Kakeknya berasal dari Yaman. Saat berkelana dia akhirnya memutuskan untuk hijrah ke Dimyat, Mesir. Niat awal untuk mencari penghidupan, namun kemudian memilih untuk menetap di Mesir. Dari sang kakek, tersebarlah keluarga Hibisyi di kawasan Kairo dan Giza.
Bernama lengkap Prof. Dr. Thaha Dasuqi Hibisyi. Lahir di sebuah desa di provinsi Dimyat. Syeikh Thaha merupakan keturunan Rasulullah SAW dari silsilah Fatimah Az-Zahra. Beliau ulama multidisiplin dan pakar dalam berbagai bidang.
Menyebut pakar saja sepertinya tidak cukup. Semua ilmu yang berkaitan dengan akidah dan filsafat seakan sudah dilahap habis oleh Syekh Thaha Dasuqi Hibisyi. Karya tulisnya banyak dijadikan diktat resmi perkuliahan. Namanya juga bukan hanya terkenal di Mesir, seluruh ulama Arab yang bergelut di dunia Islam dan filsafat pasti mengenalnya.
Syeikh Thaha sangat mencintai Imam Al-Ghazali dan pemikiran-pemikirannya. Beliau mengajar beberapa kitabnya seperti Al-Iqtishad fi Al-I’tiqad di salah satu ruwaq masjid Al-Azhar. Ihya’ Ulumiddin di Madyafah Syeikh Ismail Shadiq al-Adawi. Beliau juga turut mengajar di Sahah Tijaniyah dan masih banyak lagi.
Menariknya, seakan Syeikh Thaha hafal karya-karya Al-Ghazali kata demi kata.
Jika epistemologi Barat hanya mengakui rasional atau empirik sebagai sumber pengetahuan, Islam mengakui hal-hal di luar nalar seperti mukjizat, wahyu dan ilham. Mukjizat dan wahyu hanya untuk para nabi dan rasul_Nya, tetapi ilham dan karamah lainnya sudah banyak terbuktikan dari kisah para alim, wali dan banyak ulama lain.
Baca juga: Imam Ibrahim Al-Bajuri; Grand Syekh Al-Azhar yang Kitabnya Tersebar di Nusantara
Sesungguhnya seorang wali tidak pernah mau mengaku atas karamah. Kita justru mendapatkan banyak kisah karamah dan keagungan mereka dari para muridnya. Syeikh Thaha Hibisyi juga banyak memiliki karamah yang tidak bisa dijelaskan akal sehat.
Kisahnya bermacam-macam. Di antara yang paling masyhur adalah kehadiran Imam Al-Ghazali saat Syeikh Thaha tengah mengajar di majlis. Hal ini diriwayatkan bukan oleh satu-dua muridnya, tapi hampir semua yang aktif mengikuti majlisnya pasti menyaksikan hal yang sama.
Fahim Khasani, alumni Al-Azhar yang kini menjadi dosen di Indonesia menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Bukan sekali dua kali ketika ngaji Ihya’ Ulumiddin atau Iqtishad fi Al-I’tiqad, wajah Syeikh Thaha berbinar dan spontan berkata, “Selamat bagi kalian. Majlis kita dihadiri Imam kita, Al-Ghazali!”
Mungkin faktor usia yang mempengaruhi penglihatannya. Mungkin juga karena faktor lain, semisal penyakit. Beliau kafif–mengidap gangguan penglihatan. Syeikh Thaha sama sekali tidak peduli. Semangatnya dalam menelaah kitab tidak pernah surut. Sehari-hari beliau selalu minta dibacakan sebuah buku oleh murid atau keluarganya.
Salah satu mahasiswanya, yang kebetulan juga senior saya, Angga Prilakusuma, juga pernah bercerita. Selesai mengajar, entah mungkin karena Syeikh kebetulan mendengar beberapa mahasiswanya saling berbisik, dia langsung berceletuk,
“Saya sama sekali tidak keberatan gara-gara mata ini. Malah saya harus bersyukur kepada Allah SWT, jadi saya tidak perlu melihat hal-hal maksiat atau semacamnya. Allah SWT seolah menjaga saya agar selalu terjaga dari apa yang tidak saya inginkan,” kelakar beliau sambil tersenyum.
Mencintai makhluk termasuk salah satu bentuk beryukur atas nikmat Allah SWT. Syeikh Thaha juga mengajarkan hal ini. Dalam salah satu video, tampak beliau berkata di hadapan para muridnya,
“Ketahuilah, meski mataku tidak bisa melihat kalian, sesungguhnya aku bisa mendengar degup jantung kalian.”
Beliau selalu menyapa akrab para muridnya dengan panggilan ‘Anakku’. Sapaan yang terlalu agung untuk sekedar dinisbatkan kepada para murid dengan latar belakang dan karakter yang beragam. Sapaan sederhana yang bisa membuat hubungan guru dengan murid bukan sekedar hubungan profesional atau formil semata, tapi membekaskan kasih sayang layaknya seorang anak kepada ayahnya.
Gara-gara itu juga, banyak sekali mahasiswa yang biasanya ogah-ogahan berangkat kuliah, selalu menyempatkan hadir dalam mata pelajaran Sang Guru.
Baca juga: Mengenal Kehebatan Imam Al-Ghazali dari Karya Tulisnya
Mantan Kaprodi Fakultas Ushuluddin Jurusan Akidah dan Filsafat di Universitas Al-Azhar ini juga berpribadi santun, bersahaja dan sangat pengertian. Semua murid yang pernah diajar beliau juga pasti mengerti keseharian Sang Syeikh ketika mengajar. Setiap memulai kelas, beliau selalu memulai kelas dengan sapaan, “Sampai di mana kita, wahai anak-anakku?”
Seisi kelas serentak menyebutkan nama bab dan awal paragraf dan beliau bisa langsung meneruskan penjelasan dari materi kuliah dari pertemuan sebelumnya dengan lancar. Biasanya beliau menyalakan alat perekam terlebih dahulu sebelum mengajar. “Untuk arsip pribadi,” ujarnya.
Nantinya rekaman itu akan beliau dengar lagi di rumah. Dari rekaman tersebut Syeikh bisa menyimpulkan. Jika ternyata ada penjelasannya yang mungkin kurang dimengerti, dia akan mengulanginya kembali di pertemuan selanjutnya.
Beliau sering sekali berkunjung ke Madinah Bu’uts (asrama mahasiswa asing) untuk mengisi pengajian, masih tentang akidah dan juga sejarah Islam padahal kondisi tubuhnya tidak memungkinkan untuk bepergian sendiri. Berbeda dengan jago merah yang membakar ganas, semangat beliau bak api biru yang terlihat tenang tapi selalu membara.
Ada kawan alumni Al-Azhar yang dulu tinggal di asrama, Jauhar Ridlani Marzuq. Dari ceritanya, Syeikh Thaha terkenal cukup frontal kepada pihak yang berseberangan dengan Al-Azhar. Hal ini juga diamini dari banyak kawan sekerabat yang dulu juga pernah tinggal di asrama.
Menurutnya, beberapa kali saat mengajar dalam majlis, suara Syeikh berubah parau. Suaranya berat, seakan menahan tekanan batin yang cukup hebat. Beliau sangat menyayangkan betapa miris beberapa mahasiswa didikan Al-Azhar yang sudah belajar paham wasathiyyah (moderat) sedemikian rupa, justru mereka yang paling tak segan untuk menghantam Al-Azhar.
“Saya prihatin sekali dengan kawan-kawan kalian yang menganut paham Salafi,” ujarnya suatu hari. Wajahnya menyiratkan keletihan yang sangat.
“Tolong kalian ajak dialog mereka. Saya yakin sebenarnya mereka sendiri banyak yang tidak paham tentang aliran yang mereka ikuti.”
Dalam perkuliahan, beliau banyak memberi kritikan terhadap pemahaman Salafi yang kaku dan rigid. Mereka juga dianggap mudah sekali mengkafirkan sesama, padahal sebagaimana yang kita tahu, urusan iman kita tidak berhak ikut campur.
Menurut Syeikh, kaum Salafi tak ubahnya golongan Khawarij, salah satu aliran Islam pada awal abad pertama Hijriyah yang berani membunuh menantu Nabi, sahabat Ali bin Abi Thalib r.a. Bagi murid-murid setianya pasti mengerti bagaimana posisi dan pemikiran beliau.
Syeikh Thaha tidak membenci Salafi. Beliau justru kasihan dengan mereka yang mencantumkan nama Salaf– generasi paling agung dalam Islam–namun tindak-tanduk mereka malah tidak mencerminkan nama yang mereka gunakan.
Tapi bukan hanya Salafi saja yang dikritik, lelaki murah senyum ini juga mengkritik aliran Muktazilah.
Salah satu doktrin Muktazilah mengajarkan bahwa melihat Allah SWT itu mustahil baik di dunia maupun di akhirat. Jika Allah SWT dapat dilihat dengan mata telanjang, berarti Sang Khalik menyerupai makhluk. Hal ini termasuk tasyabuh, menyerupakan Pencipta dengan makhluk. Selain mustahil terjadi, hal tersebut juga berlawanan dengan logika.
Baca juga: Mengapa Al-Azhar Menjadi Kiblat Ahlus Sunnah
Syeikh Thaha membantah pendapat Muktazilah di atas dalam salah satu bukunya, Al-Janib Al-Ilahi fi Fikr Al-Imam Al-Ghazali. Di buku yang sekaligus diktat kuliah untuk mahasiswa Ushuluddin Fakultas Akidah dan Filsafat tingkat tiga (semestar lima-enam) ini, beliau menjelaskan panjang lebar. Menurutnya, Muktazilah yang biasa mengkritik Mujassimah malah terjebak dalam kritik mereka sendiri dalam penyerupaan Tuhan dengan makhluk.
Syeikh menganggap bahwa kaum Muktazilah tidak paham bahwa dimensi saat kita hidup di dunia dan di akhirat itu berbeda. Di akhirat, tidak mustahil jika orang-orang mukmin yang beruntung, bisa melihat Allah SWT dengan mata kepala mereka. Di dunia, hal tersebut memang tidak mungkin, tetapi beliau menegaskan kembali, sejauh mana ilmu yang kita ketahui terkait perkara gaib?
Masih di dalam buku yang sama, beliau juga mengkritik Muktazilah yang seakan-akan lebih tahu daripada Nabi Musa AS seperti yang tersebut dalam surat Al-A’raf ayat 143. Ayat tersebut menceritakan kisah Nabi Musa yang memohon kepada Allah SWT untuk melihat_Nya di dunia.
Menurut Muktazilah, permintaan Nabi Musa itu karena dia tidak tahu jika dampak dari melihat Allah SWT di dunia, sama saja dengan meruangkan Allah pada tempat, arah dan waktu. Padahal Tuhan berbeda dari makhluk, Dia tidak terikat ruang dan waktu. Jika suatu kondisi memaksa Tuhan untuk terikat di suatu tempat atau waktu, maka sifat ilahi yang melekat pada Allah SWT lenyap, terganti dengan sifat makhluk. Inilah yang disebut tasyabuh, dan mereka beranggapan Nabi Musa terjebak dalam tasyabuh.
Sedangkan menurut Syeikh, pemahaman Muktazilah ini jelas salah besar. Mereka berpendapat seolah-olah mereka lebih paham daripada Nabi Musa AS. Padahal sebagai utusan Allah SWT, seorang nabi tidak mungkin berpikir untuk menyerupakan Allah SWT dengan makhluk. Apalagi Nabi Musa terkenal sebagai nabi yang cerdas. Permintaan Nabi Musa AS adalah karena beliau beranggapan bahwa Allah SWT bisa dilihat, meski tidak di dunia, tapi nanti di akhirat kelak.
Selain terkenal dengan keilmuannya, Syeikh Thaha Hibisyi juga terkenal dengan karakternya yang lemah lembut. Sering sekali di akhir majlis, beliau meminta untuk diperdengarkan syair-syair pujian untuk Rasulullah SAW. Sering sekali kami melihat beliau menitikkan air mata setiap nama Ahmad, Muhammad, Rasulullah, disebut dalam syair. Sering sekali!
Memang benar ucapan Imam Al-Ghazali dalam Ma’arif Al-Quds fi Madarif M’arifat An-Nas, ilmu yang dimiliki seseorang sebanding dengan keluhuran jiwanya. Kami menemukan itu dalam diri Syeikh Thaha Dasuqi Hibisyi.
Syeikh Thaha Dasuqi Hibisyi wafat pada Sabtu, 5 Desember 2020 kemarin. “Telah padam salah satu pelita ilmu,” ucap Grand Syekh Al-Azhar atas kepergian dosen akidah filsafat dan anggota Dewan Ulama Senior Al-Azhar itu. Meski sudah berpamit duluan menemui Allah SWT dan kekasih-Nya, sepatutnya kita harus terus mengingat wasiat beliau kembali,
“Wahai anakku, ilmu itu menghubungkan kekasih dengan ahli-Nya. Jika memang diperkenankan bagiku untuk kembali ke tempat ini dan bertemu lagi dengan kalian, maka terjadilah. Tetapi jika Allah SWT meminta sebaliknya, maka semoga kelak kita berjumpa kembali di surga-Nya.”















Please login to comment