Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
KisahKomik

Bukan Arjuna Wiwaha; Perjalanan Cinta Arjuna

Avatar photo
9
×

Bukan Arjuna Wiwaha; Perjalanan Cinta Arjuna

Share this article
Bukan Arjuna Wiwaha; Perjalanan Cinta Arjuna
Bukan Arjuna Wiwaha; Perjalanan Cinta Arjuna

“Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu baik bagi kalian dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu, padahal itu buruk bagi kalian. Allah Mengetahui, sedangkan kamu sekalian tak mengetahui.” (QS al-Baqoroh ayat 216)

Setelah hampir selesai masa pengasingan para Pandawa, mereka hendak menyamar menjadi sosok-sosok yang berbeda di kerajaan Wirata. Nama-nama penyamaran mereka disesuaikan dengan keahlian dan keterampilan masing-masing. Yudistira menyamar menjadi Kanka yang ahli agama. Bima merubah namanya menjadi Ballawa, seorang juru masak istana. Lalu Arjuna merubah dirinya menjadi sosok perempuan cantik yang akan menjadi juru tari istana. Lalu Nakula menyamar sebagai Grantika, penjaga kuda. Sedangkan Sadewa menyamar menjadi Tantripala, pengurus ternak sapi.

Arjuna sengaja menyamar menjadi Wrehatnala karena untuk mengenang kekasihnya; Urwasi. Ilmu tari yang ia peroleh adalah berasal dari latihan mereka berdua. Entah karena penyakit apa, Urwasi tiba-tiba meninggal dunia. Hal ini membuat luka yang mendalam bagi Arjuna. Hatinya oleng, sehingga membuat ia murung beberapa bulan. Untung ada Ibu dan saudara-saudaranya yang selalu menemani. Sehingga jiwanya bisa pulih. Keahlian tariannya, ia manfaatkan dengan cara berdandan diri sebagai perempuan secantik Urwasi.

“Lihatlah sekarang Urwasi, aku menjadi dirimu. Kamu sudah menyatu denganku dalam rupa dan tari. Oh Urwasi…aku merindukanmu.” Batin Arjuna, saat bercermin melihat mukanya di kaca. Air matanya mengalir.

Saat kokok ayam kelima sebelum mentari terbit. Para Pandawa menuju ke kerajaan Wirata. Hutan Kamiaka dan kerajaan Wirata jaraknya tak terlalu jauh. Ketika matahari sudah sampai tingginya kira-kira satu tombak, mereka sudah sampai di gerbang istana. Mereka pun bertemu penjaga gerbang.

“Hey…berhenti! Kalian siapa? Ada urusan apa kalian datang ke kerajaan ini?” Ujar penjaga gerbang kepada mereka berlima.

“Kami adalah para pengelana yang ingin mendaftar kerja di kerajaan Wirata ini.” Ujar Kanka yang sebenarnya adalah Yudistira.

“Saya adalah Kanka yang ingin menjadi penasehat agama sang raja. Sedangkan ini Ballawa yang ingin mendaftar sebagai juru masak kerajaan. Lalu satu-satunya adik perempuan kami; Wrehatnala adalah juru tari yang handal. Kemudian ini Grantika yang  ahli dalam mengurus kuda. Dan adik kami yang terakhir; Tantripala yang pandai sekali beternak sapi.” Lanjut Kanka memperkenalkan diri mereka.

“Baiklah, kalian boleh masuk ke istana. Dan jangan sekali-kali bikin onar.” Kata penjaga gerbang setelah menyelidiki mereka. Karena tak membawa senjata tajam dan dianggap tak membahayakan, mereka pun diizinkan masuk.

Sesampainya di istana, Kanka memperkenalkan diri dan adik-adiknya kepada sang raja. Dia pun mengutarakan maksud mereka. Raja pun memperhatikan dan menyelidiki satu persatu dari mereka.

“Kalian sepertinya orang-orang yang baik dan terampil. Baiklah sekarang tunjukkan kepadaku keahlian kalian masing-masing.”

Merekapun diuji satu-satu di depan raja.

Kanka menyampaikan beberapa pemahaman agamanya dengan diuji beberapa pemuka agama istana di depan raja.

Lalu Ballawa, ia pun masuk ke dapur untuk menyajikan Payasam, Samvaya, dan Sashkuli. Payasam adalah puding atau bubur beras yang direbus perlahan dalam susu murni lalu ditambah gula tebu atau jaggery (gula aren India). Sedang Samvaya adalah kudapan manis dari adonan tepung terigu dan susu yang digoreng dalam ghee (minyak samin). Lalu Sashkuli merupakan penganan atau kue bundar pipih yang terbuat dari tepung beras atau jelai yang direbus dalam air gula. Ballawa mencoba memasak hidangan-hidangan itu sebaik mungkin. Saat matang, ia menyajikannya ke hadapan raja, lalu dia dan ahli masak lainnya mencicipi masakan-masakan itu.

Tiba saatnya Wrehatnala tampil menarik di hadapan Baginda raja. Ia menarikan tarian buatannya sendiri saat berwujud Arjuna dengan diberi nama Mayilpeeli Thookkam. Baginda raja dan putrinya Utari terpesona sekali melihat tarian Wrehatnala tersebut.

Kemudian Grantika dan Tantripala diajak menuju kandang istana untuk diuji kemampuan mereka dalam mengurus kuda dan sapi.

Selesai masa pengujian itu, raja pun puas dengan kemampuan masing-masing mereka berlima. Akhirnya mereka diberi kamar masing-masing di kawasan komplek istana.

Setelah mendapatkan kamar masing-masing, merekapun beristirahat menghilangkan penat seharian.

Keesokan harinya. Tepat setelah fajar terbit, dan burung-burung saling sahut bersiulan. Arjuna sengaja bangun lebih awal untuk berdandan secantik mungkin sebagai Wrehatnala. Dan tiba-tiba saja suara daun pintu terdengar kencang karena digedor berulang-ulang.

“Guru…Guru…Apakah Anda sudah bangun?” Arjuna yang baru saja selesai berdandan dibuat kaget karena gedoran itu. Ia sampai lupa untuk menyesuaikan nada bicaranya. “I..oh..hmmm iyaaa…siapa ya?” Ia liukkan nada bicaranya semerdu saat Urwasi bicara. “Aku Guru..Utari…Aku sudah tak sabar untuk menari.” Teriak Utari dari luar daun pintu. “Ah…Tuan Putri…tunggu sebentar.” Dengan gemulai Arjuna melangkah membuka pintu. Dan tiba-tiba terdengar tawa membahana dari mulut Utari; “Hahahaha…Guru…apa yang Anda pakai ini? Guru memakai Dhoti Kurta? Itu kan untuk laki-laki Guru?” Arjuna beruntung, penyamarannya ternyata tidak diketahui oleh Utari, ia hanya curiga dengan cara berpakaiannya :”Lho kita ini mau menari Bedhaya Mintaraga yang butuh banyak gerak. Jadi pakaiannya harus begini tuan putri. Dalam tari, semua bisa menjadi siapa saja. Justru tuan putri yang harus pakai Dhoti Kurta sekarang. Sama seperti aku!” Jelas Wrehatnala dengan tangan dan nada bicara yang melambai-lambai. “Oh begitu ya Guru..yasudah aku tak ganti baju. Guru tunggu aku di taman istana ya. Kita belajar di sana.”

Wrehatnala pun pergi ke taman istana. Suasananya begitu nyaman sekali. Udara sejuk disertai bau harum bunga mawar dan melati yang mengelilingi. Di atas cabang-cabang pohon yang berdiri gagah, banyak sekali burung yang bertengger dan melompat dari ranting ke ranting sambil bersahut-sahutan kicau. Ada burung gereja, kenari, dan yang paling terkesan oleh Wrehatnala adalah kicau burung perkutut. Sungguh memanjakan telinga. Di tengah-tengah taman itu ada bangunan yang dinamakan Baradari, tempat raja dan keluarganya biasanya bercengkrama. Sepertinya di tempat itulah, Wrehatnala dan putri Utari akan melakukan latihan. Ia akhirnya bergegas menuju gedung mungil berbentuk persegi empat itu. Tempatnya luas, dengan beberapa jendela terbuka tanpa daunnya. Sepertinya tepat untuk latihan tari. Sambil menunggu Dewi Utari, Wrehatnala menuju jendela sambil melihat kolam yang ada di sekitar Baradari, ia melihat beberapa unggas yang berenang di atas air kolam, uniknya ada satu unggas yang berwarna hitam. Ia amati gerak-gerik unggas-unggas itu terutama unggas yang berwarna hitam, sepertinya bisa untuk inspirasi gerak tariannya nanti. Dan tiba-tiba: “Hayo…Guru lagi ngapain?” Gertak Dewi Utari yang memang agak sedikit usil karena masih remaja. “Oh…maaf Tuan Putri, hamba hanya memperhatikan gerak-gerak para unggas itu. Sepertinya menarik kalau kita masukkan dalam tarian kita.” Jawab Wrehatnala dengan sedikit gugup. “Aku sudah ganti baju Guru. Apakah sudah pantas untuk latihan tari kita hari ini? Tarian Bedhaya Mintaraga ya?” Kata Utari centil memperlihatkan baju yang barusan ia ganti.”Iya Putri…pakaian itu cocok untuk latihan tari hari ini.”

Akhirnya latihan tari pun dimulai.

Setelah tujuh hari berlatih, Dewi Utari sangat gembira sekali telah menguasai Bedhaya Mintaraga. “Akhirnya..aku bisa menguasai tarian ini Guru. Aku murid yang pandai kan Guru?” Tanya Utari. Dan yang ditanya hanya menganggukkan kepala dengan gemulai, padahal sejatinya ia adalah pria. “Iya…Tuan Putri pandai sekali. Biasanya tarian ini bisa dikuasai dalam dua atau tiga minggu. Tapi Tuan Putri bisa menguasainya dalam seminggu saja.” Lanjut Wrehatnala. “Ya kan…aku murid yang pandai. Lalu tarian apalagi Guru yang harus kita pelajari lagi? Hmmm…tapi…tapi…aku mau tunjukkan tarian Bedhaya Mintaraga ini ke sahabatku; Wara Subadra. Bagaimana Guru?” Tanya Utari lagi. “Dia pasti kaget aku bisa menari sebagus ini.” Terusnya. “Wara Subadra? Siapa dia?” Tanya Wrehatnala. “Masa sih Guru gak tahu dia? Dia loh putri Kerajaan Mandura yang kecantikannya sudah tersohor di penjuru bumi ini Guru!” Jawab Utari. “Kerajaan Mandura? Sepertinya kerajaan itu bisa aku ajak bermitra untuk menyusun kekuatan. Bukankah di sana ada Khrisna?” Batin Arjuna saat mendengar kata Mandura. “Oh bagus sekali Tuan Putri. Saya setuju, asal Paduka Raja juga menyetujui. Tapi syaratnya saya harus ikut! Barangkali Dewi Wara Subadra juga ingin ikut latihan tari.” Kata Wrehatnala. “Baiklah kalau begitu saya akan minta restu kepada Ayahanda.”

Raja setuju dengan permintaan Utari asalkan tidak lebih dari sebulan. Dan merekapun berangkat menuju kerajaan Mandura. Di perjalanan Utari sangat gembira sekali karena sebentar lagi akan bertemu dengan teman baiknya. Begitu juga dengan Arjuna, dia senang karena misi para Pandawa untuk menyusun kekuatan sedikit terbantu oleh usul Utari. Namun, mereka berdua tak tahu bahwa nasib tragis dimulai saat ini. Nasib di mana Arjuna akan berhadapan dengan Burishrawa. (Bersambung)

Tabik,

Sidokumpul, Kamis 29 Oktober 2026

 

 

 

 

Kontributor

  • Redaksi

    Sanad Media adalah sebuah media Islam yang berusaha menghubungkan antara literasi masa lalu, masa kini dan masa depan. Mengampanyekan gerakan pencerahan melalui slogan "membaca sebelum bicara". Kami hadir di website, youtube dan platform media sosial.