Fatwa

Al-Azhar Terangkan Sembilan Adab Berpakaian dalam Islam

11 Aug 2021 02:49 WIB
480
.
Al-Azhar Terangkan Sembilan Adab Berpakaian dalam Islam

Berpakaian begitu diperhatikan dalam Islam. Selain menentukan sah tidaknya ibadah, ia juga mencerminkan karakter, kepribadian dan akhlak seseorang.

Pusat Fatwa al-Azhar menjelaskan bahwa cara berpakaian yang diatur dalam Islam bertujuan untuk menghormati nilai-nilai budi pekerti yang luhur.

Nilai-nilai tersebut diambil dari sopan santun, menjaga harga diri dan nama baik, serta menolak segala bentuk keburukan dan perilaku yang hina.

Allah swt. menciptakan manusia serta menganugerahi mereka dengan akal. Faktor itulah yang membedakan manusia dari makhluk yang lain. Lantas dengan akal, manusia pun sanggup menghargai keseimbangan dan mencintai keindahan.

Allah swt.  juga memerintahkan manusia untuk menutup aurat karena hal itu merupakan fitrah manusia dengan akal yang diberikan kepada mereka, sebagaimana firman-Nya:

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

“Wahai anak cucu Adam, sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian takwa, itulah yang lebih baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat.” (QS. Al-A’raf: 26)

Selama manusia menjadi bagian aktif dari masyarakat maka penggunaan jalanan, fasilitas, transportasi umum, terutama sosialisasi dengan masyarakat lainnya, harus diselaraskan dengan menghormati budaya dan nilai-nilai budi pekerti setempat.

Sayangnya belakangan ini nilai-nilai yang diajarkan Islam kerap disepelekan dengan klaim kebebasan atau sebagai keterbukaan terhadap zaman tanpa menimbang mudarat yang ditimbulkan.

Sebagaimana Islam memperhatikan aspek terkecil dari umatnya serta memerintahkan untuk menutup aurat dengan ketakwaan, Islam memberikan ketentuan-ketentuan bagaimana cara berpakaian yang baik.

Berikut sembilan adab berpakaian dalam Islam sebagaimana dijelaskan Pusat Fatwa Al-Azhar seperti dilansir Youm Sabi (8/8):

Pertama: Pakaian Muslim dan Muslimah Harus Menutupi Aurat

Pernyataan bahwa pakaian sopan dan tertutup adalah bentuk anti peradaban dan perkembangan zaman justru bertentangan dengan norma kemanusiaan. Andai telanjang adalah bentuk dari peradaban, maka hewan akan lebih beradab dari manusia karena mereka tidak mengenakan busana sejak lahir. Jadi ketelanjangan justru menandakan kemerosotan moral.

Kedua: Menyesuaikan Adat Tradisi

Pakaian harus menyesuaikan dengan adat masyarakat sekitar, selama sejalan dengan nilai sopan santun dan budi pekerti yang luhur.

Salah satu adab berpakaian adalah kesesuaian dengan adat masyarakat yang berlaku, selagi tidak menanggar batas yang ditentukan agama.

Ketiga: Tidak Berpakaian Menyerupai Lawan Jenis

Seorang pria tidak boleh mengenakan pakaian yang menyerupai wanita, begitu juga sebaliknya. Menjaga identitas kejelasan jenis kelamin adalah sebuah keharusan dalam syariat.

Abu Hurairah ra. meriwayatkan,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ، وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ

“Rasulullah saw. melaknat laki-laki yang berkaian layaknya pakaian perempuan dan perempuan yang berpakaian layaknya pakaian laki-laki.” (HR. Abu Dawud)

Keempat: Tidak Menyiratkan Keangkuhan

Tidak boleh ada nada sombong dan angkuh dalam berpakaian. Islam mengharamkan memanjangkan baju hingga terseret-seret dengan maksud takabur alias sombong.

Rasulullah saw. bersabda,

مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ لَا يُرِيدُ بِذَلِكَ إِلَّا الْمَخِيلَةَ؛ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang memanjangkan kainnya, tidak menginginkan dengan itu melainkan keangkuhan, maka sesungguhnya Allah swt tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” (HR. Muslim)

Kelima: Tidak Berlebihan

Islam melarang perbuatan boros dan berlebihan dalam segala hal, termasuk dalam urusan berpakaian.

Nabi Muhammad saw. bersabda:

كُلُوا، وَاشْرَبُوا، وَتَصَدَّقُوا، وَالبَسُوا فِي غَيْرِ مَخِيلَةٍ وَلاَ سَرَفٍ، إِنَّ اللهَ يُحِبُّ أَنْ تُرَى نِعْمَتُهُ عَلَى عَبْدِهِ

“Makan, minum, bersedekah, dan berpakaianlah kalian dengan tidak merasa bangga dan sombong serta berlebih-lebihan. sesungguhnya Allah swt. bangga bila nikmat-Nya yang ada pada hamba-Nya diperlihatkan.” (HR. Ahmad)

Batas dari boros dan berlebihan adalah membeli barang yang tidak diperlukan, termasuk juga membeli barang mahal padahal tidak terlalu prioritas.

Sedangkan membeli baju yang diperlukan dan sanggup untuk dibeli bukanlah bentuk keborosan.

Keenam: Memperhatikan Kebersihan dan Kerapian

Hendaknya memakai baju bersih dan pakaian rapi. Islam memerintahkan agar penampilan seorang muslim terlihat sempurna dan elok dipandang.

Rasulullah saw. bersabda:

إنَّكم قادِمونَ على إخوانِكُم؛ فأحسِنوا لباسَكُم، وأصلِحوا رحالَكُم؛ حتَّى تَكونوا كأنَّكُم شامةٌ مِنَ النَّاسِ، إنَّ اللَّهَ لا يُحبُّ الفُحشَ والتَّفحُّشَ

“Sesungguhnya kalian akan menemui saudara-saudara kalian, maka percantiklah kendaraan kalian dan baguskanlah pakaian kalian hingga kalian seakan-akan seperti tahi lalat di tengah-tengah manusia (indah dilihat). Sesungguhnya Allah swt. tidak menyukai sesuatu yang keji atau melakukan perbuatan kotor dan keji.” (HR. al-Hakim)

Ketujuh: Tidak Aneh dan Nyeleneh

Seorang muslim tidak seyogianya memakai pakaian yang notabenenya aneh, tidak umum digunakan orang-orang sekitarnya hingga dia tampil mencolok dan populer di tengah-tengah mereka karena pakaian itu.

Yang diinginkan adalah seorang muslim atau muslimah berpakaian dengan umumnya pakaian orang lan sehingga menjadi bagian dari mereka. Cara ini bisa menjauhkannya dari sikap angkuh, riya dan hasrat mencari perhatian orang lain.

Rasulullah saw. bersabda:

مَن لَبِسَ ثوبَ شُهرةٍ في الدُّنيا، ألْبَسَهُ اللهُ ثوبَ مَذلَّةٍ يومَ القيامةِ

“Barangsiapa memakai pakaian syuhrah (untuk mengejar popularitas sehingga menjadi perbincangan khalayak) di dunia, maka Allah akan memberikannya pakaian kehinaan pada hari kiamat (kemudian dinyalakan api untuknya).” (HR. Ahmad)

Kedelapan: Tidak Memuat Tanda yang Menyelisihi Etika Islam

Seorang muslim tidak boleh mengenakan pakaian yang memuat tanda atau kata-kata yang bertentangan dengan adab dan akidah Islam atau kata-kata yang menjurus ke arah pornografi.

Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang meniru suatu kaum, maka ia termasuk di antara mereka.” (HR.Abu Daud)

Kesembilan: Norma Berpakaian di Media Sosial

Aturan di atas tidak hanya berlaku di dunia nyata, tetapi juga berlaku dalam dunia maya. Merasa kebutuhan psikologinya tersalurkan, tak jarang ada orang yang meluapkan kebebasannya di dunia maya, termasuk dalam urusan berpakaian.

Sepantasnya seorang muslim saat menggunggah foto atau video dirinya ke Instagram, Facebook, dan media sosial lainnya, harus menaati norma dan adab berpakaian di atas. Ia harus melihat kesesuaiannya dengan yang telah syariat ajarkan dan keselarasannya dengan norma dan etika kemanusiaan.

Aturan berpakaian dalam Islam di dunia nyata, berlaku sama di dunia maya.


Sultan Nurfadel
Sultan Nurfadel / 21 Artikel

Seorang mahasiswa Al-Azhar jurusan Akidah dan Filsafat. Warga Sunda yang mengaku sebagai calon presiden 2029.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: