Fatwa

Berikut Etika bersiwak, Termasuk Jangan di Depan Umum

02 Aug 2021 07:46 WIB
1685
.
Berikut Etika bersiwak, Termasuk Jangan di Depan Umum

Bersiwak atau istiyak secara bahasa berasal dari bentuk mashdar Istaka, yakni membersihkan mulut dan gigi dengan menggunakan sikat gigi. Penggunaan kata siwak ini menunjukkan makna pekerjaan membersihkan mulut dengan kayu ‘ud atau yang disebut juga miswak.

Adapun secara syara’, istiyak adalah menggunakan kayu ‘ud atau sejenisnya seperti kayu usynan pada gigi dan sekitarnya. (lihat Mughni Al-Muhtaj, karya Muhammad bin al-Khathib asy-Syarbini: 1/182)

Namun bersiwak tidak lantas dilakukan seenaknya. Lembaga Fatwa Mesir menerangkan bahwa dalam bersiwak, seorang muslim sebaiknya memperhatikan etika-etika berikut ini:

A. Dianjurkan (mustahab) untuk tidak bersiwak di hadapan orang banyak, karena hal itu menurunkan wibawa.

Jadi seorang muslim seyogianya tidak melakukannya di dalam masjid dan tempat-tempat perkumpulan. Hal ini berbeda dengan pendapat Ibnu Daqiq Al-‘Id.

Dalam kitab Mawahib Al-Jalil fi Syarh Mukhtashar Khalil, 1/266, Al-Hatthab mengatakan bahwa Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah RA, bahwa ia ditanya, “Apa yang dilakukan Rasulullah SAW ketika beliau hendak memasuki rumah?”

Sayyidah Aisyah RA menjawab, “Dengan bersiwak.”

Al-Hatthab melanjutkan: hal itu mengandung makna bahwa beliau sering dan berulang kali bersiwak ketika hendak masuk ke dalam rumah, dan tidak terbatas hanya satu kali dalam sehari semalam, namun berulang kali beliau melakukannya.

Dan Nabi melakukannya secara khusus ketika hendak memasuki rumah, karena bersiwak termasuk perbuatan yang tidak dilakukan oleh orang yang memiliki wibawa dan martabat tinggi di hadapan orang banyak, dan tidak diwajibkan untuk melakukannya di dalam masjid dan di tempat-tempat perkumpulan.

B. Dianjurkan pula agar mencuci siwak setelah dipakai untuk menghilangkan apapun yang tersangkut padanya.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunan-nya, dari Aisyah RA, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersiwak lalu memberikan siwak tersebut kepadanya untuk dia cuci. Maka Aisyah mempergunakan terlebih dahulu untuk bersiwak baru kemudian dia mencucinya lalu dia memberikan kembali kepada beliau.

C. Dianjurkan pula untuk menjaga siwak agar terhindar dari sesuatu yang dapat mengotorinya.

D. Apabila diketahui dari kebiasaannya, jika ia bersiwak menjadikan mulutnya mengeluarkan darah, maka ia harus bersiwak dengan lembut. Karena jika sampai berdarah maka hukum yang berlaku baginya sesuai dua keadaan berikut:

Pertama, jika ia tidak menemukan air, sementara waktu shalat mau habis, maka dalam keadaan ini ia haram bersiwak karena dikhawatirkan akan menjadikan mulutnya najis.

Kedua, jika ia menemukan air dan waktu shalat masih longgar, maka ia tidak disunnahkan untuk bersiwak, namun mubah karena apa yang ia lakukan berpotensi mengandung unsur masyaqqah (menyusahkan) dan haraj (memberatkan). Wallahu a’lam.

Sumber: klik di sini.


Arif Khoiruddin
Arif Khoiruddin / 102 Artikel

Lulusan Universitas Al-Azhar Mesir. Tinggal di Pati. Pecinta kopi. Penggila Real Madrid.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: