Banyak kejadian lucu atau unik yang terjadi di rumah, mulai dari tingkah laku anak ataupun orang tua. Di era online, banyak orang tidak bisa menahan diri untuk mempostingnya di media sosial kita. “Pokoknya dunia harus tahu hal ini!” mungkin begitu di benak mereka.

Hal ini mungkin memang terlihat lumrah, tetapi bagaimana pandangan syariat terhadap fenomena tersebut?

Dilansir dari laman resmi Youm7, Pusat Fatwa Elektronik Al-Azhar mengatakan bahwa seseorang yang menceritakan perihal keluarganya di hadapan orang lain, baik itu keluarga atau temannya, adalah hal yang ditentang oleh syariat.

Terlepas apakah yang dia publikasikan di media sosial adalah sesuatu yang remeh atau yang paling privasi sekalipun karena penyebab rusaknya rumah tangga terkadang muncul dari sesuatu yang sepele.

Dalam hal ini, Syeikh Ali Jumah menjelaskan panjang lebar dalam salah satu wawancara di saluran resmi CBC pentingnya menekankan fungsi درء المفاسد مقدم على جلب المصالح, yaitu meninggalkan sesuatu yang mudlarat lebih baik daripada mengambil sebuah maslahat.

Selain itu, patut kita perhatikan bahwa dunia maya adalah dunia tanpa privasi. Akun medsos kita bisa diakses siapa pun, di mana dan kapan saja. Bahkan tidak sedikit tindakan kriminalitas yang memanfaatkan dunia maya mulai dari penculikan, bullying, jual beli identitas, penipuan, dan banyak lagi.

Merujuk pada survei yang dilakukan Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP), jumlah kekerasan seksual lewat media internet meningkat sejak pandemi di Juni 2020, menduduki nomor 2 setelah KDRT.

“Modusnya berupa ancaman atau eksploitasi seksual secara virtual. Biasanya pelaku mengancam dengan menyebarkan foto atau ada juga yang modus memeras minta uang. Seringnya pelaku menggunakan akun palsu atau justru malah orang terdekat korban," ujar Direktur LBH APIK, Siti Mazumah di laman resmi Tempo.

Syeikh Mukhtar Muhsin juga pernah menekankan bahwa hal-hal tersebut termasuk dalam hifdzu an-nafs alias menjaga diri. Memang jika merujuk urutan maqasid syariat menurut Imam Ghazali r.a. menjaga diri terletak dalam urutan kedua setelah hifdzu ad-din, menjaga agama.

“Jika tidak ada an-nafs (jiwa) maka bagaimana kita bisa menjaga agama, akal, keturunan dan harta? Karena itu kami lebih menekankan hifdzu an-nafs dalam urutan pertama sebelum hifdzu ad-din,” ujar pengajar di Darul Ifta tersebut seperti dikuti dari saluran resmi Azhar TV.

Pusat Fatwa Elektronik Al-Azhar juga menegaskan bahwa kecanduan perhatian saat bermediasosial adalah penyakit. Memang banyak sisi positif yang bisa dipelajari dari media sosial dalam pengembangan diri terutama fungsinya sarana pembelajaran dan pengetahuan. Islam juga tetap mengijinkan penggunaan media sosial selagi tidak keluar dari koridor syariat.

Dalam hal ini Al-Azhar mewajibkan para orang tua untuk mengawasi setiap anak mereka di media sosial.

Perlu diingat juga, dalam bermedsos seorang Muslim masih harus meyakini bahwa ia tak lepas dari pengawasanNya. Allah SWT mengetahui gerak dan diam kita di dunia nyata maupun di dunia maya. Maka sepatutnya seorang Muslim bermediasosial dengan sehat dan cerdas dengan menjaga privasi diri sendiri dan keluarga. Bukan berarti mengorbankan privasi dan resiko lainnya hanya untuk di-like atau dipuji.

Allah SWT berfirman:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ مَا يَكُونُ مِن نَّجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِن ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ۖ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidakkah engkau perhatikan, bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tidak ada lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia pasti ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari Kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS: Al-Mujadalah: 7)