Ketika bulan Ramadlan tiba, tak jarang kita temui orang-orang yang senantiasa menggiatkan ibadahnya, mengupayakan amalan terbaik dan memaksimalkan nilai puasa mereka.

Tentu saja karena Ramadlan merupakan ibadah tahunan yang bilangan harinya sangat terbatas. Walau terbatas, pahala yang dijanjikan Allah pada bulan ini begitu besar

Namun sayang, hal ini kerap menjadi problema kaum wanita dalam mengikhtiarkan hal tersebut. Terkadang yang terjadi adalah, tatkala iman dan semangat beribadah berada di puncaknya, masa haid mereka datang, sehingga mau tidak mau harus menghentikan, atau paling tidak mengurangi beberapa ibadah yang tidak bisa dilakukan oleh wanita haid.

Bukan tanpa pengaruh, hal tersebut malah acap kali jadi salah satu alasan terbesar hilangnya ghirah beribadah bagi kaum perempuan.

Di zaman yang serba ada seperti saat ini, mulai muncul satu per satu temuan-temuan yang bermanfaat bagi manusia. Salah satunya adalah obat penghenti siklus haid bagi wanita yang menghendakinya, untuk alasan tertentu seperti saat berhaji ataupun puasa ramadhan.

Lalu bagaimana syariat menghukumi hal tersebut?

Darul Ifta seperti dilansir dari laman resminya mula-mula menerangkan pengertian haid terlebih dahulu, haid adalah darah kental yang keluar dari ujung rahim wanita pada waktu-waktu tertentu, sebagaimana termaktub dalam Asnal Mathalib.

Haid juga bisa dikatakan sebagai aktivitas reproduksi wanita bulanan, artinya ia akan mengalami haid tersebut setiap bulan.

Sementara itu, bulan Ramadlan adalah ibadah musim yang hanya ada pada waktu tertentu saja setiap tahunnya, yakni berkisar antara 29 atau 30 hari. Bulan Ramadhan tidak bisa terulang pada waktu-waktu lainnya kecuali dengan menanti bulan yang sama datang tahun depan.

Wanita haid yang terhalang dari melakukan wajib puasa pada bulan itu diwajibkan qadla pada hari-hari sucinya, yang tentu saja ini menjadi beban bagi mereka.

Darul Ifta mengatakan hukum asal penggunaan obat untuk mengenhentikan haid agar bisa menjalani ibadah musim tersebut adalah boleh. Dengan mengikuti nash dari Fuqaha madzhab Hanabilah dalam kitab Al-Mughni:

روي عن أحمد رحمه الله  أنه قال: لا بأس أن تشرب المرأة دواءً يقطع عنها الحيض, إذا كان دواء معروفا

“Diriwayatkan dari Ahmad ra dia berkata: Tidak mengapa apabila seorang wanita meminum obat untuk menghentikan haidnya, dengan syarat obat tersebut bersifat ma’ruf (diketahui)”

Hal ini diperkuat dengan perkataan Al-‘Allamah Al-Bahuti dalam Ar-Raudh Al-Murabba’:

ويباح للمرأة إلقاء النطفة قبل أربعين يوما بدواء مباح, وكذا شربه لحصول حيض لأقرب رمضان لتفطره ولقطعه, لا فعل ما يقطع حيضها بها من غير علمها

“Diperbolehkan bagi wanita meminum obat 40 hari sebelumnya,  fungsi meminum obat ini adalah untuk menghentikan haid ketika mendekati bulan Ramadhan, dan perbuatan menghentikan haid (seperti ini) bukanlah perbuatan yang di luar pengetahuan si wanita.”

Dalam madzhab Hambali, kita juga akan jumpai kalam dari Syaikh Taqiyyuddin Ibn Taimiyah mengatakan hal yang sama dalam Al-Fatawa Al-Kubra:

لو شربت دواء قطع الحيض أو باعد بينه, كان ذلك طهرا

“Apabila seorang wanita meminum obat untuk menghentikan haid, maka masa itu dianggap suci (terbebas dari darah haid).”

Kendati diperbolehkan mengonsumsi obat tertentu guna menunda masa haid, para Fuqaha menggaris bawahi dengan tegas bahwa penggunaan tersebut harus dengan jaminan keamanan, baik bagi fisik wanita ataupun di luar fisiknya. Hal ini senada dengan apa yang dikatan Al-‘Allamah Ibn Muflih dalam Al-Mubaddi’:

لا بأس بشرب دواء مباح لقطع الحيض إذا أمن ضرره

“Tidak mengapa seorang wanita mengonsumsi obat untuk mengentikan haid, jika telah terjamin keamanannya.”

Di sisi lain, ada sebagian ulama yang memakruhkannya, seperti Imam Malik. Dikisahkan bahwa beliau pernah ditanya soal perempuan yang meminum obat untuk menunda masa haidnya. Imam malik mengatakan bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang makruh.

Ibn Rusy dalam hal ini menjelaskan alasan mengapa Imam Malik mengatakan demikian, dalam Mawahibul Jalil milik Al-Hithab:

إنما كرهه مخافة أن تدخل على نفسها ضررا بذلك في جسمها

“Sesungguhnya kemakruhan yang dikatakan Imam Malik (dalam perkara si wanita tadi) adalah sebab kekhawatirannya akan bahaya dan madharat yang akan dialami si wanita karena mengonsumsi obat tersebut.”

Dari penjelasan di atas, dapat kita simpulkan hukum mengonsumsi obat untuk menunda atau menghentikan darah haid agar bisa melaksanakan ibadah musim seperti puasa Ramadhan atau pun haji adalah boleh, selama obat tersebut tidak mengandung bahaya dan madharat bagi tubuh perempuan, dan harus di bawah pengawasan dan anjuran dokter.

Adapun masa di mana si wanita terbebas dari darah haid usai meminum obat tersebut dianggap masa suci, sehingga mereka bisa melakukan ibadah tanpa adanya larangan. Wallahu a’lam bis shawab.