lain melalui media sosial. Kini, sebagian orang dengan mudah masuk ke laman orang lain untuk mencaci, menghina, dan menyerang agama dan kehormatan mereka.

Tindakan ini merupakan bentuk pelanggaran hak kehormatan manusia. Dosanya tidak kalah berat dibandingkan pelanggaran secara materi.

Syekh Yusri berkata:

صفحة الإنسان كبيته، فلا يجوز أن تقتحمها لتشتمه

“Halaman (facebook) pribadi seseorang itu seperti rumahnya. Tidak boleh kamu memasukinya untuk mencacinya.”

Banyak orang yang tampak sangat menjaga ibadah-ibadah lahiriah—seperti puasa, umrah, dan sedekah—namun pada saat yang sama terjerumus dalam dosa-dosa besar lisan, seperti ghibah, mencaci, dan melaknat.

Hal ini sangat disayangkan oleh Syekh Yusri. Sebab, ia bisa keluar dari ini dunia dalam keadaan bangkrut pada hari kiamat. Sebab, hak-hak manusia hanya bisa digugurkan dengan ditunaikan atau dimaafkan oleh pemiliknya.

Bila terlanjur berbuat kesalahan dan menyakiti kehormatan orang lain, Syekh Yusri menasihati agar segera mengembalikannya kepada pemiliknya, baik mereka masih hidup maupun telah wafat.

“Meminta maaf dan mengakui kesalahan jauh lebih baik daripada seseorang kelak dihisab di hadapan Allah sementara di lehernya masih melekat hak-hak manusia,” terang beliau.

Jika pemiliknya tidak diketahui, maka ia diwajibkan untuk berbuat baik kepada ahli warisnya atau bersedekah atas nama mereka dengan niat mengembalikan kezaliman.

“Jangan remehkan perkara ini, karena termasuk salah satu pintu akhirat yang paling berbahaya,” tegas Mursyid Tarekat Syadziliyah Yusriyah itu.

Kehormatan orang-orang muslim sekarang telah menjadi hal ringan dan sepele di mata sebagian mereka. Akibatnya, darah bisa dihalalkan, dan manusia saling berani melempar caci maki, tuduhan dan fitnah.

“Kita sangat membutuhkan ketakwaan yang nyata dengan benar-benar menjauhi yang haram serta menjaga lisan dan hati kita,” pungkas Syekh Yusri.

Kontributor

  • Abdul Majid

    Penerjemah kitab-kitab Arab Islam. Mengisi waktu luang dengan bertanam dan mengajar kelas privat bahasa Arab. Sekarang tinggal di Majalengka. Dapat dihubungi di IG: @amajid13.