Esai

Hijrah Ekologis dan Krisis Kepedulian Umat Islam terhadap Lingkungan

13 Aug 2021 01:43 WIB
446
.
Hijrah Ekologis dan Krisis Kepedulian Umat Islam terhadap Lingkungan

Khazanah Islam, akidah, hukum, berikut nilai-nilainya menawarkan solusi yang komprehensif dan efektif dalam menjawab tantangan global melawan krisis ekologi. Meski demikian, apa yang membuat umat Muslim hari ini terkesan kendor dan kurang peka menyangkut apa yang dihadapi lingkungannya?

Seorang kawan yang saya tanya memberi jawaban yang agaknya tidak sepenuhnya keliru: “Konsentrasi umat Islam belum ke sana, masih sibuk memprioritaskan kampanye moderasi agama sambil memperdebatkan makna ‘hijrah’.”

Islam memiliki rujukan yang tak terhitung dalam menekankan pentingnya pelestarian serta konservasi sumber daya alam. Menurut disiplin Islam yang paling mendasar, alam dengan berbagai elemen dasarnya yang meliputi tanah, air, udara, satwa, serta tumbuh-tumbuhan adalah milik bersama seluruh makhluk, bukan semata kepunyaan manusia.

Al-Qur’an dan Sunnah adalah tuntunan serta rujukan utama dalam menempuh kehidupan termasuk keberlanjutan ekosistem dari dahulu hingga masa-masa mendatang. Allah SWT memerintahkan manusia untuk menghindari tindakan-tindakan destruktif seperti mengeksploitasi sumber daya alam.

Hak istimewa manusia dalam mendayagunakan sumber daya alam adalah dengan mengganti apa yang telah diambilnya, oleh karenanya Islam memiliki prinsip ihya’ al-mawat yang bukan hanya bermakna menyulap area tandus menjadi lahan pertanian, namun juga ‘isi ulang’ serta tanggung jawab memperbaiki perusakan-perusakan yang dilakukan.

Konsep amanah yang senantiasa diagung-agungkan umat Muslim sejatinya sangat relevan dalam kaitannya menjaga keseimbangan alam. Setiap insan, sebagai individu memiliki kewajiban dan predikat yang sama di mata Allah, yakni khalifah. Bisa dilihat dalam surat al-Baqarah pada ayat 30 bagaimana waswasnya para malaikat dengan rencana penciptaan manusia yang disebut khalifah bakal membuat kerusakan dan pertumpahan darah.

Seorang manusia akan lulus menjadi manusia bila tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Seorang manusia harus menempuh segala langkah supaya dapat mewariskan lingkungan bagi generasi berikutnya dalam bentuk selestari dan seideal mungkin, tidak lain karena bumi adalah amanah, titipan yang dipercayakan Tuhan kepada manusia untuk dijaga dan dilestarikan.

Setiap manusia adalah pelestari lingkungan yang harus menerapkan harmonisasi dengan segenap makhluk lainnya. Dengan demikian, menghormati, menghargai, serta merawat lingkungan tidak lain adalah implementasi dari seluruh rukun iman. Sejalan dengan ayat 85 dari surat al-A’raf:

“Dan janganlah kalian membuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Itulah yang lebih baik bagi kalian jika kalian beriman.”    

Pada penutup ayat 64 surat al-Ma’idah dengan sangat tegas Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan, demikian juga pada ayat 77 surat al-Qashas. Dalam ekosistem, kerusakan-kerusakan bisa berupa korupsi sumber daya alam, pencemaran industri, eksploitasi kekayaan yang terkandung di dalam bumi, termasuk produksi plastik berlebihan yang kemudian tidak diiringi pendaurulangan.

Tidak hanya kepada para pelaku kerusakan, Allah juga tidak menyukai mereka yang berlebih-lebihan dan melampaui batas dalam mengonsumsi makanan dan minuman. Bisa dilihat lebih lanjut dalam teks maupun penafsiran dari ayat 31 surat al-A’raf.

Menurut Al-Qur’an lingkungan lestari adalah harga mati, bukan alternatif yang boleh dipilih boleh ditinggal. Beberapa ayat yang disinggung di atas hanya sebagian dari lautan Al-Qur’an yang menyinggung hal ihwal ekologi dan ekosistem.

Nabi Muhammad SAW. juga acap membahas berbagai aspek lingkungan hayati, meliputi sumber daya alam, pengolahan tanah, hingga keberhasilan lingkungan. Sebagai penafsir Al-Qur’an yang pertama dan paling utama beliau berulang-ulang melarang pengikutnya berlaku konsumtif, boros, bermewah-mewahan, dan tindakan-tindakan destruktif terhadap alam. Sebaliknya mendorong umat Islam senantiasa bersikap moderat dan sederhana dalam berbagai hal.

Sebuah hadis riwayat Imam Muslim menyatakan “Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau (indah), dan sesungguhnya Allah menunjuk kalian sebagai pelestari di dalamnya, maka Dia senantiasa melihat apa-apa yang kalian perbuat (terhadap alam semesta)”, tidak lain adalah tafsir nabi terhadap ayat-ayat yang menyinggung tanggung jawab yang diberikan Allah kepada manusia untuk menjaga keseimbangan alam.

Dalam riwayat Imam Muslim yang lain disebutkan bahwa, “Tidaklah seorang Muslim bercocok tanam lalu tanaman itu dimakan manusia, binatang, atau burung melainkan tanaman itu menjadi sedekah baginya sampai hari kiamat”. Boleh dibilang itulah hadis sedekah oksigen lantaran telah menyisihkan waktu bercocok tanam, bukan semata karena buah atau bijinya telah dimakan makhluk lain. Hari ini ketika ilmu pengetahuan sudah cukup maju, pepohonan dikenal dengan istilah bank oksigen karena menyediakan ‘kehidupan’ bagi makhluk hidup di sekitarnya.

Karena pentingnya bercocok tanam, Rasul sampai-sampai berucap dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari, “Andai kata besok kiamat tiba, sementara tergenggam tunas di tangan seorang dari kalian, hendaklah ia tetap menanamnya.”

Rasul juga secara terang melarang perusakan tumbuh-tumbuhan, bahkan ketika dalam situasi perang sekalipun. Beliau memberikan perhatian khusus terhadap laju pengolahan lahan, minimalisasi limbah, peningkatkan mutu sumber daya alam, etika terhadap binatang ternak, hingga perlindungan terhadap satwa-satwa liar. Beliau sangat mengimani bahwa sumber daya alam sudah sepatutnya tidak dieksploitasi atau disalahgunakan secara berlebihan.



Green Muslims adalah sebuah organisasi nirlaba yang berusaha menjadi sumber pendidikan lingkungan berbasis spiritual di komunitas Islam dan bergerak mempromosikan kesadaran lingkungan.

Meski menjadi sangat populer hari-hari ini, “hijrah” adalah kosakata Islam yang sudah ada sejak masa kenabian. Bila ia dimaknai tindakan meninggalkan kegelapan menuju cahaya Islam yang terang benderang, bukankah alam lingkungan saat ini tengah menapaki masa tergelapnya sebab perusakan-perusakan?

Semakin hari bumi semakin papa akan ‘cahaya’ islah. Bukankah sudah saatnya hijrah ekologis diprioritaskan?


Walang Gustiyala
Walang Gustiyala / 39 Artikel

Pernah belajar di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduen Sumenep Madura dan Universitas Al-Azhar Kairo Mesir. Mencintai sastra, musik dan lingkungan. Penulis novel roman-sejarah Katarsis Hitam Putih. Aktif mengajar di Pesantren Modern Daarul 'Uluum Lido Bogor.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: