Imam Suyuthi telah dikaruniai kelihaian menulis sejak usia belia. Pada umur 15 tahun, beliau sudah menulis sebuah risalah yang isinya cukup berat, menjelaskan tentang basmalah dan isti‘adzah, berjudul Riyadh al-Thalibin fi Syarh al-Basmalah wal al-Isti‘adzah. Kitab ini diperlihatkan kepada gurunya, al-‘Allamah al-Bulqini, yang kemudian menuliskan kata pengantar di sana. Kata pengantar inilah, menurut pengakuan Imam Suyuthi, yang menjadi sebab beliau membiarkan kitab tersebut tetap ada. Seandainya bukan karena itu, mungkin sudah beliau hapus tulisan tersebut.
Di antara kitab yang beliau tulis pada masa mudanya adalah Syarah Alfiyah Ibnu Malik, yang berjudul al-Bahjah al-Mardhiyah. Saya tidak tahu pasti pada usia berapa Imam Suyuthi menulis kitab ini. Saya pernah mendengar bahwa beliau menulisnya pada usia 20 tahun, ada juga yang mengatakan pada usia 18 tahun.
Di akhir kitab, beliau hanya menuliskan:
فدونك مؤلفا كأنه سبيكة عسجد، أو در منضد، برز في إبان الشباب، وتميز عند صدور أولي الألباب
“Maka ambillah olehmu sebuah karya yang seperti potongan emas, atau berlian yang tersusun rapi; yang lahir di masa-masa muda, dan memiliki keistimewaan di hati para pemilik akal.”
Dari pernyataan ini, Imam Suyuthi hanya menjelaskan bahwa kitab tersebut beliau tulis pada masa mudanya.
Syarah Alfiyah yang beliau tulis tergolong tipis, tetapi setiap kata yang beliau pilih sarat makna, mirip dengan gaya Imam Mahalli ketika menulis kitab. Setiap diksi yang beliau gunakan pasti memiliki alasan yang jelas.
Di akhir kitab, beliau menuliskan pula:
ربما خالفت الشراح في بيان تأويل حكم، أو تعليل، فحسِبه من لا اطلاع له ولا فهم سهوا أو عدولا عن السبيل.
“Aku terkadang berbeda dengan para penulis syarah Alfiyah lainnya dalam menjelaskan takwil hukum atau alasan hukum, lalu dikira oleh orang yang tidak memiliki bacaan luas dan pemahaman mendalam bahwa apa yang aku tulis merupakan kesalahan atau penyimpangan dari jalan kebenaran.”
Artinya, Imam Suyuthi dalam menulis Syarah Alfiyah ini tidak sibuk dengan sekadar mengutip. Ia membaca seluruh syarah yang beliau dapati, lalu memilih penjelasan hukum yang paling baik dan alasan yang paling kuat yang terkadang tampak berbeda dari penjelasan para syarih lainnya. Bayangkan saja, di usia semuda itu beliau sudah membaca banyak syarah Alfiyah dan mampu menyimpulkan hal-hal baru secara mandiri.
Karena ketelitian dan kekuatan diksi yang digunakan oleh Imam Suyuthi, orang-orang Kurdi di Irak dan kalangan Syiah dalam mengaji Alfiyah memberikan perhatian lebih kepada kitab ini dibandingkan dengan Syarah Ibnu ‘Aqil atau Makudi.
Di antara ulama Irak yang menulis Hasyiah atas kitab ini adalah guru dari guru kami, Syaikh Abdul Karim Daban al-Tikriti, dalam dua jilid. Sementara di kalangan Syiah, salah satu yang menulis Hasyiah atas kitab ini adalah Abu Thalib al-Mir Dza. Menurut guru kami, Syaikh Abdullah Irbil, Hasyiah ini merupakan yang paling kuat atas Syarah Alfiyah karya Imam Suyuthi. Fakta menariknya, penulis Hasyiah tersebut merupakan seorang Syi‘ah Rafidhah, tetapi di dalam karyanya tidak terjadi tahrif terhadap isi kitab.
Namun, di tempat lain, sebagian kalangan Syiah ketika menulis syarah atau catatan atas kitab Syarah Imam Suyuthi, terkadang melakukan perubahan pada matan Alfiyah, karena tidak setuju dengan contoh-contohnya.
Sebagai contoh, guru saya pernah bercerita bahwa ketika seorang Syiah menulis Hasyiah atas Alfiyah dan sampai pada bab Kana, yang semula berbunyi:
ترفع كان المبتدا اسما والخبر
تنصبه ككان سيدا عمر
dengan contoh “Kana” yang bermakna ‘Umar adalah seorang tuan (sayyid), mereka tidak setuju lalu menggantinya menjadi:
ترفع كان المبتدا اسما ما يلي
تنصبه ككان سيدا علي
yakni contoh yang bermakna ‘Ali adalah seorang tuan.
Tidak hanya itu, di akhir bab Fa‘il, Ibnu Malik berkata:
وشاع نحو خاف ربه عمر
وشذ نحو زان نوره الشجر
Contoh pertama bermakna ‘Umar takut kepada Tuhannya. Namun, kalangan Syiah men-tahrif-nya dan menggantinya dengan:
وشاع نحو خان ربه عمر
yang berarti “Umar berkhianat kepada Tuhannya.”
Hal ini terdapat dalam Hasyiah Bahjah al-Mardhiyah karya Sayyid Shadiq al-Syirazi, yang dicetak oleh Dar Nur al-Shabah.















Please login to comment