Fatwa

Hukum Menghadiri Jenazah Non Muslim

18 Mar 2021 02:31 WIB
295
.
Hukum Menghadiri Jenazah Non Muslim

Seseorang bertanya kepada Darul Ifta Mesir. Dia memiliki kawan seorang pemeluk Kristen yang baru saja meninggal dunia. “Bolehkah aku menghadiri upacara pemakamannya yang akan diselenggarakan di gereja?” Tanya dia.

Lembaga Fatwa Mesir itu menjawab bahwa tidak dilarang secara syara’ apabila menghadiri jenazah orang-orang non muslim. Dan tidak berdosa pula menyampaikan bela sungkawa dan bertakziyah.

Seperti tercantum dalam laman resmi Facebooknya, Komisi Fatwa Darul Ifta menyatakan bahwa perilaku di atas termasuk kategori perbuatan baik yang diperintahkan dalam firman Allah,

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (QS. al-Baqarah [2]: 83)

Dan juga masuk dalam golongan kebajikan dan sikap adil yang diisyaratkan dalam ayat,

لَا يَنْهَاكُمُ اللهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. al-Mumtahanah [60]: 8)

Agama Islam, lanjutnya dalam penjelasan, memerintahkan orang-orang muslim untuk hidup damai dan harmoni di tengah masyarakat yang beragam asalkan tidak menerobos prinsip-prinsip dasar agama. 

“Agama Islam tidak tersebar kecuali dengan interaksi yang baik dan ikut terlibat dengan orang banyak dalam kebahagiaan dan kesedihan mereka,” tandasnya.

Berduka atas Kematian Orang Non muslim

Sebelumnya, seseorang mengaku kagum dengan seorang tokoh non muslim. Dan ketika orang yang dikaguminya itu meninggal, dia takut mendoakan rahmat untuknya. “Salahkah yang aku lakukan?” Tanya dia kepada Darul Ifta.

Aminul Fatwa Darul Ifta Dr. Ahmad Mamduh menjawab bahwa mengagumi seorang sosok atau pribadi bukan karena faktor agamanya seperti karena sifat kedermawanan, kecerdasan dan kerapiannya, dan sifat-sifat positif lainnya, bukanlah monopoli dan tidak hanya datang dari kalangan orang-orang muslim saja. 

Bahkan Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” Maksudnya, ada banyak akhlak baik pada zaman jahiliyah sebelum era kenabian, kemudian Nabi datang untuk menyempurnakan dan mempertegasnya. Yang terpuji tetap terpuji dan yang tercela juga tetap tercela.

Beliau menambahkan, apabila kamu melihat seseorang yang berbeda agamamu memiliki sifat-sifat terpuji, maka ada hak bagi kamu untuk mengaguminya. Adapun mengenai doa rahmat, ada dua poin yang perlu dibedakan.

Pertama, Allah SWT sudah menyatakan bahwa Dia tidak mengampuni orang yang mati dalam keadaan syirik. Dalam kondisi ini, berdoa memintakan ampunan, jelas tidak diperbolehkan.

Kedua, memintakan rahmat untuknya adalah urusan lain. Karena rahmat lebih luas dari ampunan. Para ulama menyatakan bahwa rahmat Nabi menggapai seluruh makhluk di dunia dan akhirat.

Di akhirat kelak, umat manusia panik dan mendekat-dekat kepada Nabi untuk diberikan syafaat oleh beliau baik yang beriman maupun yang kafir. Nabi memberikan syafaat beliau untuk meringankan siksaan mereka. Yang dilarang adalah memintakan ampunan namun rahmat lebih luas daripada itu.

Darul Ifta menambahkan bahwa memintakan rahmat untuk orang-orang non muslim yang diketahui memiliki perangai dan akhlak terpuji, tidak menyalahi dan bertentangan dengan Islam. “Apabila seorang muslim mendoakan rahmat untuknya dengan pengertian yang umum, maka itu diperbolehkan,” tegasnya.


Abdul Majid
Abdul Majid / 73 Artikel

Guru ngaji, menerjemah kitab-kitab Arab Islam, penikmat musik klasik dan lantunan sholawat, tinggal di Majalengka.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: