Fatwa

Isra Mikraj Nabi dengan Jasad atau Ruh? Berikut Jawaban Darul Ifta Mesir

10 Mar 2021 05:30 WIB
425
.
Isra Mikraj Nabi dengan Jasad atau Ruh? Berikut Jawaban Darul Ifta Mesir

Malam Isra Mikraj jatuh pada Maghrib hari Rabu (10/3) hingga fajar Kamis (11/3) nanti malam. Apakah Rasulullah saw. naik ke langit dengan jasad dan ruh ataukah hanya lewat mimpi?

Menjawab pertanyaan di atas, Darul Ifta Mesir menerangkan bahwa sesungguhnya Isra Mikraj merupakan mukjizat yang diperuntukkan secara khusus bagi Nabi Muhammad saw. sebagai bentuk penghormatan dan penegasan atas derajat beliau yang mulia. Selain itu, Allah swt. hendak memperlihatkan kepada beliau sebagian dari tanda-tanda kebesaran ciptaan-Nya.

Allah swt. berfirman,

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. al-Isra` [17]: 1)

وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى  مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى  وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى  إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى  عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى  وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَى  ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى  فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى  فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى  أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى  وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى  عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى  إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى  مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى  لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى

“Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. Sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi.” (QS. an-Najm [53]: 1-8)

Mayoritas ulama bersepakat bahwa Nabi Muhammad saw. melakukan perjalanan Isra dengan ruh dan jasad. Karena al-Quran secara lugas menyebutkan hal itu. Allah berfirman, بِعَبْدِهِ (hamba-Nya), dan itu berarti manusia seutuhnya karena kata ‘abdun tidak digunakan kecuali dalam pengertian sosok manusia secara ruh dan jasad.

Baca juga: Kisah Mi'raj Nabi Muhammad

Perjalanan Isra Rasulullah telah diceritakan oleh Al-Quran dan hadits. Bila ada yang melontarkan pertanyaan di atas, silakan mencari tahu dan merujuk hadits-hadits yang mengupas tentang perjalanan malam hari Nabi Muhammad saw. pada malam 27 Rajab itu.

Adapun mengenai perjalanan Mikraj, terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Pangkal perselisihannya sama: apakah Nabi melakukan Mikraj dengan jasad dan ruh ataukah dengan ruh saja alias mimpi?

Lembaga Fatwa Mesir itu menjelaskan bahwa mayoritas ulama menyatakan bahwa Rasulullah saw. melakukan Mikraj secara sadar dengan jasad dan ruhnya dalam satu malam.

Pendapat sementara ulama yang menyataan bahwa Mikraj Nabi terjadi lewat ruh saja atau mimpi, menurut Darul Ifta, tidak dapat dijadikan pegangan. Allah swt. Mahakuasa untuk memperjalankan Nabi ke langit lengkap dengan jasad dan ruhnya, sebagaimana Dia kuasa memperjalankan Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dengan jasad dan ruhnya.

Apabila al-Quran menceritakan Isra secara eksplisit dan menyinggung Mikraj secara implisit, maka hadits-hadits Nabi banyak meceritakan dua peristiwa mukjizat itu secara lugas dan tersurat.

Baca juga: Wasiat Nabi Isa agar Beriman kepada Nabi Muhammad

Dilansir dari Youm7.com, Darul Ifta menegaskan bahwa Nabi Muhammad saw. melakukan perjalanan Isra dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian bertolak dari Masjidil Aqsa menuju lapis demi lapis langit hingga langit tertinggi dengan ruh sekaligus jasad beliau.

Terkahir, pihaknya mengingatkan bahwa mempertanyakan hal-hal semacam ini terkadang menguras banyak waktu dan mengalihkan perhatian orang muslim dari hal-hal penting yang lebih mendesak untuk dikerjakan.


Abdul Majid
Abdul Majid / 73 Artikel

Guru ngaji, menerjemah kitab-kitab Arab Islam, penikmat musik klasik dan lantunan sholawat, tinggal di Majalengka.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: